Menggunakan Waktu Dengan Beramal Soleh

02 November 2014 16:04 WIB | dibaca 999 | oleh: Aisyiyah

 

Ilustrasi oleh Dwi Sugiyanto

 

Ibu-ibu pengajian yang dimuliakan Allah,

Pernah mendengar atau bahkan membaca Surat Al-‘Ashr?

 

Mari kita lafazkan bersama-sama ya ibu-ibu….

 

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

 

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS al ‘Ashr/103: 1-3)

 

Dalam ayat tersebut dengan jelas Allah SWT telah menegaskan bahwa manusia akan berada dalam kerugian. Tapi kemudian di ayat berikutnya, Allah member pengecualian bahwa kita punya kesempatan untuk tidak merugi. Lalu bagaimana agar kita tidak merugi? Orang-orang seperti apa yang tidak masuk ke dalam golongan orang yang merugi?

 

  1. Yaitu, orang-orang yang beriman (beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, dan takdir dan ketentuan Allah).
  2. Yaitu, orang-orang yang beramal shaleh kepada sesama, seperti bersedekah, berbuat baik, dan menolong tetangga.
  3. Yaitu, orang yang saling menasehati kepada kebenaran dengan cara yang benar. Kita diberi amanah untuk saling menasehati kepada orang tentang kebenaran dengan cara yang baik, misalnya untuk menasehati menjaga kebersihan, juga membeli makanan yang halal lagi thoyyib.
  4. Yaitu, orang yang saling member nasehat untuk bersikap sabar dengan cara sabar. Nasehat yan penting juga untuk kita sampaikan adalah bersabar ketika menghadapi cobaan yang dihadapi dalam kehidupan. Karena sesungguhnya kita belum termasuk ke dalam golongan orang yang beriman jika belum diuji kesabaran kita oleh Allah SWT.

 

Jadi siapapun orangnya, apapun jabarannya, apapun kedudukannya akan merugi kecuali mereka yang benar-benar memaknai hidupnya dengan memperhatikan waktunya untuk beramal shaleh dan beriman kepada Allah dengan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi larangannya.

 

Point penting lainnya adalah waktu sebagaimana tersebut dalam ayat yang pertama, wal’ashr. Jadi betapa pentingnya surat ini untuk mengingatkan kepada umat manusia tentang pentingnya menggunakan waktu dengan benar dan tidak boleh terlena dengan kehidupan dunia. Waktu di dunia ini terus berputar dan tidak bisa diputar ke belakang. Oleh karena itu, kita akan menjadi orang-orang yang merugi, jika tidak memperhatikan waktu kehidupan kita di dunia, asyik dengan kesenangan yang tidak bermanfaat, dan tidak memanfaatkan waktu untuk belajar.

 

Peringatan tentang waktu ini ditujukan pada semua umat manusia, agar tidak merugi dunia akhirat. Demikian halnya dengan ibu-ibu. Meskipun kita berperan di rumah sebagai ibu rumah tangga atau berperan ganda dengan bekerja juga di luar rumah, peran yang diampu oleh ibu sangatlah penting dan mulia, seperti menjaga anak-anak yang akan menjadi generasi penerus.

 

Kita harus terus belajar bagaimana mendampingi anak-anak secara cerdas termasuk terus belajar bagaimana memilihkan makanan yang sehat untuk anak-anaknya. Sebagai misal, anak-anak kita menyukai ayam. Oleh karenanya, ibu-ibu juga harus cerdas bagaimana memilihkan ayam yang sehat, dan tentu saja halal.

 

Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan keterampilan dan pengetahuan tentang makanan yang sehat dan halal? Tentu saja ibu-ibu harus membaca, mendengarkan forum pengajian, forum PKK, atau Dasa Wisma. Daripada di rumah hanya menonton sinetron di televise, lebih baik jika ibu-ibu memanfaatkan waktu dengan baik.

 

Selain itu, ibu-ibu juga diharapkan tidak segan-segan untuk mengingatkan, memberikan nasehat kepada ibu-ibu yang lain tentang ilmu yang sudah didapatkan dalam kerangka nasehat-menasehati dalam kebaikan. Jadi, member nasehat itu merupakan kewajiban kita sebagai orang muslim. Tapi ingat, bahwa harus disampaikan dengan cara yang ma’ruf (baik dan lembut). Dalam QS. Ali Imron/3:159, Allah telah mengatakan :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)

 

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran : 159)[1]

 

Nah, ini hanyalah beberapa contoh bagaimana kita semuanya sebaiknya memanfaatkan waktu sehingga kelak tidak akan merugi. Bagaimana ibu-ibu, apakah kita bisa melakukan? Dengan bismillah kita akan memulai ini dari diri kita sendiri, “ibda binafsihi”, mulailah dengan diri sendiri.

 

Disarikan dari : Buku Materi Pengajian Bagi Mubalighat

Ilustrasi oleh Dwi SugiyantoIlustrasi oleh Dwi Sugiyanto

Ilustrasi oleh Dwi Sugiyanto