Merencanakan Keluarga, Menyiapkan Generasi Tangguh (Bagian 2)

19 Februari 2016 15:39 WIB | dibaca 2300 | oleh: Aisyiyah

Ilustrasi (Foto : Dok. Google)

 

Dalam wacana fikih islam kontemporer, dikenal dua istilah yaitu “tahdidun-nasi” artinya pembatasan kelahiran dan “tandzimun-nasi” yang berarti pengaturan kelahiran. Menurut jumhur ulama tahdidun-nasi tidak dibenarkan, karena menyalahi fitrah reproduksi manusia, sedangkan tandzimun-nasi tidak dilarang dalam islam karena merupakan ikhtiar utnuk mengatur, merencanakan keluarga. Ini berarti ada perencanaan yang kongkrit mengenai waktu dan jumlah kelahiran agar setiap anak lahir disambut dengan rasa syukur.

 

Keluarga berkualitas juga sejalan dengan tuntunan islam yang dikenal dengan keluarga sakinah, sesuai ayant Al-Qur’an surat ar-Rum/30:21

 

Artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah, Dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q. Ar-Rum/30:21)

 

Dalam organisasi Aisyiyah keluarga sakinah dimaknai sebagai “bangunan keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah yang dilandaskan pada kondisi mawaddah wa rahmah, sehingga masing-masing anggota keluarga dapat berkembang dan menjalankan peran sesuai fungsinya, dalam menghadirkan suasana kedamaian, ketentraman, keharmonisan, kekompakan, kehangatan, keadilan, kejujuran, dan keterbukaan, untuk terwujudnya kebaikan hidup di dunia dan akhirat yang diridhai Allah SWT.” (QS. Ar-Rum/32:21).

 

Keputusan Majelis TarjihMuhammadiyah tahun 1968 tentang Keluarga Berencana dikaitkan dengan peningkatan kualitas hidup generasi atau keturunan. Berdasarkan ayat al-Qur’an diperoleh pijakan dasar bagi peningkatan kualitas hidup dalam keluarga yaitu Firman Alllah dalam Al-Qur’an surat an-Nahl/16:72.

 

Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathik dan mengingkari nikmat Allah?”.

 

Selain itu, Nabi dalam sejumlah hadistnya juga menekankan pentingnya kualitas hidup manusia yang harus dibangun dalam keluarga, antara lain:

 

Artinya : “Bahwasanya lebih baik kamu tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, daripada kamu tinggalkan mereka yang menjadi beban yang minta-minta kepada orang banyak”. (HR. Bukhari-Muslim)

 

Artinya : “Hadist dari Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabda : “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih disayang olehAllah, dari pada mukmin yang lemah”. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

 

Dengan dasar pertimbangan tersebut maka menurut ajaran islam salah satu manfaat perkawinan adalah memperoleh keturunan. Islam menganjurkan agar kehidupan anak keturunan jangan sampai terlantar dan menjadi beban/tanggungan adalah berlawanan dengan ajaran agama islam. Demikian pula Keluarga Berencana yang dilaksanakan untuk mencegah kehamilan. Dalam keadaan darurat, upaya ini dibolehkan dengan syarat adanya persetujuan suami isteri dan tidak mendatangkan mudharat jasmani dan rohani. Pencegahan kehamilan yang dianggap berlawanan dengan ajaran islam adalan pencegahan yang silkap dan tindakannnya dijiwai oleh adanya niat enggan mempunya keturunan, atau sengaja merusak/ mengubah orrgan yang bersangkutan, seperti : memotong secara permanen karena tidak mau berketurunan tanpa alasan kesehatan atau alasan untuk melindungi hidup.

 

Demikian halnya penjarakan kehamilan dapat dibenarkan sebagai kondisi darurat atas dasar : kesehatan dan pendidikan dengan persetujuan suami isteri, dan denga pertimbangan dokter ahli dan ahli agama. Adapun yang dimaksud dengan kriteria darurat ialah :

 

Pertama, mengkhawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu karena mengandung atau melahirkan, didasarkan pada pengalaman atau keterangan dokter yang dapat dipercaya (QS. Al-Baqarah/2:195 dan QS. an-Nisa’/4:29)

 

Kedua, mengkhawatirkan keselamatan agama, karena faktor kesempitan kehidupan, seperti kekhawatiran menjalankan hal-hal yang merusak aqidah, menjalankan perbuatan haram atau menjalankan/melanggar larangan karena didorong oleh kepentingan anak-anak (QS. Al-Baqarah/2:185 dan QS. Al-Maidah/5:6.

 

Ketiga, mengkhawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran terlalu rapat sebagaimana hadist Nabi yang artinya “Jangan bahayakan (dirimu) dan jangan membahayakan orang lain”. (hadis hasan diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dari Ibnu Abbas dan oleh ibnu Majah dari ‘Ubbah).

 

Dengan demikian dapat dipahamu bahwa Keluarga Berencana dalam arti tandzimun-nasl pada dasarnya sejalan dengan ajaran islam, yang merupakan ikhtiara untuk menyiapkan generasi yang berkualitas dengan melakukan pengaturan dan perencanaan keluarga, sehingga tidak menelantarkan anak keturunannya dan tidak membebani orang lain.

 

Pengaturan kehamilan maupun kelahiran anak dapat dibenarkan sebagai kondisi darurat atas pertimbangan keselamatan jiwa dan kesehatan ibu karena hamil atau melahirkan, mengkhawatirkan keselamatan agama akibat kesulitan hidup, adanya kekhawatiran akan keselamatan pendidikan anak-anak bila jarak terlalu dekat. Keputusan melaksanakan KB dilakukan dengan persetujuan suami-isteri, dengan pertimbangan aspek kesehatan dan nilai-nilai islam. Adapun KB yang dipandang menyalahi ajaran islam adalah KB yang dilakukan karena sikapenggan mempunyai anak dan menggunakan alat kontrasepsi dengan cara sterilisasi yang dapat merusak atau mengubah organ reproduksi secara permanen dan meyalahi tujuan pernikahan untuk mendapatkan keturunan.

 

Sumber : Buku Pengajian Kesehatan Reproduksi Menuju Keluarga Sakinah (Terbitan : Lembaga Penelitian dan Pengembangan PP ‘AIsyiyah)