Tantangan dan Strategi Keluarga di Era Global dan Teknologi Informasi

28 Februari 2017 14:38 WIB | dibaca 996 | oleh: Susilaningsih Kuntowijono (Ketua PP 'Aisyah )

Tantangan Era Global

Era global di tandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara pesat di segala bidang, termasuk perkembangan teknologi informasi. Produk-produk berbagai peralatan yang di perlukan manusia, di antaranya adalah alak komunikasi dan transportasi, menjadi semakin canggih dan menarik serta dapat membarikan kemudahan di dunia kerja. Produk-produk itu di tawarkan dengan cara menarik dan mudah di peroleh sehingga manusia juga mudah untuk memilikinya. Mobilitas manusia menjadi semakin luas, mudah , dan cepat. Segala macam infromasi baik bersifat global dan nasional dapat di peroleh dengan mudah dan cepat. Keberhasilan hidup manusia sangat terbantu oleh kemajuan teknologi informasi itu. Namun kemudian manusia menjadi cenderung ingin yang bersifat gampang, pragmatis. Mereka juga semakin konsumtif dan materialistik. Pikiran di kuasai dengan dorongan untuk memenuhi tawaran-tawaran yang menawan itu, sehingga sehari-hari menjadi sibuk bekerja untuk menambah penghasilan. Hubungan antar anusia menjadi semakin renggang dan formalistik.

Kemajuan teknologi informasi menjadikan dunia terasa sempit dan waktu juga terasa bergulir secara cepat. Segala bentuk informasi baik positif maupun negatif dapat diakses secara mudah oleih setiap individualdari segala lapisan dan segala umur. Syarat hanyalah mempunyai alat komunikasi sejenis handphone yang penggunaanya sangat mudah sehingga anak balitapun dapat mengoperasikannya dan dianggap sebagai mainan. Bagi orang orang yang memang memerlukan informasi sebanyak-banyaknya dan secara cepat untuk kepentingan kegiatan positif keberadaan alat ala informasi  sejenis handphone, tablet, ipad, blackberry, laptop memang sangat menguntungkan. Tetapi bagi orang oang yang kepribadiaanya kurang kuat kemudahaan penggunaan alat alat komunikasi dapat mengarahkan kepada kepada tumbuhnya sifat dan perilaku negatif. Banyak penipuan, perselinggkuhan, pemerasan, dan kejahatan terjadi karena penggunakan alat-alat tersebut. Berselewerannya informasi pornografi dan pornoaksi secara mudah juga menambah semakin meningkatnya tindak seks bebas baik di kalangan dewasa, remaja, bahkan anak anak usia Sekolah Dasar. Apabila penggunaan alat alat komunikasi tidak di sertai dengan pembentukan pribadi berakhlak mulia serta pemahaman tentang penggunaan  alat komunikasi secara tepat maka kepribadian seseorang mudah menyimpang yang dampaknya juga akan mempengaruhi keutuhan dan kesejahteraan keluarga.

Berbagai kasus keretakan keluarga yang semakin meningkat sebagiannya juga diakibatkan oleh penggunaan alat komunikasi dan dampak sosial media yang tidak dimaafkan dengan semestinya. Tingkat perceraian di indonesia semakin meningkat. Data dari Kementrian Agama tahun 2012 dan 2013, rata-rata pertahun terjadi 350.000 kasus perceraian, sehingga bila di perhitungkan perhari 959 kasus dan per jam 40 kasus, tertinggi di Asia Pasifik (Data kemenag 14 November 2014, Republika online, 14 Desember 2014). Penyebabnya utamanya adalah perselingkuhan yang sebagiannya kerena dampak hubungan via sosial media, dan juga KDRT. Hubungan seksual pada remaja dan anak-anak semakin merebak yang juga berakibat pada peningkatan kasus KTD (Kehamilan Tidak Dikehendaki), pernikahan usia dini, dan prostitusi anak dan remaja. Sebagai contoh, juga berita di Republika online kasus kehamilan dan melahirkan di luar nikah di yogyakarta 2015, usia 9 tahun 1 orang, usia 18-19 tahun 100 orang, dan itu fenomena gunung es. Yang tidak terdata pasti lebih banyak 

