Peran Sosial Religius Masyarakat Kelas Menengah

07 September 2017 18:20 WIB | dibaca 995 | oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo

Masyarakat kelas menengah adalah masyarakat yang para anggotanya terdiri dari keluarga-keluarga yang secara ekonomi memiliki kemampuan memadai dan mapan untuk mencukupi kebutuhan hidup anggota kieluarganya dengan penghasilan tetap. Merela telah memiliki tempat tinggal dengan kamar-kamar terpisah bagi anggota keluarganya, kendaraan bermotor atau bahkan mobil bagi diri dan anak-anaknya, yang semuanya berksekolah sampai tingkat perguruan tinggi. Di samping itu jekuarga kelas menengah juga membiasakan berwisata secara periodik ke obyek-obyek wisata di dalam negeri atau bahkan ke luar negeri,misalnya pada waktu-waktu libur panjang.

Keluarga kelas menengah ini terdiri dari kelompok pegawai baik swasta maupun negeri yang sudah mempunyai posisi sebagai pimpinan atau pejabat, dosen, profesional, dan pedagang (buzinessman/women). di Indonesia jumlah masyarakat menengah ini setiap dekade meningkay secara significant. Khusus dalam lingkungan masyarakat muslim indikatornya dapat diamati pada peningkatan jumlah peserta jamaah Umrah yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Pengembangan Peran Sosial Religius Masyarakat Kelas Menengah

Salah satu karakter yang mungkin terbentuk pada masyarakat yang sudah merasa mapan secara ekonomi adalah sifat individualistis. Hal ini bisa terjadi terutama padamasyarakat yang mapan sudah cukup la,a dan semakin tinggi tingkat kemapanannya, dan tinggal di kompleks perumahan yang penghuninya adalah anggota masyarakat yang sama-sama mapan. Padahal daya sosial merupakan kemampuan dan sekaligus kebutuhan manusia. Kehilangan daya sosial dapat menjadikan manusia terkena gejala loneliness, rasa kesepian, walau berada diantara orang banyak.

Manusia kehilangan daya sosial dapat disebabkan salah satunya oleh rasa cukup denga dirinya sendiri. Maka kelompok masyarakat kelas menengah, yang telah memiliki seua kebutuhan hidupnya dan terutama tinggal di lingkungan elit yang terpisah dari lingkungan masyarakat umum dapat terkena gejala kehilangan daya sosialnya. Salah satu gejalanya adalah tidak adanya atau paling tidak berurangnya kepedulian pada kebutuhan lingkungan masyarakat yang berkekurangan. Mereka dapat berdalih bahwa masyarakat tersebut kurang suka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu, perlu ada usaha proses penyadaran tentang perlunya untuk mengembangkan kembali daya sosial tersebut. Salah satunya adalah dengan adanya usaha pengembangan peran sosial religius dalam masyarakat, diantaranya dengan mengembangkan filantropi Islam pada masyarakat kelas menengah.

Filantropi Islam sebagai Strategi Pengembangan Peran Sosial Religius dalam Masyarakat Kelas Menengah.

Filantropi Islam atau kedermawanan Islam yang biasanya dilaksanakan dengan memberikan zakat, infak, shadaqah (ZIS) kepada seseorang atau masyarakat yang membutuhkan, merupakan bagian utama dari amal shaleh dalam Islam. Kegiatan Filantropi dapat dilakukan secara individual, yaitu seseorang dapat mengirimkan sendiri langsung kepada yang berhak menerima, atau secara kelompok, yaitu  ZIS dikumpulkan dalam suatu kelompok masyarakat, kemudian secara bersama diserahkan kepada yang berhak. Untuk pengembangan sensitifitas sosial religius seseorang maka alternatif kedua yaitu pengumpulan dan penyerahan secara kelompok lebih efektif. Secara kelompok dapat mengembangkan kohesifitas dan kelekatan masing-masing anggota terhadap kelompoknya, serta dapat lebih maksimal dalam memberikan bantuan kepada yang membutuhkan. Oleh karena itu, pembentukan kelompok-kelompok masyarakat kelas menengah dapat lebih efektif dalam membangun dan mengembangkan peran sosial religius seseorang.

Pembentukan kelompok masyarakat kelas menengah atau juga kelas menengah atas terutama dapat dibentuk dalam lingkungan komplek perumahan elite sebagai tempat tinggalnya, yang biasanya terdiri dari rumah terpisah pagar dan tembok tinggi antar masing-masing rumah. Sementara itu, masing-masing anggota masyarakat tersebut mempunyai mobilitas tinggi dalam dunia kerjanya. Melalui pertemuan-pertemuan kelompok itulah kegiatan filantropi Islam daoat dilaksanakan, baik dalam pembahasan tentang bentuk bantuan yang dapat diberikan pada masyarakat yang membutuhkan, maupun dalam pengumpulan dana ZIS.

Pembentukan kelompok juga dapat dilakukan pada kelompok rombongan (pasca) Haji atau Umrah baik yang dikelola oleh Pemerintah, Biro Haji dan Umrah lain, dan juga yang dikelola oleh Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Semangat dan sensitifitas religius anggota rombongan ini sangat tinggi sehingga perlu ada wadah penyaluran yang efektif dan produktif, baik dari segi pengembangan spiritual individualnya maupun dari segi sensitifitas filantropinya maka di samping penyaluran ZIS secara karitatif, yaitu penyaluran langsung untuk masyarakat penerima, juga diperlukan penyaluran secara produktif misalnya unrtuk pemberian modal usaha, atau juga untuk pengembangan SDM seperti pendirian sekolah.

Sebuah catatan yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa salah satu karakter masyarakat kelas menengah adalah memiliki sensitifitas religiusitas yang tinggi. Oleh karena itu, masyarakat ini merupakan sasaran dakwah yang perlu mendapat perhatian serius dari Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

 

Disarikan dari Majalah Suara 'Aisyiyah edisi Agustus 2017