Merawat Api Keimanan Pasca Ramadan

14 Juni 2019 11:52 WIB | dibaca 502 | oleh: Nofri Hartini Tanius (Anggota Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

Ramadan baru saja berakhir. Bagi seorang muslim, Ramadan merupakan sebuah pesta ibadah. Dalam bulan itu Allah menyajikan jamuan berbagai macam menu bernilai ubudiyah tinggi kepada hamba-hambaNya. Ramadan juga berbeda dari bulan-bulan lainnya. Pada bulan itu setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, seperti yang terdapat dalam hadits:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار، وصفدت الشياطين

Artinya:

“Jika Ramadan telah tiba, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelengggu” (H.R. Bukhari no. 2377, Muslim no. 1079)

Mampu menikmati ibadah pada bulan Ramadan dengan penuh semangat, terutama ibadah puasa, merupakan sebuah kesyukuran dan anugerah bagi orang-orang beriman. Pasalnya, balasan bagi mereka yang ikhlas berpuasa di bulan ini adalah mendapatkan ampunan dari Allah swt. Sesuai dengan hadits berikut:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahal dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni (H.R. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760)

Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita selama bulan Ramadan yang lalu dan mengampuni semua khilaf dan dosa kita semua.

Pada bulan Ramadan, banyak dari kita yang sukses menyalakan dan mengobarkan api keimanan di dalam dada. Kita dapat melihat bagaimana masjid-masjid terpenuhi barisan shalatnya, bahkan banyak masjid yang tidak dapat menampung jamaah yang akan melaksanakan shalat tarawih di malam hari dan shalat subuh di pagi hari. Begitupun setelah selesai shalat, banyak jamaah yang tidak langsung meninggalkan masjid, tetapi mereka membuka mushaf dan bertadarus.

Tidak hanya ibadah-ibadah pribadi saja yang tumbuh subur di bulan Ramadan, ibadah-ibadah yang mengandung jiwa sosial juga sangat meningkat di bulan mulia tersebut. Kita dapat dengan mudah menemui orang yang bersedekah, dan membagikan makanan bagi sesamanya, termasuk untuk sajian berbuka puasa maupun sahur. Kaum muslimin juga lebih mudah untuk saling memaafkan, menahan emosi, menahan amarah, serta melakukan ibadah sosial lain yang menjadikan ikatan persaudaraan sesama menjadi lebih kuat.

Pasca Ramadan ini, ada yang perlu menjadi perhatian kita semua, yaitu meng-istiqamahkan amal ibadah dan nilai-nilai positif yang menyala berkat aktivitas ibadah yang meningkatkan iman dan ketakwaan. Jangan sampai seiring dengan berakhirnya Ramadan, berakhir pula nyala dari nilai-nilai positif yang tumbuh itu. Sebelas bulan berikutnya yang datang setelah Ramadan harus menjadi refleksi positif dari nilai-nilai ibadah yang telah dikembangkan. Sebelas bulan yang hadir kemudian merupakan medan praktik untuk diterapkannya pembelajaran yang sudah dilalui selama Ramadan. Dengan kata lain, semangat dan kekhusyu’an kita beribadah selama bulan Ramadan akan diuji pada sebelas bulan pasca Ramadan.

Muslim yang melewati Ramadan dengan sepenuh hati tentu merasakan nikmatnya dan manisnya iman kepada Allah swt., serta indahnya menjalani hidup yang dekat dengan Sang Pemilik Jagad Raya. Oleh karena itu, ia akan berusaha menjaga kobaran api iman di dada. Ia juga akan terus berusaha menjaga kedekatan hubungannya dengan Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Berikut uraian cara untuk mempertahankan keimanan yang telah kita pupuk di bulan Ramdan:

Pertama, menjaga shalat lima waktu dengan melakukannya secara berjamaah di masjid. Keberhasilan muslim untuk selalu memenuhi panggilan adzan selama bulan Ramadan jangan sampai hilang saat Ramadan berakhir. Shalat berjamaah sendiri memliki banyak keutamaan, di antaranya adalah Allah janjikan surga bagi orang yang menjaganya. Seperti yang disabdakan Rasulullah saw:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ افْتَرَضْتُ عَلَى أُمَّتِكَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ وَعَهِدْتُ عِنْدِى عَهْدًا أَنَّهُ مَنْ حَافَظَ عَلَيْهِنَّ لِوَقْتِهِنَّ أَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهِنَّ فَلاَ عَهْدَ لَهُ عِنْدِى

Artinya:

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, Aku wajibkan bagi umatmu shalat lima waktu. Aku berjanji pada diriKu bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktunya. Aku akan memasukkannya ke dalam surga. Adapun orang yang tidak menjaganya, maka aku tidak memiliki janji padanya (H.R. Sunan Ibnu Majah no. 1430)

Kedua, mempertahankan puasa sunnah. Puasa memiliki banyak kebaikan di dalamnya. Saat berpuasa, manusia mengurangi makan sehingga aliran darah menyempit dan badan tidak terlalu dipenuhi oleh syahwat yang ditimbulkan karena perut kenyang. Itulah sebabnya puada merupakan benteng manusia dari perilaku maksiat dan merupakan gerbang bagi manusia untuk melakukan amal shaleh.

Setelah Ramadan berlalu, ada banyak puasa sunnah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim untuk memelihara daya tahan puasanya sekaligus merawat nilai-nilai positif yang tumbuh karena rajin berpuasa. Di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Arafah, puasa Asyura, dan puasa ayyamul bidh.

Ketiga, menjaga ibadah dan amal kebaikan hingga ajal datang. Manusia membutuhkan ibadah kepada Allah sampai akhir hayatnya, seperti yang tertulis dalam QS. Al-Hijr: 99,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya:

“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).”

Mari kita perhatikan karunia Allah yang melimpah dalam tubuh kita. Allah berikan kita hak berupa jantung yang berdetak terus menerus, paru-paru yang mengembang dan mengempis, mata yang melihat, telinga yang mendengar, kaki yang berjalan, tangan yang bergerak, darah yang terus mengalir dan nikmat-nikmat lainnya. Semua itu kita terima sampai akhir hayat. Dengan demikian, hendaknya manusia memiliki kesadaran untuk selalu dan selamanya beribadah kepada Allah.

Kita hendaknya berpuasa tidak hanya di bulan shiyam. Kita laksanakan I’tikaf dan qiyamul lail tidak hanya di malam lailatul qadar. Kita pun harus terus memperbanyak sedekah tidak hanya di bulan Ramadan. Mudah-mudahan ibadah kita juga menjadi lebih khusyuk dan jiwa kita lebih dekat kepada Allah swt.

Sumber foto: google.com