Pembudayaan Busana Muslimah dalam Keluarga Sakinah

30 Januari 2018 11:30 WIB | dibaca 724 | oleh: Siti 'Aisyah (Dosen UCY, Ketua PP 'Aisyiyah)

Seiring dengan lahirnya 'Aisyiyah 100 tahun yang lalu, dengan mengusung spirit Islam berkemajuan, 'Aisyiyah mengenalkan busana muslimah di tengah-tengah masyarakat. Para aktifis tampil dengan busana muslimah yang dibalut nilai-nilai Islam tentang busana sebagai penutup aurat, etis dan estetis, menunjukkan identitas mukminah sebagai ekspresi imani, tanpa menghambat aktifitas musimah dalam melakukan dakwah dan tajdid. Di forum-forum pengajian, madrasah dan sekolah serta forum-forum lainnya dan kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun kolektif, para perempuan tampiul dengan identitas busana mulimah dipadu padan dengan kultur lokal menampilkan keunikan busana muslimah di era awal abad XX. Di Jawa para aktifis 'Aisyiyah mengenakan kain dan kebaya dilengkapi dengan kerudung. Perempuan muslimah di Sumatera mengenakan model baju kurung lengkap dengan kerudung Minangkabau. Aktifis 'Aisyiyah di Jawa, Sumatera, Gorontalo, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lainnnya semua mantap menampilkjan busana muslimah dengan landasan syar'i yang difahaminya dan sentuhan etika dan estetika budaya lokal.

Perkembangan mode busana muslimah di Indonesia cukup menggembirakan. Dalam masyarakat muncul berbagai macam istilah yang menunjuk pada busana muslimah. Dalam diskusi di PP 'Aisyiyah pada tanggal 22 Agustus 2016, Dr. Ustadzi Hamzah, sal;ah satu pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengidentifikasi berbagai istilah yang menunjuk busana muslimah yaitu, jilbab, hijab, khumur, syailah, burqa, niqab, abaya, chadir (cadar), pardeh (purdah), makromah, dan charshaf. Nama-nama itu merupakan bentuk ungkapan kebahasaan dan cara pemakaian jilbab yang berbeda-beda di wilayah-wilayah muslim. Kata chador (cadar) adalah jilbab di Iran yang menutup seluruh tubuh kecuali mata. Abaya adalah jilbab di Iraq yang menjulur menutup kepala, dada, dan sebagian besar badan. Istilah ini serupa dengan pardeh (purdah) di India. Charshaf adalah pakaian besar yang menutup kepala dan badan yang dibalut dengan jaket panjang besar yang lazim dipakai oleh perempuan muslimah Turki di wilayah Balkan lainnya. Cara berpakaian "berjilbab" tersebut sama dengan istilah hijab di Mesir, Yaman, Sudan, dan wilayah muslim di Afrika. Hal serupa juga searti dengan burqa dan niqab. Adapaun istilah khumuir (khimar) merupakan kain penutup kepala saja yang searti dengan tradisi perempuan Indonesia tahun 1970-1980an yang disebut makromah. Sedangkan syailah adalah kain yang digunakan untuk menutup sebagian anggota badan bagian atas, dan biasanya disamakan dengan khimar (khumur).

Sejalan dengan semaraknya busana muslimah, muncul pertanyaan, bagaimana sebenarnya islam mengatur busana muslimah. Pertanyaan ini mengemuka, karena terdapat bermacam model busana yang mencerminkan faham agama yang dianutnya. Muncullah istilah kerudung syar'i, busana syar'i, yang mengkonotasikan ada kerudung dan busana tidak syar'i. Akhir - akhir ini juga semakin banyak perempuan bercadar dan di pasaran juga banyak dijual cadar penutup muka yang mengindikasikan adanya kebutuhan pasar. 

Mencermati fenomena dimaksud, perlu kiranya dikaji kembali pemikiran Tarjih tentang busana muslimah. Ada dua dokumenj Tarjih tentang busana muslimah. Pertama, Keputusan Muktaman Tarjih XVIII tahun 1976 di Garut tentang "Adabul Mar;ah Fil Islam". Di dalamnya (Bab II) dibahas "Berpakaian menurut Tuntunan Islam". Kedua, Fatwa Tarjih yang dimuat dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid 4 tentang cara memakai kerudung yang baik dan wanita memakai cadar serta jilid tujuh tentang aurat dan jilbab. Ketiga, Keputusan Munas Tarjih XXVIII di Palembang tahun 2014, tentang Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah. Dalam Bab II, huruf B, tentang kewajiban orangtua terhadap anak, antara lain disebutkan bahwa "kewajiban bersama orang tua terhadap anak adalah sejalan dengan etika dan estetika berpakaian dengan memperhatikan kepantasan dan keindahan mode busana." 

Mencermati dokumen-dokumen Tarjih tentang busana muslimah tersebut, terdapat beberapa hal substantif terkait pembudayaan busana muslimah dalam Keluarga Sakinah.

 

Landasan Normatif Busana Muslimah

Landasan normatif pembudayaan busana muslimah dalam al-Qur'an adalah Q.S al-A'raf (7) : 26, an-Nur (24) : 31, dan al-Ahzab (33) : 59. Disamping ayat-ayat al-Qur'an dimaksud, terdapat beberapa hadis yang dikutip dalam Adabul Mar'ah Fil Islam yang menjelaskan batasan aurat perempuan.

"Hai Asma', sesungguhnya anak perempuan itu jika sudah sampai datang bulan, tidak pantas terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya Easulullah menunjuk kepada muka dan tapak tangannya." (HR. Abu Dawud dari 'Aisyah).

"Jika anak perempuan sudah melihat (darah haidnya), maka baginya tidak boleh tampak kecuali mukanya dan kecuali selain ini, seraya Rasulullah saw menggenggam hastanya, maka beliau meninggalkan antara genggamannya dan tapak tangan sepanjang genggaman yang lain" (HR. at-Tabrani dari 'Aisyah).

"Wanita-wanita yang berpakaian telanjang, yang beraksi, kepalanya seperti kelasa unta yang bergoyang, mereka tidak masuk syurga dan tidak mendapatkan bau (surga)." [ HR. Muslim dari Abu Hurairah]

Jilbab berfungsi sebagai identitas perempuan mukmin dan sebagai penjaga kehormatan dan keamanan diri.

 

Disarikan dari Majalah Suara 'Aisyiyah edisi Januari 2018 halaman 26