Mengenal Hak-hak Konsumen I

08 Oktober 2015 15:52 WIB | dibaca 821 | oleh: Aisyiyah

 

Ilustrasi ( Foto : mida mardhiyyah)

 

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) ; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka ; mereka kekal di dalamnya ( QS. Al-Baqarah/2:275)”

 

Melihat pada ayat yang tertera, Islam jelas memberi perhatian pada kegiatan jual beli sampai pada tahap muamalah atau menyangkut hubungan antar manusia. “…. Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..”. Penggalan dari ayat dalam Surat al-Baqarah tersebut Allah telah menghalalkan kegiatan jual beli dan mengharamkan praktek riba untuk menghindarkan kedua pihak dari praktik kecurangan yang merugikan saat melakukan transaksi. Bahkan Allah menegaskan larangan riba tersebut dalam beberapa ayat lain. Salah satunya seperti dalam Surat al-Isra/17 : 35 :

 

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

 

Selain menegaskan praktik jual beli yang adil dan terhindar dari riba. Artinya, praktik jual beli mengedepankan kejujuran dari kedua belah pihak. Penjual barang/jasa dan pembelinya/penggunanya. Meskipun agama tekah jelas mengatur praktik jual beli, di lapangan tindakan curang seringkali terjadi. Di Indonesia, perilaku curang atau tidak jujur dalam praktik jual beli bisa dihindari salah satunya dengan menyadari hak konsumen. Konsumen yang mengetahui hak-haknya bisa mengontrol pelaku usaha dari bersikap sewenang-wenang kepada konsumen.

 

Berdasarkan pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, ada 9 hak yang dimiliki oleh konsumen.

 

  1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
  5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  6. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen;
  7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi/penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

 

Selain mengenal hak konsumen, kita juga perlu mengetahui kewajiban kita sebagai konsumen. Dalam pasal 5 UU no. 8 Tahun 1999 disebutkan ada 4 kewajiban yang harus diperhatikan konsumen saat melakukan transaksi.

 

  1. Membaca dan mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
  2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
  3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
  4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.

 

Demikian pemaparan mengenai hak-kewajiban konsumen yang bisa dijadikan landasan dalam praktik jual beli, terutama agar bisa terhindar dari perilaku curang dan riba dari pelaku usaha.

 

Disalin dari buku Materi Sosialisasi : Pemberdayaan Konsumen untuk Produk Unggas Sehat II