Khutbah Idul Adha 1438 H 2017 M, MEMAKNAI ESENSI IDUL ADHA, BERHAJI DAN BERQURBAN

30 Agustus 2017 18:14 WIB | dibaca 1281 | oleh: Dr H Haedar Nashir, MSi (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

 

Khutbah Idul Adha 1438 H./ 2017 M.
MEMAKNAI ESENSI IDUL ADHA, BERHAJI DAN BERQURBAN*
Oleh: Dr H Haedar Nashir, MSi



أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُهُ
اَلْحَمْدُا ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِأَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ  يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ اِلآّ اَللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ  وَأَشْهَدُ أَنَّ مُهَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ وَلآنَبِىَ بَعْدَهُ. اُوْصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَاِيآيَ بِتَقْوَي اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .  اَمَا بَعْدُ
وَقآَلَ اَللهُ تَعَآلَي فِى ا لْقُرْآنِ الْكَرِيم: إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ
اَلله ُاَكْبَرُ, اَلله اَكْبَرُ, اَلله ُ اَكْبَرُ.  3xاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ. اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرَا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَان للهِ بُكْرَةَ وَاَصِيْلاَ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ.


Alhamdulillah,  segala puji dan syukur kita persembahkan ke haribaan Allah Yang Maha Rahman dan Rahim atas segala  limpahan nikmat-Nya yang tak terbilang. Nikmat Allah itu sungguh luas melampaui samudra, lebih-lebih nikmat iman dan Islam sebagai permata paling berharga dalam hidup kita selaku Mukmin.


Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasul akhir zaman yang menjadi uswah hasanah seluruh umat manusia. Dialah Nabi  pembangun peradaban mulia dan penyebar risalah Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.


Kaum Muslimin Rahimakumullah
Pagi hari ini, kita kaum muslimin di seluruh persada Tanah Air, dengan khusyuk dan khidmat menunaikan shalat Idul Adha, mengikuti Sunnah Nabi. Semua bertaqarrub kepada Allah dengan kepasrahan diri yang tinggi guna meraih ridla dan karunia-Nya. Kita kumandangkan takbir, tahmid, dan tasbih sebagai wujud kesaksian selaku hamba yang dhaif atas Kemahaagungan, Kemahaterpujian, dan Kemahasucian Allah sebagai Khaliq Yang Maha Segalanya.


Pada Hari Raya ini, kaum muslimin juga menunaikan ibadah qurban, menaati perintah Allah dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim, sebagai wujud kesyukuran akan nikmat Allah yang tak terhinga sebagaimana  firman-Nya dalam Al-Quran:

 
إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ  إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ.


Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS Al-Kautsar: 1-3)


Semua ibadah yang kita tunaikan itu tiada lain untuk menjadikan diri kita sebagai insan Muslim, Mukmin, dan Muttaqin yang sejati guna menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dalam rengkuhan ridla dan karunia-Nya.


Kaum Muslimin Rahimakumullah
Ketika umat Islam di negeri ini menjalankan shalat Idul Adha dan berqurban, saudara-saudara kita kaum muslim sedunia sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci. Menunaikan shalat Idul Adha, berqurban, dan berhaji ketiganya merupakan amaliah ibadah kepada Allah. Setiap ibadah meski berbeda rukunnya satu sama lain, pada hakikatnya sama yaitu “bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah” dengan menjalankan segala perintah-perintah-Nya, menjauhkan larangan-larangan-Nya, dan menunaikan apa yang diidzinkan oleh-Nya.


Penghambaan setiap Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allah mengandung makna dan konsekuensi melakukan kepasrahan diri dengan tulus atau ikhlas hanya karena Allah, bukan karena lainnya. Sebuah kepasrahan yang jernih atau autentik (al-hanif) yang secara vertikal menjadikan setiap kaum beriman meneguhkan jiwa ketauhidan untuk selalu taat kepada Allah Yang Maha Esa, sekaligus merawat setiap perilaku agar tetap lurus di jalan benar dan tidak terjerembab ke jurang bathil dan kemusyrikan. Pada saat yang sama melalui ibadah itu seorang Muslim mengkhidmatkan diri untuk selalu berbuat ihsan atau kebaikan yang utama dalam kehidupan sesama dan lingkungannya.


Ajaran kepasrahan diri itu dasar dan muaranya ialah bertauhid, yakni bertuhan hanya kepada Allah dan tidak mensekutukan dengan apapun, yang harus tumbuh kokoh dalam jiwa yang fithrah (aseli, murni, suci) bagi setiap orang beriman secara jernih. Allah berfirman dalam Al-Quran:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٣٠)

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum: 30).
Dalam diri setiap manusia itu terdapat jiwa yang cenderung pada kebaikan dan itulah jiwa yang fithrah atau suci yang membawa pada ketaqwaan, sebaliknya terdapat jiwa yang cenderung pada keburukan dan itulah jiwa fujuura sebagaimana firman Allah:


وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (١٠)

Artinya: : ”Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”  (QS Asy-Syams: 7-10).


