Pendidikan Seksual Hindarkan Perilaku Seksual Bebas

07 Desember 2018 13:41 WIB | dibaca 479 | oleh: Dr. Alif Muarifah, M.Psi (Majelis Tabligh Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

Manusia diciptakan Allah dengan bentuk yang paling sempurna dan di dalamnya, Allah menempatkan pikiran dan nurani sebagai pengontrol perilaku. Hal ini sesuai dengan firman-Nya Q.S at-Tin (95): 4 yang artinya “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Namun, untuk mencapai keunggulan tersebut, manusia melalui tahapan dan proses belajar yang panjang. Dimulai dari dalam kandungan, bayi, kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Di setiap tahapannya terdapat kaitan antara perkembangan fisik, psikologis, etika, moral, dan spiritual.

Moral sendiri bukanlah faktor genetika. Moral terbentuk melalui proses belajar panjang sesuai dengan tahapan perkembangan. Moral merupakan keselarasan antara fikiran, perasaan, dan tindakan berdasarkan norma hukum. Namun, kenyataan yang ada saat ini, kemerosotan moral melanda di semua belahan dunia, termasuk Indonesia. Salah satunya adalah maraknya seks bebas yang tercermin dari peningkatan kebebasan seksual pra-nikah di kalangan remaja dari tahun ke tahun.

Seks bebas merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis mulai dari menyentuh sampai bersenggama yang dilakukan di luar hubungan pernikahan (Sarwono, 2003). Hubungan seksual tanpa ikatan seperti ini menyebabkan maraknya fenomena berganti-ganti pasangan (Cynthia dalam Wicaksono, 2005).

Padahal Allah telah melarang perilaku seks bebas sesuai dengan firman-Nya Q.S al-Isra’ (17): 32 mengenai larangan untuk mendekat zina dengan melakukan hal-hal yang mengarah kepadanya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Seks bebas merupakan perilaku menyimpang yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal (Muarifah, 2018). Faktor internal antara lain, dorongan seks karena hormonal, kepribadian, tingkat kecerdasan, serta keimanan dalam keagamaan. Sedangkan faktor eksternal antara lain pengalaman belajar, keluarga, teman pergaulan, budaya, lingkungan (komunitas), narkoba, teknologi, serta sistem pemerintahan.

Salah satu cara preventif untuk menghindari seks bebas dapat dilakukan melalui pendidikan seks. Pendidikan seks dalam hal ini diartikan sebagai sebuah edukasi secara luas yang meliputi berbagai aspek, seperti biologis, orientasi seks, sosiokultural, moral, dan perilaku. Melalui pendidikan seks secara tersistem, anak akan belajar mengenai perilaku seks secara benar sesuai kesehatan, norma agama, dan masyarakat. Pendidikan seks di kalangan remaja dapat memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi hingga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti berjangkitnya penyakit menular seksual, penyakit kanker kandungan dan kanker payudara.

Terlebih bagi kehidupan anak remaja yang dipenuhi kegelisahan dan keingintahuan yang lebih dalam terhadap sesuatu. Dorongan libido seksual karena pengaruh hormonal menjadikan remaja mudah terjerumus pada pelanggaran moral yang salah satunya adalah seks bebas.

Pendidikan seks diharapkan dapat membantu remaja untuk membangun konsep perilaku seks yang benar sebagai bekal dalam memasuki kehidupan berkeluarga. Pendidikan seks perlu diberikan oleh orang tua, guru di sekolah, anggota masyarakat serta pemerintah secara simultan. Fungsi keluarga bagi anak seharusnya menjadi kunci utama dalam membangun kelembutan serta kasih saying sehingga potensi moral anak dapat berkembang secara optimal. Peran orang tua dalam keluarga yang dilakukan melalui komunikasi efektif akan membantuk rasa saling mencintai, kemampuan untuk saling memahami, serta kemampuan untuk menggunakan berbagai metode.

Peran orang tua dan guru yang baik menjadikan remaja lebih terbuka dan percaya diri dalam mengkomunikasikan problem-problem seksual yang dihadapi sehingga berbagai persoalan yang berkaitan dapat diselesaikan dengan cara yang baik. Pendidikan seks tidak dapat berjalan sendiri melainkan melibatkan berbagai komponen secara komprehensif.

Pendidikan seks dapat ditanamkan sesuai perkembangan psikologis yakni pada usia pra-sekolah, usia anak, remaja, dan dewasa (pra-nikah dan nikah). Pendidikan seks bukanlah hal yang tabu melainkan penting untuk dilakukan sebagai usaha preventif untuk menghindari penyimpangan serta pelecehan seksual. Dengan mengetahui risiko, hak, dan kewajiban terkait maka konsekuensi negatif akan terhindari.

Secara garis besar, usia anak dapat dibagi menjadi empat tahap, yakni usia 1-4 tahun, 5-7 tahun, 8-10 tahun dan 10-12 tahun. Usia 1-4 tahun, orang tua dan guru di sekolah disarankan memperkenalkan anatomi tubuh, termasuk organ genitalnya tanpa mengganti istilah lain. Usia 5-7 tahun, kognisi anak semakin berkembang dan keingintahuannya meningkat, maka berikan penjelasan tentang perbedaan organ antara laki-laki dan perempuan. Usia 8-10 tahun dimana anak sudah mampu membedakan sebab dan akibat, maka orang tua dan guru dapat menerangkan proses reproduksi secara sederhana, misalnya tentang sel telur, dan sebagainya.

Usia 11-13 tahun, anak mulai masuk masa pubertas yaitu masa di mana terjadi perubahan hormone dalam tubuh sehingga terjadi dorongan seks serta rasa tertarik dengan lawan jenis.

Komprhensifitas pendidikan seks perlu dijaga dengan pemberian beberapa materi standar yang mewakili seluk-beluk kesehatan reproduksi. Tim Sahaja PKBI DIY merumuskan enam prinsip pendidikan kesehatan yang harus diperhatikan. Pertama, terkait perkembangan manusia baik anatomi, reproduksi maupun fisiologi. Kedua, hubungan antar manusia baik dengan keluarga, teman, maupun pasangan. Ketiga, kemampuan personal baik dalam menilai, mengambil keputusan, berkomunikasi dan bernegosiasi. Keempat, perilaku seksual perlu diperhatikan, seperti abstinence yakni menaham diri untuk tidak melakukan sebagian atau semua aktivitas seksual karena faktor-faktor tertentu seperti agama. kelima, penting juga untuk memperhatikan prinsip kesehatan seksual seperti penggunaan kontrasepsi, pencegahan penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, aborsi serta kekerasan seksual. Keenam atau yang terakhir adalah budaya dan masyarakatb seperti gender, dan kaitannya dengan seksualitas dan agama.