HIDUP UNTUK BERIBADAH

05 Mei 2020 11:47 WIB | dibaca 106 | oleh: Dra. Cholifah Syukri (Ketua Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

 

الْحَمْدُ للهِ، وَ الشُّكْرُ للهِ، وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَ صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَ عَلَى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ وَالَهُ أَمَّا بَعْدُ.

 

Kita bersyukur kehadirat Allah SWT saat ini masih berkesempatan menemui bulan suci Ramadhan dalam keadaan sehat sejahtera, Iman dan Islam. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi dan Rasul Muhammad saw, beserta keluarga, shahabat dan pengikut setianya sampai akhir zaman. Bersyukur pula atas karunia dan inayahNya. Kita bangsa Indonesia yang hidup di daerah Katulistiwa disaat Pandemi Global tersebarnya virus corona atau covid-19 melanda di tanah air kita sekarang ini, Allah SWT mengaruniai sinar matahari yang pada pagi hingga siang hari memancarkan panasnya.  Air yang jernih mengalir untuk kebutuhan kita sehari-hari, serta udara yang selalu kita butuhkan untuk pernafasan kita. Semuanya itu karunia Allah yang harus kita syukuri, selain kenikmatan- kenikmatan lain yang dilimpahkan  untuk kehidupan hambaNya, agar mampu melaksanakan amanahNya memakmurkan kehidupan di alam jagat   raya ini.

Bulan Ramadhan yang kehadhirannya senantiasa di dambakan oleh umat Islam. Secara tidak disangka dari sejak bulan maret tanggal 4 President RI Joko Widodo mengumumkan adanya  dua kasus positif terdampak covid-19 di tanah air kita, kasus covid-19 terus meningkat. Dari hari ke hari menunjukan kenaikan jumlah orang yang terdampak, bahkan sampai menjelang ramadhan tiba lonjakan kasus covid-19 terus merebak. Saat naskah ini kami tulis pada tanggal 9-4-2020 up date data menunjukkan kasus positif corona berjumlah 3.293 orang  dan yang meninggal 280 orang. Dalam situasi demikian, bangsa Indonesia yang mayoritas Islam harus tetap waspada dan secara tolong-menolong (ta’awun) berupaya untuk memutus nata rantai penyebaran virus berbahaya ini dengan seksama. Tentu saja upaya yang kita lakukan disiplin tetap tinggal dirumah dengan menerapkan SOP protokol Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Suasana yang memprihatinkan dengan adanya wabah covid-19, kegiatan untuk mensemarakkan ibadah bulan suci sebagaimana kita sambut pada bulan normal kini kita abaikan. Menghindari madharat lebih kita dahulukan dari pada menjalankan maslakhat, “Darulmafasid Aula Min Jalbil Masholeh” ( Kaidah Ushul Fiqh). Berpegang dari kaidah ushul fiqh diatas, kita umat Islam dalam menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan cukup dengan kegiatan yang tidak bersifat kerumunan orang banyak seperti; kerja bakti untuk kebersihan gedung sekolah,mesjid, rumah sakit, panti sosial  dengan mengusahakan ketentraman, kedamaian, serta terang benderangnya kampung-kampung dengan lampu-lampu yang beraneka ragam sehingga  tercipta suasana yang mendukung pelaksanaan syiar ibadah dibulan Ramadhan lebih semarak sebagaimana mestinya syiar Ramadhan. Walaupun semua kegiatan diatas tidak kita lakukan, namun tidak mengurangi kekhusukan dan kesungguhan kita dalam upaya  meraih pahala ibadah di bulan suci yang kita tunggu kehadirannya, Ramadhan  ibarat tamu,  datang membawa kegembiraan, kembali pulang meninggalkan kemanfaatan.

Sebagai umat Islam yang merindukan peribadatan di bulan suci secara normal, tentu kita semua merasa kurang puas,  merasa tidak nyaman dengan tiadanya berbuka ta’jil bersama setelah mendengarkan pengajian sebelum shalat jamaah mahgrib di mushala atau masjid. Shalat tarawih setelah shalat Isya’ berjamaah di mushala atau masjid,  demikian pula shalat subuh berjamaah yang diakhiri dengan mendengarkan tausyiyah. Gambaran beribadatan di bulan suci diatas kini kita lakukan di rumah kita masing-masing.Marilah Ramadhan kali ini justru kita mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati bersama keluarga, sekaligus kita memohon agar wabah corona segera sirna.Memperbanyak menderas Qur’an bersama, telaah makna dan tafsirnya.  Dalam suasana penuh khidmat kita jalani  pekerjaan yang biasa kita lakukan diluar rumah, kini bersama keluarga kita beraktifitas bersama walaupun berbeda tugas dan pekerjaannya.

