Pembinaan Aspek Sosial, Hukum, dan Politik (Bagian I)

15 September 2016 16:15 WIB | dibaca 2099 | oleh: 'Aisyiyah

Sumber Ilustrasi : Alfalah.com

Aspek sosial, hukum, dan politik merupakan pilar terakhir dari lima pilar pembangunan Keluarga Sakinah. Terkait dengan posisioning 'Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang bergerak di bidang dakwah amar makruf nahi mungkar untuk mencerahkan masyarakat, ummat, dan bangsa, pilar ini menempati kedudukan strategis. Dari keluargalah akan disiapkan kader-kader yang memiliki komitmen melakukan dakwah untuk membina masyarakat dan memberikan solusi berbagai masalah yang berkembang dalam masyarakat. Dari keluarga sakinah, lahirlah kader-kader yang mampu mengembangkan sikap toleransi (tasamuh), saling menghargai, kerjasama (ta'awun), simpati, empati, dan mampu hidup berdampingan secara damai dan penuh kasih sayang sa;am masyarakat majemuk dengan berbagai macam bahasa, warna kulit, suku, bangsa, dan agama. Tanggung jawab sosial dan dakwah diinternasasikan, disosialisasikan, diinternalisasikan dalam keluarga, menuju keberuntungan dan kesuksesan hidup sejati serta kehidupan yang baik (hayatan thayyiban) sebagai pengejawantahan dari pesan normatif Q.S. Ali 'Imran (4) : 104 dan Q.S. am-Nahl (16) : 97 yang menjadi landasan normatif Kyai Dahlan mendirikan  Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

Manusia diciptakan oleh Allah Swt. Sebagai makhluk sosial, karena itu dalam keluarga sakinah perlu dilakukan pembinaan, agar kesadaran dan rasa sosial anggita keluarga dapat berkembang secara baik. Rasa sosial dikembangkan dalam hidup keluarga, kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam kehidupan keluarga, islam telah memberi tuntutan kehidupan di dalam pergaulan antar suami, istri, anak, dan anggota keluarga lainnya, agar dapat tercipta kehidupan berkeluarga yang serasi. Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah sebagai hamba Allah. Dis samping itu, dirinya juga harus menyadari bahwa ia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari manusia lain dalam kehidupan bermasyarakat. Keseimbangan membangun hubungan secara vertikal dengan Allah (Hablum-minallah) dan hubungan secara horisontal dengan sesama manusia (Hablum-minannas) itulah yang harus dididikkan dalam keluarga agar memperoleh kemuliaan hidup dan terhindar dari kehinaan dan keterpurukan dalam hidup. Secara garis besar, pembinaan aspek sosial, hukum dan politik yang harus dikembangkan dalam keluarga menuju keluarga sakinah, yaitu : Pertama, Perilaku dasar pergaulan antar manusia. Kedua,Perilaku sosial dalam keluarga. Ketiga, Perilaku sosial dalam kehidupan masyarakat. Aspek ini mencakup :Prinsip dasar pergaulan antar manusia, dan perilaku yang diterapkan dalam hidup bertetangga, bertamu dan menerima tamu, perilaku hidup bermasyarakat, serta perilaku hidup berbangsa dan bernegara.

1. Perilaku Dasar Pergaulan Antar Manusia.

    Secara garis besar, perilaku hubungan antar manusia yang dapat membuahkan keluarga sakinah dan masyarakat thayyibah adalah sebagai berikut:

a. Memperhatikan kebutuhan dasar kesehatan jasmani sebagai manusia (Makan, istirahat, perlindungan, dll)

b. Memperlakukan manusia sebagai makhluk pikir (Memberi pengertian yang logis dan masuk akal, memberi pengertian sesuai level intelektualitasnya)

c. Memperlakukan manusia sebagai makhluk berperasaan seperti memberikan apresiasi, menyapa dengan ramah, memberi konsumsikeindahan baik fosok maupun psikis.

d. Memperlakukan manusia sebagai makhluk berkemauan, dengan cara memberi kesempatan memperoleh pengalaman penghayatan.

e. Memperlakukan manusia sebagai makhluk individu seperti memberi status yang jelas yang mengarah kepada sukses masa depan.

f.  Memperlakukan manusia sebagai makhluk sosial : menyalurkan dorongan sosial untuk bergaul, menunjukkan cara hubungan yang harmonis baik intern keluarga maupun antar keluarga.

g.  Memperlakukan manusia sebagai makhluk yang sekarang hidup di dunia dan kelak di akhirat.

 

2. Perilaku Sosial dalam Keluarga.

Hubungan antar manusia dalam hal ini suami, istri dan anak seharusnya mampu memenuhi keinginan-keinginan manusia tersebut, sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah keagamaan dan tujuan-tujuan tertentu yang etis. Orangtua hendaknya sadar bahwa anggota keluarga adalah makhluk berperasaan yang kadang-kadang butuh diperhatikan,dipuji, dikagumi, disapa dengan lemah lembut dan membutuhkan pemenuhan konsumsi keindahan baik fisik maupun psikis. disamping itu anggota keluarga juga memerlukan teladan yang baik. Sebagai makhluk individu  manusia berhak mendapatkan status yang jelas yang mengarah pada masa depan yang cerah, sedangkan sebagai makhluk sosial anggota keluarga berhak mendapat bimbingan bagaimana bergaul di dalam keluarga dan antar keluarga. Dengan teladan langsung dari orang tua, anak-anak akan tahu bagaimana seharusnya berbuat sesuai dengan kaidah agama dan norma-norma kesusilaan yang ada.

Dalam pergaulan sehari-hari anak-anak dengan sesama saudaranya diusahakan supaya dalam suasana rukun, damai, dan bebas, Tentu saja untuk menciptakan hal ini diperlukan perhatian dan ketelitian orangtua, serta harus senantiasa terjalin dalam suasana akrab dan serasi sesuai dengan tingkat usianya. 

Pembinaan aspek sosial dalam keluarga dilakukan dalam bentuk perilaku dan keteladanan orangtua dalam pengembangan aspek sosial serta upaya penyadaran, pemberian stimulasi dan penciptaan kondisi lingkungan keluarga agar perilaku sosial anak dapat berkembang dengan baik. Dengan demikian ada dua sisi yang perlu dikembangkan yaitu:

Hal-hal yang dapat dikembangkan oleh orang tua untuk menanamkan nilai kemasyarakatan pada anak adalah melalui keteladanan, cerita, dongeng-dongeng, dan nasehat.

a. Memberikan nama yang baik sebagai pemenuhan hak identitas anak termasuk di dalamnya memberikan perhatian pada pencatatan akte kelahiran.

b. Memenuhi hak hidup, pendidikan dan kesehatan anak sesuai dengan UU No. 23 Th. 2002 tentang Perlindungan Anak.

c. Membangun sikap kedermawanan dan empati pada keluarga.

d. Membiasakan berdiskusi dalam menyikapi persoalan.

e. Tidak memaksakan pikiran dan pendapat yang tidak sesuai dengan kemampuan anak.

f. membangun situasi saling menolong dalam keluarga.

g. Membangun situasi nyaman bagi anak atau anggota keluarga yang lain untuk mengemukakan pendapat.

 

Sumber: Suara 'Aisyiyah Edisi Juli 2016