ISLAM AGAMA RAHMAT

05 Mei 2020 10:07 WIB | dibaca 1420 | oleh: Nur Hidayani, S.H., M.H (Ketua Divisi Muballighat Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah)

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

Segala puji bagi Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, walaupun orang musyrik menyebar kebencian (dengan segala tipu dayanya). Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, semoga keselamatan terlimpah curahkan kepada nabi kita tercinta,  habiibana wanabiyyana Muhammad saw, kepada keluarganya, dan para sahabat semua yang tetap istiqomah memegang ajarannya hingga hari kiamat nanti.

Allahu Akbar, Allah Maha Besar yang telah menjadikan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam. Islam diturunkan bukan hanya untuk penduduk di suatu negara seperti nusantara misalnya, atau suatu benua akan tetapi Islam sebagai agama yang diturunkan kebumi yang merupakanrahmah bagi seluruh alam (raḥmatan lial- ‘ālamīn) agar manusia bisa hidup dengan penuh kecintaan, kedamaian, serta kesejahteraansebagaimana firman Allahswt:

 

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”[Q.S. al-Anbiya(21) : 107]

 

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّة لِّلنَّاسِ بَشِيرا وَنَذِيرا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” [Q.S. Saba’(34): 28]

Islam adalah agama universal, agama yang membawa rahmah bagi seluruh alam, baik untuk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, jin, malaikat, langit, bumi yang kita tempati hingga tata surya di seluruh jagad raya ini. Islam juga mengatur seluruh lingkup kehidupan umat manusia, baik kehidupan individu, keluarga, masyarakat, bangsa maupun negara. Semua aspek telah diatur secara sempurna, seperti aspek spiritual, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, ekonomi, sosial, budaya dan politik, dan sebagainya.

Pengertian rahmah (Bahasa Arab: raḥmah) menurut Al-Asfahani adalah riqqah taqtadli al-iḥsān ila al-marḥūm(perasaan halus, kasih, yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang dikasihi).

Islam sebagaiagama rahmah,sejalan dengan sifat ketuhanan dalam Islam yang menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat rahmah (sifat kasih) sesuai  Firman AllahSwt:

 

قُل لِّمَن مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ قُل لِّلَّهِۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَۚ

“Katakanlah:“Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang[Q.S. al-An’am(6): 12]

Paradigma Islam sebagai rahmah, sejalan dengan paradigma kerasulan Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah hadist beliau menegaskan kerasulannya sebagai rahmah, bukan sebagai laknat:

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ. قَالَ: إِنِّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata,“(Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) pernah diminta, “Wahai Rasûlullâh, do’akanlah kecelakaan/kebinasaan untuk kaum musyrikin!”Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah di utus sebagai pelaknat, sesungguhnya aku di utus hanya sebagai rahmat.[HR. Muslim, no. 2599]

Islam rahmat lil –‘alamin tampak dalam seluruh kepribadian Rasulullah Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Kemuliaan Rasulullah saw baik ucapan, perbuatan, sikap dan seluruh totalitas kehidupan beliau adalah rahmah dan teladan bagi seluruh umat manusia.Untuk itu sebagai umatnya, seorang muslim diharapkan senantiasa berusaha meneladani Rasulullah saw dalam seluruh aspek kehidupannya.

Mari kita perhatikan beberapa sifat Rahmat Allah swt berikut ini,

Pertama, Rahmah Allah tidak hanya untuk hamba-hamba-Nya yang mu’min saja. Rahmah-Nya mengalahkan kemurkaan dan kemarahan-Nya. Maka segala kebaikan dunia dan akhirat adalah dari rahmah-Nya. Firman Allâh Azza wa Jalla:

 

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Apabila datang kepadamu orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, maka katakanlah:“Salâmun‘alaikum” Rabbmu telah menetapkan atas Diri-Nya rahmah. Sesungguhnya barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan kejahatan (dosa) dengan sebab kejahilan(nya), kemudian sesudah itu dia bertaubat dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Q.S. al-An’âm (6): 54]

Firman Allah tersebut menjelaskan bahwa Rabbul ‘alamin telah menetapkan Diri-Nya rahmah dan telah ditafsirkan oleh Rasulullah saw sebagai berikut:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِيْ كِتَابِهِ وَهُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِيْ تَغْلِبُ غَضَبِيْ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau telah bersabda, “Tatkala Allâh telah menciptakan mahluk, Dia menulis di Kitab-Nya dan Dia menulis atas Diri-Nya dan tulisan itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy(Nya): Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku [HR. Bukhari (3194, 7404) dan Muslim (2751)]

Kedua, Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan kekayaan hambanya.