Ibadah yang kita tunaikan termasuk shalat idul adha, berqurban, dan berhaji harus dapat menyuburkan jiwa ketaqwaan sekaligus meredam atau bahkan menghilangkan nafsu keburukan. Menjaga kebersihan jiwa itu merupakan pendakian ruhaniah yang tidak mudah. Kita selaku muslim kadang bertindak lalai diri. Qalbu dan iman yang semestinya dijaga agar tetap bersih, dalam praktiknya terkontaminasi oleh dosa dan fahsyaa’. Setelah beribadah pun kadang tabiat buruk seperti mudah marah, dendam, dusta, congkak, egois, tamak, dan perangai  rendah lainnya menodai praktik hidup kita. Hendak berbuat kebaikan pun banyak hitung-hitungannya sehingga jauh panggang dari api. Dengan perisai ibadah semoga kita dijauhkan dari sifat dan perangai yang buruk itu.


Karenanya, melalui shalat idul adha, berqurban, dan berhaji maka harus ada perubahan perilaku menjadi semakin bertaqwa. Hati, sikap, ucapan, dan tindakan kita harus semakin taat kepada Allah dan ihsan kepada sesama dan dalam kehidupan sehari-hari. Jiwa fitrah yang dihidupkan dengan ibadah dapat menumbuhkan ruhani yang bersih sekaligus meredam hawa nafsu yang selalu menyala dalam diri manusia selaku insan yang hidup dalam hukum duniawi menuju kehidupan ukhrawi yang suci dan abadi.


Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Berhaji dan berqurban mengajarkan jiwa ikhlas untuk menyebarkan nilai kebajikan utama dalam hidup setiap Muslim. Ikhlas merupakan jiwa tunduk yang total kepada Allah SWT sehingga melahirkan pribadi yang tanpa pamrih dalam berbuat kebaikan. Mereka yang hidupnya ikhlas akan mampu membebaskan diri dari hasrat-hasrat sesaat, seraya melintas batas ke peran-peran utama sarat makna seperti suka menolong, berbagi, dan peduli. Mereka berbuat mulia atas nama  Allah untuk ihsan bagi kemanusiaan semesta.


Siapapun yang  berhaji dan berqurban dalam ritual Islam sejatinya menambatkan peribadatan itu pada niat ikhlas hanya untuk Allah semata sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

Artinya: “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162).
Ajaran ketulusan ditunjukkan oleh Ibrahim, Siti Hajar, dan putra tercintanya Ismail dalam kisah qurban. Allah mengisahkan dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat 101-111 yang artinya sebagai berikut: “Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaffat: 101-111).


Kini kita kaum Muslimin, apakah hidup kita semakin ikhlas? Ikhlas dalam beribadah tanpa merasa beban. Ikhlas dalam mesyukuri nikmat dengan jalan memanfaatkan anugerah Allah sebaik-baiknya. Ikhlas ketika menerima musibah baik ringan maupun berat tanpa merasa diri diabaikan Allah. Ikhlas tatkala harus berzakat, berinfaq, bershadaqah, dan berjuang di jalan Allah yang dianggap berat. Ujian keikhlasan justru terletak ketika harus berhadapan dengan hal-hal yang berat dan tidak menyenangkan, yang mengandung esensi di baliknya sebagai batu uji kesabaran, kesyukuran, dan pengabdian menuju kehidupan penuh makna selaku insan bertaqwa.


Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullahh
Ibadah qurban memang menanamkan nilai pengorbanan. Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar memberi teladan terbaik tentang praksis berkurban dengan sepenuh ketaqwaan. Allah berfirman:


لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (٣٧)

Artinya: “Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj : 37).


Apalah artinya hanya seekor hewan kurban bila dibandingkan dengan nyawa seorang Ismail yang sangat dicintai kedua orangtuanya. Maukah kita hari ini berqurban dengan seekor hewan qurban? Kenyataan kadang menunjukkan,  karena kecintaan yang berlebih terhadap harta, sebagian orang menjadi berat hati untuk berkurban dengan seekor hewan. Di antara kita boleh jadi terasa berat untuk berqurban karena hitung-hitungan uang dan harta, meski untuk seekor hewan. Padahal betapa tinggi makna dan fungsi dari ibadah qurban itu baik bagi pelaku maupun umat sesama.


