Tingkatan Berpuasa

09 Mei 2020 12:42 WIB | dibaca 139 | oleh: 'Aisyiyah (Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

TINGKATAN PUASA

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا

Segala puji hanya milik Allah. Dzat yang telah memberi kita kenikmatan memiliki lisan dan dua bibir. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ya Allah, limpahkanlah salawat dan keselamatan kepada utusan-Mu Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya semua. Aamiin.

Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (2) ayat 183–184

Artinya :

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. [Q.S. al-Baqarah (2): 183]

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka siapa yang di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi seorang miskin. Tetapi siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui[Q.S. al-Baqarah (2): 184]

Puasa dalam agama Islam ditujukan sebagai ritual ibadah secara perorangan/pribadi-pribadi dan tidak bisa diwakilkan pada orang lain. Puasa Ramadhan adalah menjadi kewajiban  bagi orang muslim, yang dilaksanakan sebulan penuh (29 atau 30) hari sesuai dengan perhitungan bulan. Motivasi orang muslim menjalankan puasa adalah karena perintah Allah, dan selaku manusia yang beriman wajib mentaatinya.

Adapun tujuan berpuasa adalah agar manusia taat terhadap apa saja yang diperintahkan dan menjauhi apa saja yang dilarang oleh Allah, yaitu membentuk manusia “taqwa” [Q.S. al-Baqarah (2): 183]. Dengan puasa manusia dilatih dan dibiasakan agar bersifat “sami’na wa atha’na”, ya kami mendengar dan kami melaksanakan sebagaimana tertulis dalam Q.S. al-Baqarah [2] ayat 285

 “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya, dan mereka mengatakan : “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.

Ibadah puasa adalah sarana latihan dan pembiasaan keagamaan yang bersifat praktik langsung, dan bukan hanya bersifat teori. Karena puasa itu harus menahan makan, minum, dan jima’ mulai adzan Shubuh sampai adzan Maghrib, dan ini merupakan ibadah yang bersifat jasmani. Sementara ibadah yang bersifat ruhani adalah menjauhkan dan meninggalkan semua bentuk maksiat, yang berkaitan dengan mata, mulut, tangan, kaki, bahkan maksiat hati. Mata dijauhkan dari melihat hal-hal yang porno, tulisan atau gambar yang tidak baik, mulut tidak berkata kotor, berbantahan, ghibah, tangan digunakan untuk banyak membantu orang lain, hati tetap dijaga agar tidak banyak su’udzan, dengki, iri hati, dan lain-lain.

Imam Al-Ghazali membagi puasa ke dalam tiga tingkatan yaitu,

Pertama, puasa tingkat umum, yaitu puasa sekedar memenuhi definisi/ pengertian arti puasa, yaitu menahan mulut dari berbagai makanan dan minuman/ tidak makan dan minum serta menahan farji (kemaluan) dari hubungan suami istri (jima’) mulai adzan shubuh sampai adzan maghrib. Dengan kata lain sekedar menggugurkan kewajiban puasa secara jasmaniyah, dan menggugurkan dosa jika tidak puasa.

Kedua, puasa tingkat khusus, yakni seluruh anggota badan juga harus dipuasakan atau menahan anggota tubuh dari segala perbuatan dosa/maksiat. Kaki hendaknya tidak berjalan ke tempat maksiat, tangan dijaga agar tidak berbuat dosa, mencuri, dll. Menjaga mulut agar tidak mengucapkan kata-kata kotor, mengeluarkan ucapan yang dilarang Allah, baik dalam bentuk mengumpat, menggunjing, berbohong, ghibah, dll. Telinga perlu dijaga dari mendengarkan hal-hal yang terlarang, mengundang dosa. Demikian juga menjaga mata dari melihat hal-hal yang tidak baik, yang bisa membawa fitnah dan dosa.

Ketiga, puasa tingkat tinggi, yaitu selain menjaga seluruh penggal-penggal anggota badan (bersifat jasmaniyah) maka perlu menjaga hati dari pikiran yang bersifat ruhaniyah. Hati dan pikiran harus dijaga untuk selalu mengingat Allah swt dengan semua sifat-sifatnya (asmaul husna) dan hari akhir yang bisa mengingatkan untuk selalu berbuat baik dan menghindari hal-hal yang rendah di mata Allah. Termasuk juga terlalu banyak berpikir tentang urusan dunia, sehingga melupakan urusan amalan untuk kehidupan akhirat. Pada puasa tingkatan tertinggi ini,  selain mulut menahan makan dan minum serta menjaga farji dari berhubungan seksual pada siang hari, juga harus menjaga semua organ tubuh dari perbuatan maksiat, dan juga menjaga hati dan pikiran agar tetap bersih dan selalu mnegingat Allah.

Menjalankan puasa pada tahun ini akan dilewati dengan suasana prihatin dan. penuh dengan ujian bersamaan  mewabahnya Covid-19. Hal ini berdampak pada krisis ekonomi, kesehatan, pekerjaan, hubungan sosial dalam masyarakat. Demikian juga dalam beribadah, ada pembatasan-pembatasan untuk ibadah shalat fardlu lima waktu dan jamaah shalat taraweh di masjid, mushala, dll. Pengajian-pengajian, kegiatan takjilan, tadarus Al-Quran, Nuzulul Quran, kajian agama, terpaksa tidak dapat diselenggarakan. Semuanya harus dilakukan di rumah. Hal demikian tentunya menimbulkan perasaan yang berbeda.

Marilah kita semua bermunajad kepada Allah agar bisa menunaikan kewajiban puasa dan amalan-amalan ibadah yang lain dengan sebaik-baiknya untuk mencapai derajad puasa (yang tertinggi) sesuai dengan perintah dalam Al-Quran, yaitu menjadi manusia yang taqwa walaupun dalam situasi prihatin. Semoga Allah memberikan kepada kita semua kekuatan, kesehatan dan tetap istiqamah di jalan Allah aamiin.