Dakwah ‘Aisyiyah dalam Lingkungan Hidup

04 Desember 2017 12:35 WIB | dibaca 858 | oleh: Oleh : Dra. Hj.Nurni Akma* (Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PPA)

     Manusia adalah makhluk yang di ciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi dan semua yang diciptakan Allah adalah untuk manusia. Manusia bertugas untuk memakmurkan bumi dengan seluruh isinya. Allah menciptakan bumi dan alam semesta penuh dengan keteraturan dan keseimbangan serta keharmonisan. Untuk itu allah mengutus para Nabi membawa petunjuk berupa kitab-kitab, yakni Shuhuf-Shuhuf, Kitab Taurat, Kitab Zabur,Kitab injil dan terakhir Kitab al-Qur’an yang merangkum semua Shuhuf-Shuhuf dan Kitab-Kitab terdahulu sebagai karunia Allah yang paling besar bagi umat manusia. Kitab ini merupakan pedoman  bagi manusia agar berbahagia hidupnya baik dunia maupun akhirat.

       Agama Islam yang kaffah ini telah melarang segala bentuk pengerusakan di muka bumi,baik pengerusakan secara langsung maupum tidak langsung. Muslimin harus menjadi yang terdepan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan tempat hidup. Karena pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab semua umat manusia sebagai pemikul amanah khalifah Allah di muka bumi.

        Allah Swt telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik allah dan kita di amanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allah tetapkan.

        Allah menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan. Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk melaksanakan tugas pokok mereka yang merupakan tujuan diciptakan jin dan manusia. Alam adalah tempat beribdah hanya kepada allah semata.

        Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam. Kaum Muslimin ketika berperang tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan keperluan yang jelas.

         Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, “ Zaid bin Rafi’ berkata, telah nampak kerusakan, maksudnya hujan tidak turun di daratan yang mengakibatkan paceklik dan lautan yang menimpa bintang-bintangnya. Beliau juga menjelaskan dalam tafsirnya “ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan perbuatan tangan manusia.

  

          Salah satu bukti bahwa Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar adalah perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam untuk menyingkirkan gangguan dari jalan yang beliau jadikan sebagai satu cabang keimanan serta perintah beliau untuk menanam pohon walaupun esok hari kiamat. Bahkan pohon itu akan menajdi asset pahala baginya sesudah mati yang akan terus mengalirkan pahala baginya.

      Menebang pohon menguduli hutan membuang limba kesungai membakar areal persawahan pesawahan dan lain-lainyasudah jelas termasuk perbuatan merusak alam yang bisa mendatangkan bagi umat manusia. Namun sadarkah kita, bahawa kerusakan bukanlah hanya karena faktor-faktor rill seperti itu saja. Kekufuran, syirik dan kemaksiatan juga punya andil dalam memperparah kerusakan alam. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan mengatakan, diantara pengaruh buruk perbuatan maksiat terhadap bumi adalah banyak terjadi gempa dan longsor di muka bumi serta terhapusnya berkah. Imam Ahhmad telah menyebutkan dalam Msnadnya ia berkata telah di temukan dalam gudang milik bani umaya sebutir kurma. Gandum itu di temukan dalam srbuah kantung yang bertuliskan biji gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakan.

       Barang kali ada yang bertanya apakah maksiat yang tidak ada sangkut pautnya dengan alam juga bisa juga merusak alam? Jawabnya ya bisa. Bukankah Hajar Aswad menghitam karena maksiat yang dilakukan oleh manusia. Apabila manusia tidak tidak segera kembali kepada agama Allah SwT, kepada sunah Nabi nya maka berkah itu akan berganti menjadi musibah. Atau manusia terlalu egois memikirkan diri sendiri tanpa mau menyadari pentingnya menjaga alam sekitar yang bakal kita wariskan kepada generasi mendatang. Allah Azza wa jalla memberi manusia tangung jawab untuk memakmurkan bumi ini mengaturkan kehidupan lingkungan hidup yang baik dan tertata. Karena dosa dan maksiat akan mendorong manusia untuk merusak dan mengotori alam ini dengan noda-noda maksiat mereka. Dakwah Aisyiyah dalam lingkungan hidup memberikan penekanan atas hal yang telah diterangkan di atas dan pendidikan umat mengenai lingkungan hidup sama sekali tidak bisa di pisakan dari pendidikan tauhid dan keimanan. Bersyukur  kepada Allah SwT dengan taat kepadanya sebagai khalifah Alllah dimuka bumi ini dan membawa kebahagian, kedamaian serta kesejateraan bagi seluruh mahluk di muka bumi.