Para pembaca yang budiman,  kesempatan ini materi pengajian akan membahas “ Hidup untuk beribadah”. Sebagaimana kita fahami bersama bahwa dalam kehidupan sehari-hari seseorang dihadapkan dengan kesibukan dan persoalan yang tak kunjung sirna. Dari persoalan satu ke persoalan lain, dari tugas satu  ke tugas berikutnya, dari suatu kesibukan berganti dengan kesibukan selanjutnya. Justru dari kesibukan itulah pertanda kehidupan seseorang menjadi dinamis.  Dengan kesibukan yang padat makna kehidupan seseorang  menjadi lebih bermanfaat, dibanding seseorang yang  banyak waktu terbuang karena  pengangguran. Kesibukan seseorang disini yang dimaksud tentunya ditandai dengan kesibukan dalam bekerja dan bekerja lagi. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Insyirah (94): 7-8.

 

فَإِذَافَرَغْتَفَانْصَبْ (٧)وَإِلَىرَبِّكَفَارْغَبْ (٨)

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu pekerjaan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (pekerjaan) yang lain dan kepada Tuhanmu-lah kamu berharap.”

 

Bagi seorang muslim bekerja merupakan rangkaian kegiatan untuk mengisi kehidupan ini agar kehidupannya berkualitas, bermartabat dan berperadaban.

Para hadirin yang dimuliakan Allah.

Aktifitas dan kesibukan seseorang bisa dimaknai tidak sekedar bekerja untuk  mencapai kemulyaan, kejayaan, dan  kesuksesan belaka namun dapat bermakna ibadah bahkan dengan imbalan kebahagiaan hidup di akhirat yang  bersifat abadi untuk  selama-lamanya.  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf (7): 42.

 

وَالَّذِينَآمَنُواوَعَمِلُواالصَّالِحَاتِلاَ نُكَلِّفُنَفْسًاإِلاَّ وُسْعَهَاأُولَئِكَأَصْحَابُالْجَنَّةِهُمْفِيهَاخَالِدُوْنَ (٤٢)

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka Itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”.

 

Dari firman Allah diatas, kegiatan dan kesibukan seseorang akan menjadi amal shaleh yang membawanya kearah jalan menuju  surga, tentu tidak begitu saja tanpa syarat. Ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-sunnah maqbullah menuntunkan agar seorang muslim mewujudkan kegiatan dan kesibukan sehari-harinya menjadi amal shaleh menuju jalan surga.  Dibawah ini beberapa saran untuk mewujudkan kesibukan menjadi amal shaleh yang akan menuju jalan kearah surga sesuai dengan ayat diatas.

Pertama, semua apa yang dilakukan harus berniat ibadah.Niat itu penting karena dari niat akan menentukan kualitas suatu perbuatan. Niat adalah keinginan hati bermaksud melakukan suatu amalan atau perbuatan. Dalam suatu hadits Rasulullah SAW menekankan:

 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanya sanya segala amal menurut niat dan hanya sanya bagi seseorang itu apa yang diniatkan”. (HR.Bukhari dari Umar bin Khaththab).

 

Terkait dengan hal itu qoidah ushul Fiqh menyatakan :

 

اْلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

“Setiap perkara tergantung kepada maksud mengerjakannya.”

 

Dengan demikian, suatu kesibukan atau tugas baik yang bersifat kegiatan fisik maupun  fikir yang tentunya mengeluarkan energi bagi pelaku yang bersangkutan akan bernilai positif apabila niat melakukannya juga positif. Sementara landasan utama manusia diciptakan Allah SWT dimuka bumi ini tidak lain adalah untuk beribadah. Allah menegaskan melalui firman-Nya dalam Q.S.Adz-Dzariyat (51): 56.

