Bolehkah Wanita Haid Masuk Masjid?

21 Februari 2020 12:25 WIB | dibaca 235 | oleh: Muhammadiyah (Fatwa Tarjih Muhammadiyah)

Hukum wanita haid masuk masjid, terdapat perbedaan pendapat. Ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Dalil yang digunakan bagi yang melarang adalah hadits Nabi saw. sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي غَنِيَّةَ عَنْ أَبِي الْخَطَّابِ الْهَجَرِيِّ عَنْ مَحْدُوجٍ الذُّهْلِيِّ عَنْ جَسْرَةَ قَالَتْ أَخْبَرَتْنِي أُمُّ سَلَمَةَ قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَرْحَةَ هَذَا الْمَسْجِدِ فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ إِنَّ الْمَسْجِدَ لَا يَحِلُّ لِجُنُبٍ وَلَا لِحَائِضٍ.

[رواه ابن ماجه]

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Yahya, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Ghaniyyah dari al-Khathab al-Hajariy dari Mahduj adz-Dzuhliy dari Jasrah, ia berkata telah mengkhabarkan kepadaku Ummu Salamah, ia berkata: “Rasulullah saw. masuk halaman masjid kemudian mengumumkan dengan suara keras, sesungguhnya masjid tidak halal untuk orang junub dan tidak pula untuk orang haid.” [HR. Ibnu Majah]. 

Juga hadis yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata:

أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ

[رواه البخارى]

Artinya: “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk menyertakan wanita yang sedang haid dan wanita pingitan pada dua hari Raya. Mereka menyaksikan kumpulan kaum muslimin dan dakwah untuk mereka. Adapun wanita yang sedang haid supaya menjauh dari tempat shalat … .” [HR. al-Bukhari]. 

Sedangkan dalil yang dikemukakan oleh ulama yang membolehkan adalah hadits sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِك

[رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw. berkata kepadaku: Ambilkan sajadah untukku di masjid! Aisyah mengatakan: Saya sedang haid. Nabi saw. bersabda: Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu.” [HR. Muslim]. 

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah:

خَرَجْنَا لَا نَرَى إِلَّا الْحَجَّ فَلَمَّا كُنَّا بِسَرِفَ حِضْتُ فَدَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي قَالَ مَا لَكِ أَنُفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ فَاقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

[رواه البخارى]

Artinya: “Kami keluar untuk melaksanakan haji, ketika kami sampai di Sarif saya mengalami haid, kemudian Rasulullah saw. masuk menemui aku, sementara saya sedang menangis. Rasulullah saw. berkata: Apakah kamu sedang haid? Saya menjawab: Ya. Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya ini masalah yang telah ditentukan Allah bagi kaum wanita, maka lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang berhaji, kecuali jangan tawaf di Kakbah … .” [HR. al-Bukhari]. 

Berikut ini analisis dari dalil yang telah disebutkan di atas:

- Dalil yang digunakan oleh ulama yang melarang wanita haid masuk masjid, yakni Hadits riwayat Ibnu Majah yang diriwayatkan dari Ummu Salamah, ternyata haditsnya tidak shahih, karena al-Khathab al-Hajariy dan Mahduj adz-Dzuhliy adalah majhul (tidak diketahui). Oleh sebab itu, hadits tersebut tidak bisa dijadikan dasar hukum untuk melarang wanita haid masuk masjid.

Sementara hadits yang berkaitan dengan wanita haid hendaknya menjauhi mushalla (tempat shalat), maksudnya tidak berada pada shaf shalat. Tetapi mereka dibolehkan berada di lapangan tempat dilaksanakan shalat menyaksikan kaum muslimin dan khutbah ‘Ied yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Jadi, dalil ini pun kurang tepat jika dijadikan dalil untuk melarang wanita haid masuk masjid.

Sedangkan dalil yang digunakan oleh ulama yang membolehkan yaitu hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah, dapat dipahami bahwa hadis tersebut di atas tidak menerangkan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan ‘Aisyah harus segera keluar dari masjid atau boleh masuk masjid tapi sekedar mengambil al-khumrah (sajadah kecil) saja. Beliau hanya menerangkan haid tidak di tanganmu, sehingga selama tidak  mengotori masjid (dari darah haid), maka diperbolehkan wanita untuk berada di dalam masjid.

Kemudian hadis yang berkenaan dengan pelaksanaan haji, ‘Aisyah mengalami haid. Dalam hadits di atas Nabi saw. tidak melarang ‘Aisyah untuk masuk ke masjid dan sebagaimana jamaah haji lain boleh masuk ke masjid, maka demikian pula wanita haid (boleh masuk masjid). Akan tetapi Nabi saw. hanya melarang ‘Aisyah untuk tawaf di Kakbah.

Maka yang dapat disimpulkan adalah, pertama, wanita yang memiliki hajat, termasuk di dalamnya mendengarkan pengajian dan kedua, tidak sampai mengotori masjid (dari darah hadi).

Demikian penjelasan tentang kebolehan wanita haid yang ingin masuk masjid, dengan menjaga dua syarat di atas. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Fatwa Tarjih Muhammadiyah No.03 Tahun 2014

Foto: pinterest.id