Shalat Tarawih Sesuai Tuntunan Nabi Muhammad Saw Dikerjakan 11 Rakaat dengan Witirnya

19 Mei 2018 10:36 WIB | dibaca 341 | oleh: 'Aisyiyah

(Sumber Gambar: www.an-najah.net)

Hari pertama Ramadan tentu pasti banyak pertanyaan soal manakah shalat tarawih yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Beberapa masjid masih menerapkan shalat 23 rakaat, ada juga yang 11 rakaat, manakah yang harus diikuti.

 

Fatwa tarjih 15 Desember 2006 tentang shalat tarawihmenjelaskan bawah shalat tarawih 23 rakaat, sekalipun sudah begitu memasyarakat, Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) belum menemukan tuntunan dari Rasulullah saw.

Shalat tarawih menurut tuntunan Nabi saw adalah hanya dikerjakan 11 dengan witirnya, dikerjakan empat rakaat lalu salam tanpa tahiyyat awal, kemudian empat rakaat lalu salam, dan ditutup dengan shalat witir tiga rakaat lalu salam.

Sepanjang penelitian Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadits-hadits yang menerangkan tentang shalat tarawih 23 rakaat adalah lemah atau dla’if,. Shalat tarawih 23 rakaat, bahkan menurut Imam Malik 36 rakaat, adalah ijtihad ulama dan dipegang oleh sebahagian ulama atau hanya berpegang kepada hadits dla’if yang diperselisihkan oleh para ahli hadits.

Muhammadiyah sesuai manhaj yang dipegangnya, dalam masalah shalat tarawih berpegang kepada hadits Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. dan lain-lainnya yang shahih, tidak merujuk kepada pendapat ulama. Di antara hadits-hadits itu antara lain adalah:


عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى

إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً 

 [رواه البخاري ومسلم] .

Artinya: Dari Abi Salamah Ibnu Abdir-Rahman (dilaporkan) bahwa ia bertanya kepada Aisyah tentang bagaimana shalat Rasulullah saw di bulan Ramadan. Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunnat (tathawwu‘) di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat.Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi tiga rakaat ... [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Karena shalat tarawih itu ibadah mahdlah, kita harus ittiba’ kepada Rasulullah saw.Bahkan Imam asy-Syafi'i berkata: “Apabila hadits itu shahih, itulah pendapatku”

Lalu bagaimana Shalat Tarawih dan Witir yang 4, 4, dan 3 raka’at dalilnya kalah kuat dengan yang 2, 2, 2, 2, dan 3 raka’at. Sehingga jama’ah yang biasanya melakukan shalat Tarawih 4, 4, dan 3 raka’at tidak mau berjama’ah lagi.

Dalam HPT cetakan ketiga telah dimuat keputusan Muktamar Tarjih di Wiradesa tahun 1392 H/ 1972 M. Dalam Muktamar diputuskan tentang shalat Lail berdasarkan dalil-dalil yang lebih luas.

Shalat Lail dapat dilakukan empat raka’at – empat raka’at lalu tiga raka’at juga dilakukakan dua raka’at – dua raka’at kemudian tiga raka’at yang semuanya berjumlah 11 raka’at, sesudah dilakukan shalat Iftitah dua raka’at.  

 

Wallahu a’lam bishshawab

Sumber Rujukan:

  1. Disidangkan oleh tim Fatwa MTT pada hari Jum’at, 24 Zulqa'dah 1427 H / 15 Desember 2006 M.
  2. Majalah Suara Muhammadiyah No. 24 tahun ke-82/1997
  3. Buku Tanya Jawab Agama Jilid 1, Suara Muhammadiyah, 2015: 92-94.