PUASA, COVID-19 DAN KELUARGA KUAT

04 Mei 2020 15:26 WIB | dibaca 390 | oleh: Novri Tanius (Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

Bulan Ramadan merupakan bulan mulia penuh rahmat bagi umat Islam yang Allah hadirkan setiap tahunnya. Pada Ramadan tahun ini tidak hanya rahmatyang Allah hadirkan, tetapi hadir juga virus Corona atau Covid-19 sebagai bagian takdir Allah berupa ujian yang penyebarannya merata hampir di seluruh pelosok bumi yang dihuni oleh manusia.

Beberapa perubahan terjadi dalam kehidupan beribadah manusia muslim yang biasanya memiliki pola khusus selama menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadan. Pertama, sholat berjamaah baik sholat wajib ataupun sholat Qiyamul Lail. Ibadah tersebut biasanya dilakukan mayoritas muslim di berbagai belahan dunia secara berjamaah di masjid-masjid. Pada situasi Covid-19 seperti sekarang ini, masjid tidaklah lagi menjadi tempat yang dianjurkan untuk beribadah. Semua sholat baik wajib ataupun sunnah dilaksanakan di rumah masing-masing. Kondisi seperti ini harus bisa diambil hikmah positifnya,berupa kesempatan antar anggota keluarga untuk menjadi lebih dekat. Orang tua terutama peran ayah diharapkan bisa menjadi sentral dalam mengorganisir ibadah ini. Perannya sebagai kepala keluarga akan sempurna dengan menjadi imam pemimpin sholat yang baik bagi seluruh anggota keluarganya. Anak-anak juga akan memiliki kebanggaan dan kenangan menikmati suguhan tarawih dan shalat sunnah lainnya yang biasanya dipimpin oleh tokoh tertentu di masjid, kini dipimpin langsung oleh orang tua mereka.

Kedua, berbuka puasa berjamaah di masjid. Berbagai masjid di Indonesia hampir keseluruhannya mengadakan program buka bersama. Program tersebut biasanya tidak sekedar makan bersama melainkan juga diadakan program tausiyah menjelang berbuka puasa. Pada masa pandemi Covid-19, orang tua diharapkan mampu menghadirkan program tersebut di rumah dengan konsep yang sederhana. Seluruh anggota keluarga menyiapkan hidangan berbuka dan menjelang berbuka diisi pembacaan hadits oleh kepala keluarga atau tanya jawab seputar pembelajaran etika kepada anak-anak.

Ketiga, iktikaf, zikir dan tadarus. Ibadah ini juga banyak yang melakukannya di masjid secara berjamaah. Maka pada saat wabah Covid-19 ini keluarga diharapkan mampu menjadwalkan waktu tertentu agar seluruh anggota keluarga bisa mendapatkan hak kekhusyukan ibadah yang memerlukan ketenangan. Semua anggota keluarga memiliki kesepakatan waktu untuk menjalankan ibadah iktikaf zikir dan tadarus. Keadaan rumah sebisa mungkin dibuat tenang tanpa dering telepon genggam, tanpa televisi, atau suara-suara bising lain yang berpotensi mengganggu kekhusyukan beribadah.

Selain membatasi kegiatan beribadah secara berjamaah di luar rumah, keluarga muslim hendaknya juga memiliki ketahanan ekonomi di saat krisis yang merupakan dampak dari berhentinya perputaran uang di berbagai sektor selama masa Covid-19. Kegiatan yang sekiranya bisa mengeluarkan banyak uang seperti belanja berlebih untuk sajian berbuka ataupun membeli makanan ringan pendamping tadarus bisa dialihkan untuk anggaran belanja bahan dasar mentah di warung tetangga. Memasak makanan sendiri tentunya memiliki banyak kelebihan seperti lebih terjamin kebersihannya dan lebih hemat.

Apabila di sebuah keluarga mampu menekan uang keluar dengan memasak makanan sendiri, maka uang lebih tersebut juga bisa dibelanjakan bahan makanan pokok yang bisa dibagikan kepada tetangga sekitar terdampak Covid-19. Mungkin ada di antara tetangga sekitar kita yang pencari nafkah di keluarga itu dirumahkan oleh perusahaannya tempat bekerja dikarenakan krisis Covid-19.

Saat berbagi itulah sebuah keluarga berusaha memberikan sebagian miliknya bukan karena adanya penambahan pemasukan keuangan, tetapi dikarenakan tekad kuat saling membantu dengan memangkas pengeluaran sekunder yang tidak terlalu penting. Kegiatan Saling memberi itu adalah hakikatnya sedang menerapkan saripati hikmah dari orang yang sedang beribadah puasa. Orang yang berpuasa merasakan lapar, haus, lemas dan lesu. Apa yang dirasakan oleh orang yang berpuasa itu tidaklah ditampailkan kepada orang lain. Orang yang berpuasa tetap senyum, menampilkan semangat, memberi energi positif sehingga memotivasi orang di sekitar untuk ikut beribadah selama Ramadan. Semoga Allah menguatkan kita karena kita saling membahu menguatkan sesama muslim ummat-Nya. Aamiiin.