BERBAGI ZAKAT FITRI DISAAT PANDEMI COVID-19

09 Mei 2020 13:10 WIB | dibaca 493 | oleh: Dr. Hj. Siti Bahiroh, M.Si (Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا

Segala puji hanya milik Allah. Dzat yang telah memberi kita kenikmatan memiliki lisan dan dua bibir. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang layak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ya Allah, limpahkanlah salawat dan keselamatan kepada utusan-Mu Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya semua. Ᾱmīn.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita belajar mengenai zakat fitri disaat  musibah Covid-19. Beberapa hal yang perlu dikemukakan yakni apa zakat fitri itu? Mengapa Allah swt mewajibkannya? Kapan waktu pembayarannya ? siapakah yang harus membayar dan kepada siapa dibayarkan? Bagaimana zakat fitri ini disaat Covid-19?

Zakat Fitri

Zakat fitri atau juga bisa disebut sedekah fitri merupakan zakat yang wajib dibayarkan karena berbuka (al-fiṭri) untuk mengakhiri puasa Ramadan. Hari raya yang menandai berakhirnya puasa Ramadan disebut Idulfitri. Dinamakan sedekah fitri, karena perkataan sedekah dalam terminologi syariah selalu dipakai dalam pengertian zakat. Zakat Fitri ini mulai diwajibkan pada tahun ke-dua Hijriyah, yaitu pada tahun diwajibkannya puasa Ramadan. Pelaksanaan zakat fitri oleh para sahabat di zaman Rasulullah, digambarkan bahwa zakat fitri itu berupa makanan pokok, seperti gandum, kuma, keju, kismis, sebagaimana hadits dari Abu Sa’id al-Khudri ra.

 

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ.

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Iyadh bin 'Abdullah bin Sa'ad bin Abu Sarhi Al 'Amiriy bahwa dia mendengar Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu berkata: "Kami mengeluarkan zakat Fitri satu sha' dari makanan atau satu sha' dari gandum atau satu sha' dari kurma atau satu sha' dari keju (mentega) atau satu sha'dari kismis (anggur kering)”(H.R. Bukhari)

Mengapa Allah swt mewajibkan zakat fitri dan apakah tujuannya?

Allah swt adalah Tuhan sang pencipta manusia, maka apapun yang Ia terapkan untuk  manusia, pastilah cocok dan ada hikmah dibalik perintah maupun laranganNya. Manusia merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah kecenderungan kepada kebenaran, dan beberapa kecenderungan yang negatif. Kendati sedang menjalankan ibadah puasa, manusia sering melakukan perbuatan perbuatan negatif seperti berbicara yang sia sia dan kotor. Dengan diwajibkannya membayar zakat fitri, maka perbuatan perbuatan negatif selama berpuasa akan tersucikan. Selanjutnya dengan membayar zakat fitri ini ada solidaritas sesama melalui santunan zakat kepada orang miskin. Sebagaimana hadis dari Ibnu ‘Abbas ra:

 

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو يَزِيدَ الْخَوْلَانِيُّ وَكَانَ شَيْخَ صِدْقٍ وَكَانَ ابْنُ وَهْبٍ يَرْوِي عَنْهُ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ مَحْمُودٌ الصَّدَفِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ.

Telah menceritakan kepada Kami Mahmud bin Khalid Ad Dimasyqi dan Abdullah bin Abdurrahman As-Samarqandi berkata; telah menceritakan kepada Kami Marwan, Abdullah berkata; telah menceritakan kepada Kami Abu Yazid Al-Khaulani ia adalah syekh yang jujur, dan Ibnu Wahb telah meriwayatkan darinya, telah menceritakan kepada Kami Sayyar bin Abdurrahman, Mahmud Ash-Shadafi berkata; dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah saw., mewajibkan zakat fitri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum salat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah. (H.R. Abu Dawud)

Kapan waktu pembayaran Zakat Fitri?

Zakat Fitri bisa dibayar mulai bulan Ramadan dan selambat lambatnya sebelum salat Idul fitri tanggal 1 Syawal, seperti disebutkan dalam hadis dari Abdullah Ibnu Umar berikut ini :

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ أَوْ رَجُلٍ أَوْ امْرَأَةٍ صَغِيرٍ أَوْ كَبِيرٍ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ.

