Daging Ayam Yang Halal dan Thayyib I

04 Maret 2015 16:00 WIB | dibaca 4484 | oleh: Aisyiyah

 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Mengutip ayat dalam Suart an-Nahl :114 yang berbunyi :

 

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

 

Dalam ayat tersebut disebutkan agar kita memakan makanan yang halal (halalan) juga baik (thayyiban). Kata thayyiban juga berarti makanan yang sehat sehingga apa yang kita konsumsi menjadikan tubuh kita sehat, bukan sebaliknya merugikan tubuh. Begitu juga dengan daging ayam atau produk unggas lain yang kita makan, seharusnya merupakan daging ayam yang halal, sehat, dan cara mengolahnya juga harus benar.

 

Sebelum kita akan banyak berrbicara tentang daging, sebetulnya apa sieh daging itu ibu? Daging adalah bagian dari hewan potong yang disembelih dan lazim dikonsumsi manusia. Hewan potong yang dimaksud adalah unggas seperti Ayam, Bebek, Entok, Burung Dara, Kalkun, Angsa, Burung Puyuh dan Belibis (SK. Mentan No.306 Tahun 1993).

 

Sebenarnya, hak-hak kita sebagai konsumen yang berkaitan dengan keamanan pangan sudah dilindungi melalui Undang-Undang (UU. No 7/1996 tentang pangan dan UU No. 8/1999 tentang perlindungan konsumen). Nah, daging yang layak dikonsumsi itu, harus memenuhi 4 hal yang biasa disingkat HAUS (Halal, Aman, Utuh, Sehat).

 

  1. Halal, hewan disembelih maupun dagingnya ditangani sesuai dengan syariat Agama Islam.
  2. Aman, daging tidak mengandung bahaya biologis, fisik, dan kimiawi yang dapat menebabkan sakit sehingga mengganggu kesehatan manusia. (gambar daging dan penjelasan bahayanya.
  3. Utuh, daging tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian dari hewan lain.
  4. Sehat, daging memiliki zat-zat yang dibutuhkan dan berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh manusia.

 

Kemudian, bagaimana tata cara menyembelih hewan ternak yang halal? Berikut syarat yang harus dipenuhi agar penyembelihan hewan ternak halal dikonsumsi :

 

  1. Orang yang menyembelih harus beragama Islam, dewasa (baligh) dan berakal sehat, baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Membaca kalimat “bismillahi Allahu Akbar” sebelum menyembelih.
  3. Pisau untuk menyembelih harus tajam dan bersih.
  4. Penyembelihan dilakukan pada pangkal leher ayam dengan memutuskan saluran pernafasan (trakea/hulqum), saluran makanan (esophagus?marik), dan dua pembuluh darah bagian kanan dan kiri leher.

 

Jika kita memilih untuk membeli daging yang sudah dipajang di kios penjual daging ayam sebaiknya kita memperhatikan kesehatan dari produk tersebut. Berikut cirri-ciri daging unggas yang baik :

 

  1. Warna daging putih pucat.
  2. Bagian otot dada dan otot paha terasa kenyal.
  3. Bagu agak amis atau bahkan tak berbau.
  4. Permukaan kulit putih kekuningan, agak mengkilat dan tidak ada memar atau bercak-bercak merah dan kebiruan di bawah kulit.
  5. Serabut otot putih agak pucat.
  6. Bagian bawah karkas berwarna putih pucat.
  7. Pembuluh darah di leher dan sayap kososng.
  8. Hati berwarna kemerahan sampai pucat kekuningan.

 

Sebaliknya, kita juga harus mengenali ciri yang menunjukan daging tidak layak konsumsi. Berikut cirri-cirinya :

 

  1. Bau dan rasa tidak normal. Bau tidak normal akan segera tercium setelah ayam dipotong.
  2. Warna daging tidak normal. Meskipun tidak langsung berbahaya, tapi kondisi warna tidak normal akan mengurangi selera konsumen.
  3. Konsistensi daging tidak normal. Kurang kenyal dan terasa lunak ketika ditekan oleh jari.
  4. Daging busuk. Kondisi ini akan mempengaruhi pencernaan bagi konsumen. Daging busuk bisa terjadi akibat penanganan yang salah sat proses pendinginan yang menyebabkan aktivitas bakteri meningkat. Penyebab pembusukan lainnya adalah daging dibiarkan di tempat terbuka pada jangka waktu lama.

 

Diambil dari Materi Pengajian Bagi Muballighat ‘Aisyiyah