Perempuan dan Penguasaan Ilmu Pengetahuan

04 Agustus 2020 11:38 WIB | dibaca 265 | oleh: Aly Aulia (Direktur Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta)

Dalam sejarah tradisi Arab jahiliyyah, kondisi perempuan sangat memprihatinkan. Perempuan dianggap tidak berharga, ditindas, dirampas, dijadikan tawanan, bahkan menjadi komoditas. Mengubur bayi perempuan hidup-hidup merupakan hal yang biasa terjadi. Dalam hal perkawinan, perempuan diperlakukan semena-mena oleh suaminya, dipoligami tanpa batas dan syarat, serta dapat ditukar dengan orang lain. Perempuan tidak mendapat hak waris, bahkan jika suaminya meninggal, ia menjadi barang yang dapat diwariskan kepada anak tirinya.

Realitas tidak manusiawi saat itu disebabkan oleh paradigma bahwa perempuan secara eksistensi berasal dari laki-laki, hidupnya untuk laki-laki, dan tidak memiliki independensi atas dirinya. Padahal dalam al-Qur’an telah dijelaskan dengan sangat lengkap mengenai perempuan. Perempuan di dalam al-Qur’an disebut dengan kata mar’ah, nisa’, untsa, banat, serta lebih umumnya dengan sebutan-sebutan yang menggunakan dlamir muannats, seperti mukminat, muslimat, shalihat, zariyat, dan sebagainya.

Di antara penjelasan al-Qur’an terkait perempuan ialah penjelasan mengenai asal-usul perempuan, eksistensi perempuan, relasi perempuan dengan laki-laki, hak dan kewajiban perempuan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Tulisan ini akan memfokuskan pembahasan pada persoalan perempuan dan penguasaan ilmu pengetahuan.

Kepedulian al-Qur’an tentang pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dapat dilihat dari dorongan untuk belajar, berpikir, dan merenung. Ayat yang pertama kali turun berisi perintah membaca (iqra’).

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Q.S. al-Alaq: 1)

Perintah Allah tersebut tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw., tetapi berlaku juga untuk umatnya, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini didukung oleh ayat serta hadits yang berisi pujian terhadap orang-orang yang berpengetahuan dan kecaman kepada mereka yang tidak berpengetahuan.

Banyak ayat yang “memancing” kita supaya berpikir, menggunakan akal, melakukan observasi, kajian, penelitian, dan introspeksi. Ungkapan ta’qilun/ya’qilun, yatafakkarun, dan sebagainya yang diawali dengan la’alla menuntut kita untuk melakukan kajian. Nabi Muhammad saw., juga menegaskan dalam haditsnya bahwa menuntut ilmu adalah salah satu upaya yang mengantarkan seseorang menuju surga-Nya.

“(Diriwayatkan) dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw., bersabda: siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga.” (H.R. at-Turmudzi)

Di lain kesempatan, Nabi saw., bersabda:

“(Diriwayatkan) dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw., bersabda: Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (H.R. Ibnu Majah)

Meskipun hadits itu tidak menyebutkan kata muslimah, sebagaimana pola al-Qur’an dan as-Sunnah, sepanjang tidak ada indikator yang menghalanginya, jika digunakan bentuk panggilan kepada laki-laki ia mencakup pula kepada perempuan.

Sering dinyatakan bahwa salah satu tugas utama perempuan adalah mendidik putra-putrinya. Namun, bagaimana tugas mulia ini dapat ditunaikan dengan baik apabila perempuan tidak diberi kesempatan belajar? Saat ini, berbagai disiplin ilmu pengetahuan sangat beragam. Perempuan dapat memilih disiplin tertentu dari ilmu pengetahuan itu sesuai dengan bakat dan minatnya.

Kemudian, lahir pertanyaan: bagaimana apabila perempuan melakukan studi dengan meninggalkan rumahnya, sementara terdapat hadits yang menyebutkan bahwa perempuan tidak boleh berada dalam perjalanan lebih dari dua hari tanpa disertai mahram?

Larangan Nabi tersebut harus dipahami dengan memperhatikan illat atau motif Nabi saat menyabdakannya. Dengan memperhatikan hadits lain yang setema, terungkap bahwa larangan tersebut didorong oleh kekhawatiran terjadinya gangguang terhadap perempuan dalam perjalanannya. Apabila perempuan berangkat ke medan belajar dapat menghadapi kekhawatiran tersebut, baik di tanah airnya maupun di luar negeri, maka perempuan dibenarkan untuk belajar.

Allah menegaskan dalam firmannya pada Q.S. al-Ghafir (40) ayat 40 yang artinya:

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.

Kisah Sahabiah Nabi

Allah memberikan penghargaan yang sama antara karya positif laki-laki dan karya positif yang dihasilkan perempuan, dengan harga yang sama. Al-Qur’an telah mengambil pendekatan yang seimbang dengan menceritakan sejumlah kisah. Perempuan dalam kisah-kisah itu tidak hanya digambarkan sebagai ibu atau istri, tetapi sebagai individu bebas yang jasanya tidak terkait dengan dua peran tradisional tadi.

Maryam, misalnya, salah satu perempuan yang paling dihormati dalam sejarah. Allah memastikan status dan kepeduliannya yang tinggi. Maryam diigambarkan sebagai orang yang yaay dan suci yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk menyembah Tuhan.

Menariknya, keunggulan atau keistimewaannya bukan karena kehamilannya dan melahirkan Nabi Isa. Penyebutan yang berulang-ulang tentang jabatannya yang tinggi lebih disebabkan oleh tindakan pengabdian, ketekunan, iman, kemurnian, dan kesuciannya, bukan status perkawinan atau sosialnya.

Selain itu, ada Ratu Balqis. Ratu Balqis ditandai dalam al-Qur’an karena kemampuan politik, kecerdasan, dan keanggunannya. Ia adalah penguasa yang berdaulat, memimpin rakyatnya, dan terlibat dalam negosiasi politik di masanya.

Hal yang menarik dan perlu dicatat adalah bahwa tidak ada penyebutan kehidupan pribadi Ratu Balqis: apakah dia mempunyai anak atau suami. Demikian pula narasi al-Qur’an tentang hubungan antara Ia dengan Nabi Sulaiman, yang hanya berkisar pada diskusi mereka tentang keesaan Tuhan dan bagaimana Nabi Sulaiman menolak untuk disuap oleh hadiah mewahnya.

Pada akhirnya, statusnya yang unik ditegaskan kembali ketika dia menunjukkan kerendahan hati, keanggunan, dan kecerdasan yang luar biasa dengan menerima panggilan Sulaiman untuk tunduk kepada Tuhan. Nilai Ratu yang sebenarnya terletak dalam hati nurani, ilmu, dan kesiapannya untuk menerima kebenaran.

Kemudian ada Sayyidah Khadijah. Meskipun tidak secara eksplisit diceritakan dalam al-Qur’an, istri Nabi Muhammad saw., ini dikenal luas. Ia adalah pengusaha dan pedagang yang sukses dan berpengetahuan luas.

Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang tidak diragukan lagi kebenarannya, dan yang kedua ada hadits. Al-Qur’an megakui secara tegas bahwa perempuan memiliki beragam peran, fungsi, identitas, dan keadaan. Karena itu, perempuan tidak boleh terlepas dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dipandang dari satu sudut padang, ibu saja atau istri saja.

Sumber: Disarikan dari Suara 'Aisyiyah edisi 7 (Juli, 2020) hal. 21-22

Foto: @aisyiyahpusat