 

وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَالإنْسَإِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

 

Dalam firman-Nya berikut ini dinyatakan pula bahwa, seorang muslim beribadah atau mengabdi demi ketulusan dan hanya untuk mencapai keridhaan-Nya dengan mentaati  semua perintah-Nya.

 

... فَاعْبُدِاللهَمُخْلِصًالَهُالدِّينَ (٢)

“... Maka sembahlah Allah dengan ketaatan kepada-Nya”. (QS.Az-Zumar [39]: 2)

Hadirin yang berbahagia, apa  pengertian ibadah itu, bagi makhluk yang  dimuliakan Allah yakni manusia ini? Baiklah, kita fahami bersama definisi ibadah.

Himpunan Keputusan Majelis Tarjih tentang Ibadah mendifinisikan sbb: bertaqarrub ( mendekatkan diri) kepada Allah, dengan jalan mentaati segala perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Ibadah meliputi umum dan khusus. Yang dimaksud umum ialah segala amal yang diizinkan Allah, sementara yang khusus ialah apa yang ditetapkan Allah dengan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu.

Secara garis besar, ibadah itu ada dua macam,yakni Umum dan khusus. Pembahasan dalam naskah ini lebih pada ibadah yang bersifat umum, karena ibadah khusus atau ibadah mahdah telah diatur bentuk dan cara pelaksanaannya dalam syariah Islam ( persis sesuai dengan Al-Quran dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW melalui As-Sunnah al-Maqbullah).

Saudaraku kaum muslimin yang berbahagia, bukankah bagi seorang muslim niat ibadah dalam  segala hal itu membahagiakan? Kalau kita  hubungkan dengan  doa keseharian seorang muslim tentu senantiasa memohon kepada Allah SWT.

 

رَبَّنَآ آٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلآخِرَتِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

Maka sesungguhnya bagi seorang muslim bahwa kebahagiaan yang kita inginkan dan kita raih meliputi kebahagiaan dunia dan akhirat bukan? Jadi kebahagiaan dan kesejahteraan merupakan harapan dan cita-cita bagi setiap orang. Tentu, bahagia tidak hanya unsur material tapi juga spiritual. Berarti bagi seorang muslim harapan masa depan adalah jelas dan kongrit. Harapan disertai dengan perasaan optimis dan keyakinan kuat untuk melakukan sesuatu yang positif menjadi spirit untuk melakukan secara optimal dari sesuatu yang diinginkan. Sebagai contoh, Prof.Dr.M.Noor Rohman Hajam,S.U. tentang Keterampilan Psikologis Dalam Mewujudkan Kesehatan Mental bahwa; keyakinan untuk melakukan sesuatu terbukti mempengaruhi sistem fisiologis tubuh serta mendukung kualitas pengambilan keputusan. Menururt ahli psyikhologi diatas,rasa optimis berhubungan erat dengan penurunan rasa sakit secara fisik, dan menumbuhkan seseorang memiliki tekat mengambil keputusan antara berobat atau tidak.

Lebih jelasnya, bagaimana seseorang mengupayakan sehat juga harus mengupayakannya  keseimbangan antara sehat jasmani dan rohani/ mental. Dengan demikian untuk meraih kebahagiaan seseorang perlu sehat, dan sehat itu meliputi jasmani dan rohani maka pepatah mengatakan, “Man sana in corpori sano, badan yang sehat terletak jiwa yang sehat”.

Perlu dipahami dari uraian diatas, menunjukkan betapa pentingnya niat ibadah dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Karena selain membahagiakan dari perasaan optimis dan penuh harapan  niat ibadah dalam kehidupan seseorang juga  sebagai modal dasar kekuatan spiritualitas untuk berupaya meraih sesuatu yang diinginkan.

Kedua, senantiasa berdoa dalam setiap memulai kegiatan dan kesibukan.

