'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » Materi Pengajian » Kewajiban Zakat Fitrah Bahkan Bagi Anak yang Baru Lahir
Kewajiban Zakat Fitrah Bahkan Bagi Anak yang Baru Lahir
10 Juni 2017 17:59 WIB | dibaca 177
oleh: Fatwa-Fatwa Tarjih : Tanya Jawab Agama (Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih dan Tajdid)

 

Penunaian zakat fitrah diwajibkan oleh Rasulullah saw kepada kaum Muslimim. Pada zaman Nabi saw pelaksanaannya oleh kepala keluarga untuk semua yang ditanggung, baik orang tua, anak kecil, maupun budak sahayanya. Hal ini berdasarkan Hadits mauquf bi ma’na marfu’ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits itu sebagai berikut:

Abu Sa’id al-Khudri berkata: "Keadaan kami dahulu di masa Rasulullah raw masih hidup bersama kami, kami (para sahabat) mengeluarkan zakat untuk anak kecil, orang tua, hamba sahaya maupun orang merdeka sebanyak satu sha’ dari makanan atau sha’ dari keju".

Dari lbnu ‘Umarr.a. ia berkata: ‘Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sesudah Ramadhan sebanyak satu sha ’ kurma atau gandum, atas budak, orang merdeka, laki-laki, wanita, baik kecil maupun besar, dari orang-orang Muslim. Dan Nabi saw menyuruh membagikannya sebelum orang-orang pergi shalat ‘ld” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa zakat fitrah itu diwajibkan kepada setiap orang Muslim, baik pria maupun wanita, baik hamba maupun orang merdeka, baik anak-anak maupun dewasa. Adapun batas akhir menunaikannya adalah sebelum dilaksanakan shalat ‘Id (Shalat ‘Id Fitri).

Namun perlu ditegaskan di sini bahwa kewajiban menunaikan zakat fitrah bagi budak dan anak-anak pelaksanaannya tidaklah dibebankan kepada mereka masing-masing, mengingat bahwa seperti budak dan anak-anak tidak mempunyai harta untuk membayar zakat fitrah itu sendiri, melainkan

kepada orang yang menanggung pembiayaannya. Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri:

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “ Kami (para shahabat) di kala Rasulullah saw masih berada di antara kami (maksudnya masih hidup), kami semua mengeluarkan zakat fitrahnya setiap anak kecil maupun orang tua (dewasa), orang merdeka maupun hamba, satu sha’ dari makanan, atau satu sha’ dari keju atau satu sha’ dari gandum.Atau satu sha ’ dari kurma atau satu sha ’ dari kismis. ”

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri dijelaskan lebih rinci lagi tentang makanan yang dapat dikeluarkan sebagai zakat fitrah. Hadits tersebut berbunyi:

Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “ Kita mengeluarkan zakat fitrah satu sha ’ daripada makanan pokok, atau satu sha ’ daripada gandum, atau satu sha ’ daripada kurma, atau satu sha ’ daripada keju, atau satu sha ’ daripada kismis. ”

Dan Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majjah dan al-Hakim dan Ibnu ‘Abbas r.a.:

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata: “Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan diri bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan busuk serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, maka barangsiapa yang melakukannya sebelum shalat ‘Id, maka inilah zakat yang diterima, sedangkan orang melakukannya sesudah shalat 'Id, maka itu sekedar sedekah ( tidak termasuk zakat fitrah)”

Dalam Hadits ini ditegaskan mengenai fungsi dari zakat fitrah itu yaitu pertama untuk mensucikan diri bagi orang-orang yang berpuasa dari perkataan yang sia-sia atau tercela, dan kedua adalah untuk memberimakan kepada orang-orang miskin. Pemberian makan kepada orang- orang ini diantaranya dimaksudkan agar mereka dapat merasakan kebahagiaan pada hari Raya ‘Idul Fitri tersebut.

Menurut Hadits ini jelaslah bahwa zakat fitrah itu menjadi hak penuh fakir-miskin. Dan oleh karena zakat fitrah itu sudah menjadi haknya.

Sumber: Buku Fatwa-Fatwa Tarjih : Tanya Jawab Agama
(Tim PP Muhammadiyah Majelis Tarjih dan Tajdid)

 

Shared Post:
Materi Pengajian Terbaru
Berita Terbaru