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik telah mengabarkan kepada kami Ad-Dahak dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw telah mewajibkan Zakat Fitri di bulan ramadlan atas setiap jiwa dari kaum muslimin, baik orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki atau pun perempuan, anak kecil maupun dewasa, yaitu berupa satu sha' kurma atau satu sha' gandum. (H.R. Muslim)

Perlu dipahami, bahwa zakat fitri wajib dikeluarkan pada saat terbenamnya matahari hari terakhir Ramadan, memiliki konsekuensi bahwa : orang muslim yang meninggal sebelum saat tersebut, tidak wajib membayar zakat fitri, karena ketika ia meninggal zakat fitri belum jatuh tempo. Kemudian anak yang lahir sesudah terbenam matahari tidak wajib dibayarkan zakat fitri, karena ia lahir setelah zakat fitri jatuh tempo. Sebaliknya, orang yang meninggal setelah terbenam matahari di akhir Ramadan, juga orang masuk Islam dan anak yang lahir sebelum terbenamnya matahari pada hari terakhir Ramadan, wajib dibayarkan zakat Fitrinya. Selanjutnya zakat Fitri boleh diajukan pembayarannya sebelum terbenamnya matahari.

Pemberian waktu yang lebih panjang untuk pembayaran zakat Fitri sebelum waktu akhir Ramadan akan lebih memudahkan umat Islam di masyarakat, lebih lebih apabila pengumpulan zakat itu dilakukan oleh panitia yang mencakup kawasan yang luas yang memerlukan waktu yang panjang dalam pengumpulan dan pendistribusiannya.

Adapun mengenai batas akhir pembayaran zakat fitri, adalah sebelum mengerjakan salat ‘Id. Apabila dibayarkan setelah salat ‘Id, maka pembayaran itu bukan sebagai zakat Fitri, melainkan sedekah biasa. Dan orang ini belum menunaikan kewajiban zakat fitri.

Siapakah yang wajib membayar zakat fitri?

Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah, orang yang wajib membayar zakat fitri adalah orang yang berkelapangan rizki, baik laki laki, perempuan, dewasa, anak anak. Orang yang berkelapangan adalah orang yang pada malam hari raya Idul fitri memiliki kelebihan kebutuhannya dan kebutuhan orang yang ditanggungnya. Zakat fitri dibayar oleh orang yang menanggung nafkahnya. Anak kecil yang ditanggung ayahnya, orang lanjut usia yang ditanggung oleh kerabatnya, wanita yang ditanggung oleh suaminya.

Kadar zakat fitri yang harus dibayar untuk tiap tiap orang minimal satu ṣā’ (2,5 kg) dari bahan makanan pokok atau uang seharga makanan tersebut. Adapun orang yang berhak menerimanya hanya orang fakir dan miskin, dan bukan asnaf lain dari delapan yang ada. Penyaluran zakat ke asnaf delapan berlaku untuk zakat harta.

Dalam putusan Tarjih, ditegaskan bahwa “Adapun zakat fitri, bagikanlah kepada orang orang fakir dan miskin. Zakat itu boleh kamu keluarkan sebelum waktunya”.

Zakat fitri di saat Covid-19

Kita semua merasakan bahwa bulan ramadhan tahun ini, berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, saat ini semua manusia sedang mengalami cobaan yang berat dengan adanya virus Corona atau disebut juga Covid-19, untuk menghadapinya, Pemerintah maupun Ormas ormas Islam menganjurkan  berdiam diri di rumah/ tidak bepergian, beribadah di rumah, dan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk merajut kembali kekeluargaan kita supaya lebih kokoh. Hal ini dilakukan supaya rantai penularan Covid-19 segera terputus. Namun disisi lain banyak orang yang kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, bahkan sulit untuk mengusahakan kebutuhan primernya (makan dan minum). Situasi seperti inilah sebenarnya menjadi kesempatan orang mu’min untuk bisa meraih derajat taqwa yang lebih tinggi di bulan ramadhan. Mengapa demikian ? bagi orang orang mampu bisa segera memulai pembayaran zakat fitri di awal ramadhan, bahkan zakat takjil yang biasanya diberikan ke Masjid untuk buka bersama, bisa diberikan dalam bentuk bahan sembako yang diberikan secara bertahab (awal, pertengahan, dan akhir ramadhan). Panitia pengumpul takjil maupun zakat fitri bisa segera merumuskan dan bekerja untuk pengumpulan dan pembagiaannya.

Zakat merupakan kewajiban orang Islam yakni mengeluarkan sebahagian hak hak fakir miskin, karena sesungguhnya harta pemberian Allah swt kepada kita itu bukan untuk kita semua, namun ada sedikit hak fakir miskin yang menempal pada harta kita. Oleh karena itu kewajiban segera menunaikan zakat merupakan hal yang baik. Kendati demikian untuk meningkatkan kebaikan kita, lebih lebih disaat pandhemi covid-19 ini takaran zakat minimal (sebagaimana diperintahkan Allah swt), perlu ditambah atau dibesarkan guna meringankan beban masyarakat dilingkungan kita masing masing, juga seyogyanya dibayarkan sebelulum waktunya, agar segera bisa dimanfaatkan bagi yang berhak menerimnya.  Dengan demikian berbagi zakat bisa dikembangkan lagi menjadi berbagi rizki. Berapun rizki yang kita peroleh sebaiknya tetap kita bagi dengan mereka yang membutuhkan.