Ibadah qurban mengajarkan makna amal shaleh dan ihsan. Setiap insan beriman yang memiliki kelebihan rizki dan akses kehidupan diperintahkan untuk peduli dan berbagi dengan sesama yang membutuhkan tanpa diskriminasi, tanpa membeda-bedakan. Si kaya berbagi rizki untuk si miskin. Kaum cerdik pandai berbagi ilmu kepada yang awam. Sesama manusia saling menjujung tinggi martabat. Laki-laki dan perempuan saling menghormati dan memuliakan. Siapapun yang diberi akses kekuasaan dan kekayaan yang lebih sedangkan dia beriman maka harus rela hati berkorban bagi sesama, lebih-lebih bagi mereka yang membutuhkan. Semuanya dilandasi spirit pengorbanan yang memiliki dasar pada ajaran Ilahi, yang melahirkan tindakan-tindakan berbagi dan peduli pada sesama yang mencerahkan. Menurut ajaran Nabi, “Wa-llahi fiy ‘auni al-‘abdi maa daama al-‘abdu fiy ‘auni akhihi”, bahwa Allah berada di tengah para hamba sejauh hamba-hamba itu membela dan membantu sesamanya.


Para elite dan warga di negeri yang mengaku insan beriman di mana pun berada perlu memgambil makna hakiki dari ajaran ketulusan, cinta, dan pengorbanan Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar sebagai model perilaku emas yang menebar keutamaan bagi seluruh umat manusia. Adanya segelintir orang atau kelompok yang menguasai mayoritas kekayaan negara dan menyebabkan kesenjangan sosial merupakan bukti lemahnya jiwa berkorban di tubuh bangsa ini. Luruhnya jiwa kenegarawanan yang ditandai kian menguatnya kebiasaan mengutamakan kepentingan diri dan kroni di atas kepentingan publik boleh jadi karena makin terkikisnya jiwa ikhlas berkorban sebagai kanopi suci yang diajarkan para Nabi Allah yang kaya mozaik spiritual Ilahiah itu.


Dalam kehidupan umat dan bangsa sungguh diperlukan jiwa berkorban berbasis iman untuk tegaknya kebenaran, kebaikan, kemajuan, dan segala keutamaan. Termasuk bagi mereka yang selama ini memiliki amanat kekuasaan dan memiliki kekayaan berlebih untuk berkorban demi kesejahteraan rakyat yang masih dilanda kehidupan yang dhu’afa-mustadh’afin di negeri ini. Tanpa pengorbanan dengan jiwa, pikiran, perasaan, dan perbutan yang tulus dan utama dari para elite dan warga bangsa, maka tidak mungkin tercipta kehidupan yang baik dan maju di tubuh bangsa ini dalam bingkai Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.


Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Ibadah haji dan qurban juga mengajarkan sifat cinta, yakni kasih sayang atau welas asih yang jernih terhadap sesama sebagai perwujudan cinta kepada Allah.  Nabi Ibrahim, Isa, Muhammad, dan para Rasul kekasih Allah mempraktikan hidup kasih sayang itu terhadap sesama tanpa diskriminasi. Nabi Ibrahim sempat minta kepada Tuhan agar umat Nabi Luth yang durhaka tidak diberi azab. Sifat welas asih  Nabi yang satu ini diabadikan dalam Al-Quran:

 
 إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُّنِيبٌ   (٧٥( 

Artinya: “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud : 75).


Para Nabi Utusan Allah itu sangatlah berjiwa kasih sayang. Nabi Muhammad ketika dilempari batu oleh kaum Thaif tatkala hijrah, beliau berkeberatan pada saat Malaikat Jibril menawarinya agar mereka  yang melukainya itu diberi azab. “Jangan, mereka sungguh kaum yang belum mengerti”, ujar Nabi akhir zaman itu. Dalam hadisnya beliau bersabda, yang artinya:, “Tidaklah beriman seseorang hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muslim).  Rahmat Allah pun terlimpah bagi para hamba yang menebarkan kasih sayang di muka bumi.


Pada saat ini tidak sedikit manusia tejangkiti virus egoisme, yakni sikap hanya mementingkan diri dan kelompok sendiri. Demi kepentingan golongan sendiri rela mengorbankan kepentingan sesama, bahkan terhadap sesama seiman. Aji mumpung kekuasaan tumbuh di mana-mana. Sifat kasih sayang atau welas asih seolah menjadi mutiara yang hilang untuk ditemukan kembali. Kekerasan, konflik, dan bahkan perang terjadi di sejumlah tempat dan kawasan antara lain karena menguatnya egoisme dan luruhnya kasih sayang antar sesama. Manusia seolah menjadi srigala bagi yang lainnya.


