Penggambaran Proses Reproduksi Biologis dalam Al-Qur’an

23 November 2015 15:48 WIB | dibaca 2365 | oleh: Aisyiyah

Ilustrasi : Motivator Kesehatan Reproduksi dari Pangkep sedang memaparkan informasi seputar Kanker Serviks (Foto : ‘Aisyiyah Pangkep)

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Melanjutkan pembahasan sebelumnya, isu reproduksi dalam Qur’an sudah dibahas dalam beberapa ayat. Sebagai sumber ajaran, Qur’an memberikan tuntunan bagaimana seharusnya manusia menghormati hak reproduksi perempuan. Dalam kaitannya dengan proses reproduksi, Qur’an menggambarkan sebagai berikut :

 

Al-Mukminun/ 23 : 12-14 :

“ (12) Sungguh Kami telah menciptakan manusia dari sari pati tanah . (13) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (14) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu sgumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka maha sucilah Allah, Pencipta yang Paling Baik.

 

As-Sajdah/32 : 6-9 :

“ (7) Dan segala sesuatu yang diciptakan-Nya dibuat-Nya dengan sabaik-baiknya, dan dimulainya menciptakan manusia dari tanah. (8) Kemudian ia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (9) Kemudian Ia membentuknya dan meniupkan ke dalamnya sebagian dari ruh-Nya, dan dijadikannya untuk kamu pendengaran, penglihatan dan hati (pikiran dan perasaan). Sedikit sekali kamu bersyukur.

 

Para mufassir menyimpulkan bahwa ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang proses penciptaan manusia meliputi penciptaan manusia (pertama) yang dicipta Allah SWT dari “tin” (tanah) [as-Sajdah/32 : 7]. Pencipta manusia berikutnya melalui proses yang bertahap :

 

Diawali dengan sulalah min tin (sari pati tanah) yaitu sprema (laki-laki) dan Ovum (sel telur pada rahim perempuan). Pada ahli tafsir umumnya menjelaskan bahwa yang dimaksud sari pati tanah di sini adalah zat-zat dan mineral yang paling esensial dalam pembentukan manusia yang bersumber dari makanan/minuman yang berasal dari tanah.

 

Kemudian Nutfah. Bertemunya sulalah min tin berubah menjadi nutfah yang dalam istilah medis disebut sel. Pada mulanya Nutfah berwujud satu sel yang kemudian membelah secara sempurna menjadi dua, empat, delapan, dan seterusnya. Sela yang telah membelah berjalan secara perlahan melalui tuba fallopi, menuhu rahim.

 

‘AlaqahSetelah menempel di dinding rahim, sel itu berubah menjadi ‘Alaqah (zygote). Istilah ‘Alaqah biasa diterjemahkan dengan segumpal darah yang menggantung. Penggunaan istilah tersebut oleh ahli tafsir dianggap sangat tepat, karena posisi zygote mnggantung di dinding rahim yang menggumpal seperti segumpal darah.

 

Mudghah (embrio), merupakan proses perkembangan lebih lanjut dari zygote yang telah berubah bentuknya seperti sekerat daging. Kemudian tumbuh ‘ilaman (tulang) yang selanjutnya dibungkus lahman (daging).

 

Khlaqan akhar (Janin). Proses selanjutnya setelah embrio berubah sempurna menjadi janin. Wujud ini menuru para ahli tafsir berbeda dengan kondisi awal terjadinya manusia ketika masih berupa zygote.

 

Setelah berbentuk janin yang secara fisik sempurna, para ahli tafsir meyakini Allah kemudian meniupkan ruh ke dalam janin. Setelah itu, dalam perspektif Qur’an sebagaimana umumnya diyakini ahli tafsir, lengkaplah proses reproduksi manusia di dalam rahim perempuan.

 

Menurut pandangan ahli tafsir, setelah hidup dalam rahim selama kurang lebih 9 bulan sepuluh hari, janin itu lahir ke dunia memasuki masa bayi. Allah melengkapi dengan potensi fisik yaitu pendengaran, penglihatan, hati (as-sam’, al-abshar, dan al-afidah). Selain itu, Allah juga membekali bayi yang baru lahir dengan potensi fitrah yaitu potensi tauhid atau beragama. Dalam hal ini, Nabi Muhammad Saw bersabda :

 

“ Setiap bayi, dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Imam bukhari dari Abu Hurairah).

 

Hadist itu menjelaskan bahwa reproduksi manusia tidak terbatas pada proses reproduksi biologis tetapi juga reproduksi sosial. Reproduksi sosial itu kadangkala jauh lebih berpengaruh dari pada reproduksi bilogoisnya.    

 

Sumber : Booklet Kesehatan Reproduksi Menuju Keluarga Sakinan yang diterpitkan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Maret 2014