Menjadi Ibu Cerdas

14 Februari 2015 16:02 WIB | dibaca 14900 | oleh: Aisyiyah

 

Ibu-ibu sekalian, merasa bahagia tidak menjadi ibu? Kira-kira apa enaknya menjadi ibu? Atau adakah menjadi ibu tidak menyenangkan?

 

Dalam keluarga, ibu lebih sering dianggap sebagai sosok yang paling dekat dan lebih dicintai oleh keluarga terutama anak-anaknya. Kenapa ya bu? Ini terkait dengan peran reproduksi seorang ibu, karena ibu yang melahirkan anak-anaknya. Ibu tentu masih ingat saat ibu mengandung dan melahirkan, betapa luar biasa perjuangan seorang ibu untuk anak-anaknya.

 

Allah dalam Q.S al-Luqman ayat 14 berfirman :

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

 

Allah secara terang telah menyebutkan bagaimana perjuangan seorang ibu sejak dari ia mengandung “ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.” Furngsi reproduksi ini tentu mempunyai dampak, seperti kedekatan emosional dan curahan kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Meski bukan hanya ibu yang menjalankan fungsi pengasuhan dalam keluarga, tapi juga sang ayah, hanya saja ibu lebih sering menjadi figut sentral dalam keluarga. Apakah ibu menyadari posisi ibu begitu strategis dalam mewujudkan keluarga impian, salah satunya bagaimana menjada agar keluarga menjadi sehat?

 

Ibu-ibu sekalian, berikut peran strategis ibu dalam keluarga :

  1. Penyedia makanan, bagaimana ibu memilih bahan makanan yang sehat agar makanan yang dikonsumsi menyehatkan tubuh anggota keluarganya, bukan sebaliknya merugikan tubuh anggota keluarganya. Misalnya ketika ibu memilih daging ayam, kenali daging ayam yang sehat. Ciri tanda daging ayam yang sehat yaitu terlihat segar, tidak berlendir, tidak berbau menyengat seperti bau zat tambahan atau busuk, kulit daging unggas tidak kering atau berubah warna di ujung sayap atau dada. Selain itu, daging terasa kenyal dan kembali ke bentuk semula setelah ditekan. Cermati dan berhati-hati jika ada yang menjual daging unggas murah (dibawah harga normal).
  2. Pengolah makanan, bagaimana ibu dapat mengolah makanan secara sehat. Setelah memilih bahan makanan yang seha, keamanan makanan yang dikonsumsi oleh keluarga juga ditentukan dari bagaimana cara kita mengolah makanan. Salah satu contoh mengolah makanan yang aman untuk dikonsumsi adalah dengan merebus ayam sampai matang sebelum digoreng atau diolah jadi bahan makanan lainnya. Dengan merebus sampai matang, bakteri yang ada dalam daging akan mati.
  3. Pengasuh dalam keluarga, artinya bagaimana ibu menjaga higienitas. Contohnya, ibu membangun kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang atau mengolah makanan dari daging unggas atau telurnya.
  4. Ibu yang cerdas, antara lain, ibu yang mengetahui apa yang harus dilakukan jika terdapat anggota keluarga yang sakit. Ibu harus memperkaya diri dengan informasi tentang apa yang harus dilakukan oleh ibu atau anggota keluarga yang lain jika salah satu anggota keluarganya sakit.
  5. Pendorong perubahan karena ibu memainkan peran strategis dalam keluarga seperti sudah disebutkan sebelumnya. Maka, ibu adalah figure yang memungkinkan terjadinya perubahan positif baik dalam keluarga maupun lingkungan di sekitarnya.

 

Dari pemaparan tersebut kita tahu betapa luar biasa peran seorang ibu dalam keluarga, tentu wajar jika Islam amat menghargai peran ibu. Demikian pengajian kali ini, semoga dapat menjadi inspirasi agar menjadi ibu yang cerdas.

 

Sumber : Buku Materi Pengajian Bagi Muballighat ‘Aisyiyah