Sebagian orang beriman pun atas nama agama dan kebenaran tidak sedikit menjadi ringan tangan berbuat kekerasan, sehingga kehilangan watak kasih sayangnya terhadap sesama sebagaimana diajarkan agama dan para Nabi. Agama dan jejak Nabi yang mengajarkan kasih sayang dan kedamaian hanya menjadi ujaran dan retorika indah, sering tidak menjadi pola tindak dan keteladanan dalam kehidupan umat beragama. Saling hujat, caci maki, kebencian, dan sikap saling menyebar kenegatifan kadang terbuka di ruang publik baik antar sesama umat seagama maupun antar umat beragama dipicu oleh berbagai sebab, namun pada akhirnya bermuara pada luruhnya jiwa damai dan kasih sayang antar sesama.


Sebagian panorama kehidupan saat ini di banyak kawasan cenderung berwajah garang, konflik, dan perang. Kita prihatin dan mengecam keras tindakan Israel yang semena-mena atas Masjid Al-Aqsha dan rakyat Palestina, yang selalu menyebarkan bencana dan kerusakan di kawasan Timur Tengah. Kita juga berharap agar saudara-saudara Muslim di Rohingya dan kawasan lain yang masih berada dalam penderitaan memperoleh perlindungan Allah dan jalan keluar yang terbaik. Kita juga berharap agar Perserikatan Bangsa-Bangsa benar-benar tegas dalam menegakkan perdamaian dan tidak diskriminasi hanya karena mengikuti kemauan negara-negara adidaya yang merusak tatanan dunia yang baik untuk semua.
Kita juga prihatin dengan perkembangan dan dampak negatif media sosial. Media sosial sering menjadi ajang relasi yang kurang baik seperti mudah menebar kebencian, permusuhan, fitnah, amarah, dan ujaran-ujaran tak pantas sehingga kehilangan keadaban dan bingkai akhlaq karimah. Kekerasan terjadi di banyak ranah kehidupan. Kini insan beriman di mana pun berada diuji ketulusan dalam hidup berbasis nilai-nilai Ilahi dalam menghadapi dunia yang banyak kepentingan harta, tahta, dan pesona dunia yang serba menghalalkan apa saja. Kehidupan politik yang serbabebas, ekonomi yang serbakapitalistik, dan budaya populer yang memuja kesenangan inderawi membuat masyarakat kehilangan nilai-nilai Ilahi yang bermakna utama.


Bagi Mukmin sejati bahwa ibadah haji, qurban, dan ibadah-ibadah lainnya harus menjadikan dirinya semakin dekat dengan Allah dan berbuat kebaikan bagi sesama dalam jalinan hablum minallah dan hablum minannas  yang harmonis. Jika setiap muslim memiliki relasi hablum minallah dan hablum minannas yang baik dan seimbang, maka akan melahirkan kehidupan yang utama di dunia dan akhirat. Sebaliknya manakala hablum minallah dan hablum minannas tidak terjalin baik maka terjadi kerusakan dalam kehidupan umat manusia sebagaimana firman Allah:


ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (١١٢)

Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas” (QS. Ali Imran: 112).


Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Di akhir khutbah ini marilah kita berdo’a agar shalat Idul Adha, ibadah qurban, serta segenap ibadah kita selaku Muslim melahirkan kehidupan yang khusyuk, baik, dan utama. Saudara-saudara kita yang tengah menunaikan ibadah haji diberi kemudahan dan keberkahan oleh Allah serta bias meraih haji yang mabrur. Saudara-saudara kita di manapun berada yang memperoleh musibah agar diberi kesabaran dan anugerah Allah. Kita bermunajat kepada Allah agar hidup di dunia ini senantiasa berada di jalan-Nya, beribadah dan menjalankan tugas kekhalifahan dalam bimbingan-Nya, serta di akhirat kelak menjadi penghuni Jannatun Na’im dalam ridla dan karunia-Nya. Amin ya Rabb al-‘Alamin.


.اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَخْمَعِيْنَ
اَلّلَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبُ مُخِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَظِيَ الْحَخَاتِ يَامُجِيبَ السَّاءِلَتِ
اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
اَلَّلهُمَّ تَقَبَّلْ مِنّآ صَلاَتَنا َوَجَمِيعَ عِبآدَتِنآ بِرِضآكَ وَفَضْلِكَ الْكَرِيْم  وَتُبْ عَلَيْنآ إِنَّكَ أَنْتَ تَوَابُ الرَّحِيْمُ .
 رَبَّنآ لاَتُزِغْ قُلُوْبَنآ بَعْدَ إِذْ هَذَيْتَنآ وَهَبْ لَنَآ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ الْوَهَآبُ. رَبَّنآ هَبْ لَنَآ مِنْ أَزْوَاجِنَآ وَذُرِّيَتِنَآ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَآ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.
رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أكْبَر
 واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَاكَاتُه
 

*) Disampaikan oleh NURBINI dalam Khutbah Idul Adha tanggal 1 September 2017 / 10 Dzulhijah 1438 H.  di halaman parkir Ngaliyan Square.