Allah swt berfirman:

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat[Q.S. al-An’âm (6): 133].

Terhadap orang-orang yang membanggakan harta dan kekayaan, sesungguhnya Allah tidak memerlukannya karena pada dasarnya Allah-lah yang memberinya kekayaan itu.

Ketiga, Allah Maha Pengampun terhadap perbuatan dosa hamba-Nya.Untuk itu bagi hamba yang pernah terjatuh pada perbuatan salah dan dosa, maka janganlah putus asa, karena Allah Maha Pengampun selama hamba tersebut memohon ampunan-Nya. Firman Allâh Azza wa Jalla:

 

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat [Q.S. al-Kahfi (17): 58]

Betapa luar biasanya Allah yang dengan kebesaran-Nya mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Sedangkan manusia ketika ada orang yang berbuat salah padanya, maka kata “tiada maaf padamu” yang terucap.

Keempat, Rahmat Allah sangat luasseperti dalam firman Allâh Azza wa Jalla:

 

فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ رَبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Maka jika mereka mendustakanmu katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas, dan azabnya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”[Q.S. al-An’âm (6): 147]

Kemudian beberapa hadits di bawah ini menjelaskan kepada kita akan luasnya rahmat Allâh sebagaimana beberapa firman Allâh di atas:

 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِيْ خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً. فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِيْ عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dia berkata: Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh telah menciptakan seratus rahmat pada hari Dia menciptakannya. Maka Dia menahan di sisi-Nya yang sembilan puluh sembilan rahmat, sedangkan yang satu rahmat Dia kirim (Dia berikan) untuk seluruh mahluk-Nya. Maka kalau sekiranya orang yang kafir itu mengetahui setiap rahmat yang ada di sisi Allâh, niscaya dia tidak akan pernah putus asa untuk memperoleh surga. Demikian juga kalau sekiranya orang mu’min itu mengetahui setiap azab yang ada di sisi Allâh, niscaya dia tidak akan pernah merasa aman dari masuk ke dalam neraka” [HR Bukhari (6469 dan ini adalah lafazhnya) dan Muslim (2752)]

Luasnya rahmat Allah juga meliputi binatang dan tumbuh-tumbuhan, sebagaimana riwayat dalam hadist ini:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيْهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِيْ كَانَ بَلَغَ بِيْ. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوْا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، فِيْ كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan di suatu jalan, dia sangat kehausan sekali, lalu dia mendapati sebuah sumur, segera dia turun ke sumur itu dan meminum (airnya). Kemudian ketika dia keluar dari sumur, tiba-tiba ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya sembil menjilati tanah karena kehausan.”

Laki-laki itu berkata, “Sesungguhnya anjing ini telah menderita kehausan seperti yang pernah aku rasakan tadi”. Lalu laki-laki itu turun kembali ke sumur, kemudian dia penuhi sepatu botnya dengan air, (setelah itu dia keluar dari sumur) sambil menggigit sepatu botnya dengan mulutnya. Kemudian dia minumkan ke anjing itu, maka Allâh bersyukur kepadanya dan mengampuni (dosa-dosa)nya”.

Para Shahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, sungguhkah (apakah) kita akan mendapat pahala apabila kita berbuat kebaikan kepada binatang?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Pada setiap mahluk yang hidup apabila kamu berbuat kebaikan kepadanya, maka kamu akan mendapat pahala” [Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2244)]

Dan dalam salah satu riwayat yang lain bagi Imam Muslim dengan lafazh sebagai berikut:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ، مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُوْنَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُوْنَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: ”Sesungguhnya Allâh mempunyai seratus rahmat yang Dia turunkan. Di antaranya satu rahmat (dibagi) di antara jin dan manusia serta semua binatang. Maka dengan sebab satu rahmat itulah mereka saling mengasihani dan berkasih sayang, dan dengan sebabnya binatang buas mengasihi anaknya. Dan Allâh menunda (pemberian) yang sembilan puluh sembilan rahmat lagi supaya berkasih sayang dengan sebabnya hamba-hamba-Nya” [Hadits ini juga telah dikeluarkan oleh Muslim (2244)]

Pada Hadits (no: 6012) diterangkan sebagai berikut:

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tidak seorang Muslim pun yang menanam sebuah tanaman, kemudian tanamannya itu dimakan oleh manusia atau binatang, melainkan dia mendapatkan (pahala) shadaqah dengannya” [Hadits ini telah dikeluarkan juga oleh Muslim (1553)]

Itulah dua buah hadits yang dibawakan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah yang menunjukkan akan adanya rahmatul bahâim atau kasih-sayang dan berbuat kebaikan kepada hewan.

Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini yang menjadi rahmatan lil’alamin ketika ditanya oleh para Shahabat Radhiyallahu anhum: “Wahai Rasûlullâh, sungguhkah kita akan mendapat pahala apabila kita berbuat kebaikan kepada binatang?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Pada setiap mahluk yang hidup apabila kamu berbuat kebaikan kepadanya, maka kamu akan mendapat pahala.

Di antara mahluk hidup adalah hewan…! Dari sini kita mengetahui dengan ilmu yakin, bahwa Islam-lah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar kasih-sayang dan berbuat kebaikan kepada binatang atau hewan. Islam telah menetapkan hal itu jauh sebelum orang-orang kafir berbicara dengan lisan dan tulisan mereka.

Hadits yang lain lagi:

 

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِيْ إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لاَ، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لاَ تَطْرَحَهُ. فَقَالَ: الَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu (dia berkata), “Telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan perang wanita. Maka tiba-tiba di antara tawanan wanita itu ada seorang wanita yang menyusui. Maka apabila dia mendapati seorang bayi di dalam tawanan itu dia segera mengambilnya dan mendekapkannya keperutnya lalu dia menyusuinya.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami, “Apakah kamu mengira bahwa wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?”

Kami menjawab: “Tidak akan. Padahal dia mampu untuk tidak melemparkannya
Maka beliau bersabda, “Allâh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dari wanita ini kepada anaknya” [HR. Bukhari, no.5999 dan ini adalah lafazhnya, serta Muslim, no.2754].

Sikap rahmah Rasulullah Saw terhadap binatang juga ditunjukkan pada keterangan hadits di bawah ini:

 

عَنْ سَهْلِ ابْنِ الْحَنْظَلِيَّةِ قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعِيْرٍ قَدْ لَحِقَ ظَهْرُهُ بِبَطْنِهِ فَقَالَ: اتَّقُوا اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهَائِمِ الْمُعْجَمَةِ فَارْكَبُوْهَا صَالِحَةً وَكِلُوْهَا صَالِحَةً. (رواه أبوداود)

Dari Sahl bin Handzaliyyah, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seekor onta yang punggungnya telah merapat ke perutnya, maka beliau bersabda, “Takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini yang tidak dapat berbicara kepada kamu, naikilah dia dengan baik dan (kalau tidak dikendarai) maka biarkanlah (istirahatkanlah) dia dengan baik.” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud, no: 2548]

Masya Allah, luar biasa sifat rahmah Rasulullah saw yang begitu sangat perhatian meski kepada binatang. Coba kita perhatikan keterangan hadits di atas, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “takutlah kamu kepada Allâh terhadap binatang-binatang ini…” yakni akan dosa dan murka Allâh kepada kamu karena kamu telah menganiaya binatang-binatang ini, yang tidak dapat berbicara kepada kamu bahwa dia lapar, haus, lelah dan sakit. Penderitaan dan kesusahan yang menimpanya disebabkan kamu telah menzhaliminya, seperti kamu telah menyiksanya atau melelahkannya atau melaparkannya dan seterusnya yang bisa dimaknai sebagai perbuatan  zhalim. Begitu juga saat menaiki juga perlu naik dengan baik, janganlah dia dibebani lebih dari kemampuannya.. Bila tidak dikendarai maka biarkanlah (istirahatkanlah) dia dengan baik dan berikanlah kepadanya kesempatan  istirahat dan makanan yang cukup.

Ketika kita telah mengetahui berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, bahwa agama Islam ini adalah Agama Allâh, dan Allâh Rabbul ‘alamin disifatkan dengan rahmat, sedangkan rahmat-Nya meliputi segala sesuatunya termasuk di dalamnya adalah Agama-Nya Islam, maka Agama Islam adalah Agama rahmat berdasarkan dalil-dalil naqliyyah dan aqliyyah .

Semoga paparan ini bisa dijadikan bahan muhasabah bagi kita agar mampu menghias diri dengan akhlak mulia, jujur, amanah, santun, peduli sebagai aplikasi dari sifat rahmah kita baik pada sesama dan kepada makhluk Allah yang ada disekitar kita.