Sakinah Melalui Pendidikan Pra-Nikah dalam Keluarga

27 Juli 2018 09:36 WIB | dibaca 41 | oleh: 'Aisyiyah

sumber: kabarbanyuwangi.info

 

Pernikahan merupakan fitrah kemanusiaan universal yang telah ada sejak manusia diciptakan oleh Allah. Semua agama memiliki tuntunan pernikahannya masing-masing. Allah telah menciptakan seluruh makhluk-Nya berpasang-pasangan, yang telah disyaratkan dalam Q.S adz-zariyat (51): 49 dan Q.S yasiin (36): 36. Sebagai ad-din pembawa rahmah dan bersifat universal, Islam telah menuntunkan bagaimana pernikahan disiapkan agar tujuan kesakinahan dapat terwujud.

Kegagalan dalam pernikahan hingga berujung perceraian dapat terjadi karena kurangnya persiapan dari masing-masing pasangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Sehingga pasangan kurang memahami kewajiban dan hak yang sebaiknya dilakukan saat berumah tangga.

Kesakinahan yang tidak terwujud dalam pernikahan akan menimbulkan kegagalan dalam pernikahan bahkan perceraian. Penting bagi orang tua untuk memberikan gambaran bagaimana kehidupan pernikahan kepada anaknya sebelum memasuki jenjang pernikahan. Pendidikan pra-nikah dalam keluarga sangat dianjurkan, dimana orang tua memiliki kewajiban untuk menikahkan anaknya apabila anak sudah siap menikah.

Dalam buku “Tuntunan menuju Keluarga Sakinah” telah dirumuskan kewajiban orang tua terhadap anak pada Bab III tentang Hak dan Kewajiban dalam Keluarga Sakinah. Ada delapan kewajiban orang tua kepada anak pada usia dewasa dan menjelang pernikahan. Pertama, orang tua memberikan arahan agar anak aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan keorganisasian untuk memupuk jiwa sosial, kemanusiaan, dan kepemimpinan. Kedua, orang tua memberikan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi sesuai dengan usia perkembangannya. Ketiga, apabila telah sampai waktunya, anak dipandu dalam memilih pekerjaan maupun profesi untuk mengamalkan ilmu dan keterampilannya serta mendapatkan rezeki yang halalan thayyibandan berkah.

Keempat, apabila anak telah ada kecenderungan untuk menikah, sebaiknya dilakukan pendekatan dan konsultasi agar tidak keliru dalam memilih pasangan dengan mengutamakan pertimbangan agama di samping faktor kafaah(setara) dalam pendidikan, sosial, dan ekonomi. Kewajiban kelima, mengarahkan anak agar dapat menjaga kehormatan diri dan keluarga dengan menerapkan pergaulan secara islami, bila sudah ada kesepakatan tentang calon yang dikehendaki. Hendaknya anak diarahkan untuk menghindarkan diri dari model tunangan dan pergaulan bebas. Keenam, bila sudah tiba waktunya segera dinikahkan sebagaimana kodrat manusi untuk mengikuti sunnah Nabi SAW dan kemudian dihadapan pegawai pencatat nikah.

Kewajiban ketujuh yakni setelah menikah, orang tua memiliki kewajiban untuk selalu mengingatkan anaknya agar menyadari bahwa hidup sebagai orang beriman harus selalu beribadah dan membersihkan diri dari segala perbuatan haram, terutama dalam mencari nafkah untuk keluarga. Kedelapan atau yang terakhir, orang tua hendaknya juga mengingatkan anak bahwa kehidupan berumah tagga itu ada pasang surutnya sehingga suami-istri harus saling berjuang untuk bisa mengatasinya.

Beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk pernikahan diantaranya mengedukasi anak untuk mempersiapkan pernikahan yang sakinah, agar terwujud keluarga yang dilandasi rasa saling menyayangi dan menghargai dengan rasa tanggung jawab dalam menghadirkan suasana kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah SWT. Persiapan secara lahiriah juga menjadi penting, diantaranya persiapan fisik, mental-psikologis, intelektual, ekonomi, kehidupan bermasyarakat, dan persiapan spiritual.

Kesiapan pernikahan usia anak dapat dilakukan secara terencana dengan mengikutkan anak-anak pada aktivitas pendidikan pra-nikah. ‘Aisyiyah sendiri telah memiliki program dan kegiatan Pelatihan Pra-Nikah. Nasyi’atul ‘Aisyiyah juga telah memiliki program dan kegiatan “Samara Course”. Kementerian Agama telah melakukan kegiatan Bimbingan Perkawinan yang diselenggarakan oleh KUA bagi pasangan yang mau menikah. Dengan bekal tersebut, anak yang sudah siap menikah memiliki pemahaman dan kesadaran berbagai macam ilmu dan kecakapan berkeluarga dengan prinsip kesetaraan, keadilan, dan saling mendikung untuk mewujudkan pernikahan menuju perwujudan Keluarga Sakinah.