Akhlak Berbisnis III : Berbisnis Ala Nabi Muhammad

08 September 2015 15:54 WIB | dibaca 922 | oleh: Aisyiyah

Ilustrasi (Sumber : google image)

 

Jual beli baik jasa atau barang telah dilakoni umat Islam sejak dahulu kala. Sejarah mencatat Nabi Muhammad semasa awal kehidupannya dikenal sebagai pelaku bisnis yang dipercaya yang membuatnya dijuluki Al-Amin. Kepercayaan yang diterimanya kerap membuatnya diamanahi untuk berbisnis ke berbagai tempat. Setidaknya ada empat sikap Nabi Muhammad yang bisa menjadi teladan dalam menjalankan bisnis agar memberi manfaat kepada kedua belah pihak.

 

Pertama, Shiddiq (benar atau jujur). Berlaku jujur dalam berbisnis harus menjadi sifat yang tersemai dalam jiwa pelaku bisnis. satelit peta Sifat ini diimplementasikan ketika melakukan produksi jika itu barang, kemudian pemasaran, berhubungan dengan pelanggan atau berinteraksi dengan nasabah. Dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnis juga harus dijalankan secara jujur.

 

Kedua, amanah artinya dapat dipercaya, bertanggung jawab, kredibel, dan bersungguh-sungguh untuk memenuhi sesuatu dalam bisnis sesuai dengan ketentuan atau kesepakatan yang sudah diikrarkan kedua belah pihak.

 

Ketiga, fathanah (cerdas). Dalam berbisnis, sifat ini diartikan sebagai kemampuan berpikir, cerdas, dan bijaksana. Pelaku bisnis yang fathanah adalah mereka yang memahami, mengerti, dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajibannya.

 

Keempat, tabligh berarti komunikatif dan argumentatif. Pelaku bisnis yang memiliki sifat tabligh adalah orang yang menyampaikan sesuatu secara benar dan dengan tutur kata yang tepat (bil hikmah). Berbicara, berdiskusi, dan melakukan presentasi bisnis hendaknya menggunakan tutur kata yang mudah dipahami oleh rekan bisnis.