Pembinaan Spiritualitas dalam Keluarga

19 September 2016 10:10 WIB | dibaca 3428 | oleh: Dra. Hj. Susilaningsih K, MA (Koordinator Lembaga Kebudayaan PPA)

 

Spiritualitas merupakan pilar utama penegak bangunan keluarga sakinah. Esensi dari rasa spiritualitas adalah daya kepasrahan dan ketaatan pada Allah yang Maha Esa yaitu, dorongan penggantungan diri hanya pada Allah serta adanya keyakinan bahwa segala derap langkah kehidupan tidak lepas dari iradah Allah. Dengan adanya nafas spiritualitas ini maka segala dinamika dan suasana kehidupan dalam keluarga akan memunculkan rasa tentram, aman, dan damai pada jiwa setiap anggota keluarga.

Rasa spiritualitas dapat tercermin dalam perilaku ibadah dan mu’amalah, hubungan dengan Allah, dengan manusia dan dengan alam sekitar. Rasa spiritualitas dan bentuk perilakunya tidak dapat hadir dengan sendirinya, tetapi harus diupayakan agar dapat dimiliki oleh setiap anggota keluarga.

Berikut ini diuraikan hal-hal yang terkait dengan Pembinaan Spiritual Suami-Istri, Pembinaan Spiritual pada Anak-Anak, dan Nuansa Spiritual pada Keluarga Muslim.

A.    Pembinaan Spiritual Suami-Istri

Rumah tangga (keluarga) ibarat sebuah bahtera, maka nahkodanya adalah pasangan suami-istri. Di tangan keduanyalah arah dari pelayanan itu menuju dermaga idaman. Ibarat sebuah madrasah atau training center, maka ditangan keduanyalah tanggung jawab tugas-tugas kependidikan dan kepemimpinan bagi seluruh peserta didik yang dalam hal ini adalah anak dan anggota keluarga, berupa pengembangan potensi (fithrah) spiritual mereka sesuai tuntunan Islam. Oleh karena Islam merupakan sebuah sistem yang utuh, maka pembinaan spiritual ini meliputi bidang akidah (tauhid), akhlak, ibadah, dan mu’amalah dunyawiyyah, serta menjangkau ranah kognisi, afeksi, dan psikomotorik. Adapun cakupan atau ruang lingkup pembinaan spiritual bagi suami istri adalah:

1. Menginternalisasikan doktrin tauhid serta nilai-nilai ketuhanan (al-asma al-husna) untuk dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam perilaku.

2. Menumbuhkan-menggairahkan rasa beragama, khususnya penghayatan akidah, sehingga dapat membuahkan sikap-sikap sebagai berikut:

a. Taat, tunduk, patuh, pasrah kepada Allah swt.

b. Ridla, tawakkal, sabar, dan ikhlas di dalam menyikapi berbagai kondisi kehidupan, kejadian atau peristiwa dengan sikap berprasangka baik kepada Allah.

c. Membangun rasa cinta kepada Allah serta rindu kepada-Nya sehingga setiap saat terdorong untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

d. Memperbanyak zikir kepada Allah Swt berupa membaca alimat thayyibah seperti tasbih, tahmid, takbir dan tahlil yang disertai dengan penghayatan sehingga dapat membuahkan ketenangan batin.

e. Memohon perlindungan, pertolongan dan ampunan kepada Allah swt setiap saat sebagai manifestasi dari kesadaran diri selaku hamba-Nya yang lemah dan tidak sempurna.

f. Syukur atas nikmat Allah swt dalamberbagai keadaan yang diwujudkan dalam bentuk memelihara nikmat serta memanfaatkannya untuk maksud dan tujuan yang baik dan diridlai-Nya.

3. Melakukan tadaruus dan tadabur al-Qur’an secara berkala dan rutin, di samping sebagai zikir yang sempurna juga menambah pengetahuan dan wawasan tentang al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk menggapai rahmah dan berkah Allah Swt di dunia dan syafa’at di akhirat nanti.

4. Menumbuhkan sikap saling percaya serta saling berwasiat untuk kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang untuk menjaga mahligai rumah tangga sebagai amanah dari Allah swt.

5. Menanamkan akhlah mulia dalam pergaulan suami-istri, baik dalam bentuk sapaan seperti perkataan yang mulia, perkataan yang tepat, perkataan yang lembut, perkataan yang baik, perkataan yang mudah, perkataan yang benar, perkataan yang bermutu atau sarat makna maupun perbuatan.

B.     Pembentukan Spiritual pada Anak

Menurut al-Qur’an anak adalah karunia Allah sekaligus amanah bagi kedua orangtuanya, oleh karenanya menjadi kewajiban dan tanggung jawab orangtua terhadap pendidikan anak-anak, terutama spiritualnya sesuai fithrahnya. Firman Allah dalam surah ar-Rum (30): 30 yang berarti: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu, tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Orangtua menjadi penentu dan pemegang kendali dalam pembentukan spiritual anak menuju terwujudnya generasi yang shalih dan qurrata a’yun. Berikut ini beberapa hal yang perlu dilakukan dalam proses pembentukan spiritual yang menurut tata cara Islam:

1. Melalui ibadah zikir dan doa (ketika masih di dalam rahim) yang dilakukan oleh ibunya (terutama) dan ayahnya.

2. Membiasakan memperdengarkan kepada anak-anak ungkapan-ungkapan yang baik, sapaan yang lembut dan santun dengan sentuhan spiritual maupun sentuhan lembut penuh kasih sayang selama menyusui mereka (0-2tahun)

3. Menyertakan anak-anak dalam kegiatan ibadah sebagai latihan, serta zikir-zikir dan doa-doa pendek terus diperdengarkan dan diajarkan kepada mereka, disamping mengajari mereka perilaku baik dan santun (0-3 tahun)

4. Melatih anak melaksanakan ibadah (sholat, doa dan zikir). Orangtua terus membimbing, mengontrol dan mengawasi.

5. Mengajarkan al-Qur’an kepada anak secara bertahap.

6. Mengenalkan kepada anak tentang halal dan haram, akhlak mulia, serta membiasakan shalat.

7. Mengawasi dan membantu mereka dalam meumuskan visi dan misi hidup islami.

8. Menginternalisasi doktrin, menggairahkan ibadah dan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Swt untuk meraih kehidupan yang bermakna.

9. Menumbuhkan sikap ta’at, tunduk, patuh, dan pasrah kepada Allah Swt, serta membiasakan diri untuk bersikap ikhlas, ridla, tawakkal, dan sabar dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan.

10. Membimbing anak untuk senantiasa bersyukur atas limpahan karunia, baik umur, ilmu, kesehatan, dan keselamatan.

11. Membimbing anak untuk selalu berkomunikasi dengan Allah Swt lewat doa dan zikir, baik secara sendiri-sendiri maupun melalui majelis-majelis zikir, untuk penguatan cinta kepada Allah Swt dan menentramkan hati.

12. Membina akhlak mulia anak, melalui ittiba Rasulullah saw dengan jalan menghidupsuburkan sunnah-sunnahnya terutama dalam pergaulan seperti tawadlu, qana’ah, ramah dan santun.

13. Memperdengarkan kepada anak senandung syair-syair Islami dan kisah-kisah Nabi dan Rasul serta orang-orang shalih untuk memberi inspirasi dan uswah-hasanah.

 

Sumber: Suara ‘Aisyiyah, Edisi 2 Februari 2016