 

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

“Doa adalah kunci ibadah.” ( HR. Empat Imam hadits dari an-Nu’man bin Basyir)

 

Doa dimohonkan kepada Allah dalam rangka ikhtiar atau usaha kearah keberhasilan dari suatu pekerjaan agar berjalan lancar dan terjauh dari hambatan yang berarti. Disamping itu suatu amal kebaikan apapun apabila tidak dimulai dengan lafadz basmalah terputuslah pahalanya. Berikut sabda RasulullahSAW:

 

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَ يُبْدَأُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَقْطَعُ

“Segala perbuatan yang tidak dimulai dengan membaca ‘bismillahirrahmanirrahim’, maka amalan tersebut terputus pahalanya.” (HR Abd. Qadir ar-Rahawi dari Abu Hurairah)

Suatu pekerjaan tentunya diikhtiarkan untuk sempurna dan berkualitas tetapi dalam prakteknya tidak cukup dengan doa dan  ikhtiar,  melainkan harus dilengkapi juga dengan cara–cara dan bentuk-bentuk kegiatan yang memang diridhai Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Bayyinah (98): 5

 

وَمَاأُمِرُواإِلَّالِيَعْبُدُوااللهَمُخْلِصِينَلَهُالدِّينَحُنَفَاءَوَيُقِيمُواالصَّلاةَوَيُؤْتُواالزَّكَاةَوَذَلِكَدِينُالْقَيِّمَةِ (٥)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”

Dari ayat diatas, dapat disimpulkan bahwa ketika suatu pekerjaan dilakukan hendaknya cara-cara dalam pelaksanaannya terhindar dari hal-hal yang merugikan orang lain atau cara-cara yang dilarang oleh syariat agama. Dengan kata lain cara dan bentuk pelaksanaan dari suatu tindakan atau perlakuan hendaknya tidak keluar dari koridor ajaran Islam. Hal ini sebagaimana akhlak Islam menuntunkan sifat-sifat mulia seperti jujur, amanah, sabar, tawadlu’ ( rendah hati), syukur, lapang hati dan sebagainya; senantiasa menjadi penghias jiwa bagi seorang muslim dan mukmin. Cara dan bentuk pelaksanaan dari suatu tindakan juga harus memenuhi patokan atau batasan tingkah laku tertentu yang diterima oleh lingkup sosial masing-masing. Misalnya disiplin dalam menjalankan tugas dan pekerjaan sesuai dengan pengaturan kelompok tertentu atau norma yang berlaku. Hal ini penting,sebagaimana ahli psykhologi James Draver mengemukakan kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan aturan yang telah ditetapkan menunjukkan bahwa yang bersangkutan  memilki karakter disipiln.

Ketiga, bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal adalah membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya hanya kepada-Nya. Bagi seorang muslim/mukmin tidak selayaknya menggantungkan kepada selain Allah karena segala yang ada dan terjadi milik dan menjadi kehendak-Nya. Karena itu setiap orang yang beriman akan meyakini segala urusan kehidupan, segala apa yang diupayakan sebagai ikhtiar, setelah berusaha semaksimal kemampuannya ketetapan dan keputusannya atas kehendak Allah SWT. Dengan demikian apa yang menjadi ikhtiar seseorang tidak bisa terlepas dari ketergantungan kepada Allah. Al-Quran dalam beberapa surat dan ayat telah menegaskan, sebagai berikut.

 

وللهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (١٢٣)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Hud [11]: 123)

 

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (٢٣)

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah [5]: 23)

 

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (١٣)

“(Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.” (QS. At-Taghabun [64]: 13)

          Pada bulan yang penuh berkah ini sesuai dengan tujuan puasa di bulan Ramadhan untuk meningkatkan ketakwaan (Q.S.Al-Baqarah (2): 183). Marilah kesempatan untuk bermunajat, bertafakur dan bertaubat kita maksimalkan walau tidak harus berada di tempat ibadah khusus seperti mushala atau masjid sebagaimana suasana bulan Ramadhan secara normal.Tetapi andaikata di masjid atau mushala memungkinkan terhindar dari penularan covid-19,  bagi yang sehat beribadah secara jamaah bisa dilaksanakan.

          Demikian uraian tentang “Hidup untuk Beribadah”, semoga dengan kehidupan yang penuh tantangan, tekanan dalam tugas dan pekerjaan, carut marutnya persaingan dalam segala bidang akan bisa dihadapi dengan lapang hati dan penuh semangat. Akhirnya doa seorang muslim dalam berikhtiar menjadi kenyataan dan akhir hidupnya mencapai husnul khatimah.

Al-Birru Manittaqā.