Dampak lain dari pengaruh mudahnya akses terhadap pemaparan pornografi dan pornoaksi di media sosial mendorong terjadinya kekerasan dan kejahatan seksual. Kasus kekerasan dan kejahatan seksual terhadapa anak belakang ini juga menjadi berita yang memilukan bagi setiap keluarga. Contoh kasus sekitar satu tahun lalu menyeruak media massa adalah di temukannya mayat anak perempuan usia 9 tahun warga Kali Deres Jakarta di dalam kardus yang merupakan korban kejahatan seksual. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kekerasan terhadap anak selalu meningkat setiap tahun. Data berikut ini menunjukan bahwa peningkatan secara signifikat terjadi dari tahun 2011 sampai tahun 2014. Pada tahun 2011 terjadi  2.178 kasus ,tahun 2012 terjadi 3.512 kasus, tahun 2013 terjadi 4.311 kasus, dan tahun 2014 terjadi 5.066 kasus (Harian Terbit, Minggu 14 juni 2015). Ada tiga lingkungan terjadi kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak yaitu lingkungan keluarga,sekolah, dan masyarakat.

Paparan di atas adalah contoh adanya ancaman sekaligus tantangan yang harus di hadapi pada era global dan teknologi informasi. Masih banyak lagi ancaman lain  terhadap tegaknya keluarga masa depan anak di era global ini. Dua di antaranya adalah ancman HIV-AIDS pada anak dan isteri, serta di jadikanya anak-anak sebagai sasaran korban dan agen narkotika yang telah di kemas menjadi permen atau cokelat seharga seribu rupiah dan di pasarkan di Sekolah Dasar. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era global memang memberikan banyak keuntungan bagi kemajuan manusia, namun dampak negatifnya ternyata juga banyak dan mengancam eksistensi kemanusiaan serta kesejahteraan keluarga. Apabila tegaknya suatu keluarga mengalami keadaan negatif sebagaimana di contoh-contoh di atas, maka keluarga tidak dapat berfungsi untuk mendukung hadirnya bangsa yang berkemajuan. Oleh karena itu diperlukan adanya strategi untuk antisipasi dan penangananya, dan pada paparan berikut ini akan di sampaikan beberapa strategi alternatif itu.

STRATEGI PENGUATAN KELUARGA DI ERA GLOBAL

 Ada dua (2) strategi yang ditawarkan dalam tulisan ini,agar suatu keluarga dapat menghadapi tantangan di era global, yaitu strategi persiapan berkeluarga dan strategi penguatan keluarga.

Strategi Persiapan Berkeluarga 

Di indonesia tidak ada sekolah berkeluarga. Pada dasarnya orang membangun suami isteri, pengasuhan anak, dan pengolahan ekonomi keluarga, mengalir begitu saja dan seperti bersifat coba-coba. Keadaan tersebut mungkin tidak begitu menimbulkan masalah bagi pernikahan yang terjadi pada dekade 60an dan 70an karena pengaruh lingkungan relatif belum dominan. Orang tua masih menjadi figur idola utama bagi anak-anaknya dalam mengelolah keluarga, dan nilai-nilai agama masih mempunyai pengeruh dominan. Tetapi semenjak mamasuki abad ke -21 ketika arus pengerauh budayaglobal mengalir bebas, kompetisi antar manusia semakin tinggi, manusia menjadi materialistik dan pragmatis, tawaran kenikmatan hedonistik lebih manarik daripada nilai moral dan agama. Maka untuk bekeluargapun tampaknya perlu ada sekolahnya, baik secara informal melalui keluarga, secara no formal melalui peran masyarakat, maupun secara formal melalui sekolah.

Keluarga, khususnya orang tua berperan sentral dalam menyiapkan anak-anaknya untuk bekeluarga nantinya. Melalui pola asuh yang diterapkan dalam keluarga, orang tua harus menjadi figur idola . Hubungan harmonis dalam keluarga yang di bangun orang tua akan menjadi model bagi anak-anaknya kelak, untuk menjadi manusia religius, kreatif, dan produktif, serta memiliki rasa penuh kasih sayang. Dalam melaksanakan pengasuhan pada anak-anaknya orang tua dapat menerapkan "9 Jurus Menjadi Orangtua Bijak" sebagi berikut. 1) Pentingnya Bermain dan 'Waktu Kita', 2) Memuji Anak, Membangun Sikap Positif, 3)Keseimbangan,Disiplin,dan Cinta, 4) Mendengar Aktif, Mendengar dengan Hati, 5) Ritual Keluarga Hadapi Perubahan, 6) Pikir Dulu Sebelum Berkata 'Tidak', 7) Stabikan Emosi dan Komunikasi, Kuatkan Cinta, 8) Waktu Rehat, Waktu Berfikir, 9) Waktu Untuk Menjadi. (Rani Anggraini Dewi, Conscious Parenting (makalah), hlm.7, 22 November 2016).

Di samping itu orang tua juga perlu merancang pendidikan berkeluarga melalui proses pengasuhan anak-anaknya, baik semasa masih anak-anak maupun remaja. Melalui model pendidikan seksual yang tepat maka diharapkan anak-anak dapat terhindar dari perilaku penyimpangan seksual. Dengan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari orangtuanya, anak dapat terhindar dari tindak kekerasan. Tidak banyak orang tua yang mempunyai kemampuan untuk menyiapkan anaknya dalam berkeluarga. Oleh karena itu perlu adanya kursus atau sejenisnya yang di kelolah oleh lingkungannya, misalnya dari organisasi kemasyarakatan yang ada termasuk 'Aisyiyah atau dari PKK. Kursus dan kegiatan sejenisnya itu dapat dikelola oleh pendidikan non formal, yang juga dapat membuka kursus berkeluarga/pranikah bagi remaja dan pemuda di lingkungannya. Sedangkan penyiapan meteri tentang berkeluarga yang diintegrasikan pada materi pelajaran yang terkai pada semua jenjang sekolah dari SD sampai SMU dan di sesuaikan dengan usia anak.

Strategi Penguatan Keluarga

Keluarga yang sudah terbentuk juga memerlukan penguatan, Khususnya dalam hal hungungan suami isteri dan strategi pengasuhan anak. Karena mungkin pasangan suami isteri memerlukan bantuan pemahaman dan keterampilan berkeluarga, atau mungkin suatu keluarga sedang mengahadapi masalah yang memerlukan bantuan untuk pemecahnya. Maka diperluakan adanya suatu lembaga atau sejenisnya untuk menyiapkan forum yang dapat memberi bantuan. Forum itu dapat berbentuk biro konsultasi atau berbentuk lembaga kursus keluarga.

Biro konsultasi dan lembaa kursus dapat didirikan oleh lembaga pemerintah terbawah yaitu tingkat kelurahan, RW dan RT. Biro konsulasi dapat berbentuk sederhana, misalnya suatu kelompok kecil di sebuah komunitas yang terdiri dari beberapa orang yang peduli terhadap permaslahan keluarga di lingkungannya. Biro konsultasi dapat menangani tentang permasalahan yang dihadapi oleh keluarga, baik yang berdifat konsultatif maupun kuratif.

Lembaga kursus keluarga diperuntukan bagi keluarga dan sebaiknya pasangan suami isteri. Materi-materi yang di berikan di antaranya tentang komunikasi efektif dalam keluarga, komunikasi seksual suami isteri, pola pengasuhan anak, strategi pengelolahan ekonomi keluarga, dan strategi kewirausahaan. Materi-materi tersebut dapat membantu untuk memecahkan masalah-masalah krusial dalam keluarga. Misalnya masalah komunikasi, sebenarnya mungkin suami isteri masih saling menyanyangi tetapi karena tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi secara efektif maka sering terjadi kesalahpahaman yang berujung pada perceraian. Demikian pula tentang masalah pola asuh terhadap anak-anak, banyak orang tua yang sebenarnya kurang tahu tentang cara pengasuhan anak, apalagi dalam era informasi terbuka seperti sekarang. Sedangkan pengetahuan tentang kewirausahaan dapat menjadi alternatif jalan keluar bagi permasalahan ekonomi yang di hadapai keluarga.

Penutup

Mengelola keluarga di era global memang penuh tatangan yang dapat menggelincirkan perjalanan suatu keluarga. Namun dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam dan tetana berkeluarga serta menerapkan strategi-strategi baru dalam pengelolaan keluarga serta diiringi komitmen tinggi dan kepasrahan kepada Allah Swt, insya Alla suatu keluarga dapat mencapai terminal hidup berkeluarga yang penuh nikmat dan barakah.