MEMBANGUN KETAHANAN KELUARGA DI TENGAH WABAH CORONA

04 Mei 2020 14:23 WIB | dibaca 2012 | oleh: Dr. Hibana, S.Ag.,M.Pd. (Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

Saai ini wabah Corona telah menjadi permasalahan dunia. Hampir semua negara telah dirasuki virus mematikan yang belum ditemukan penangkalnya. Inilah wabah Pandemi covid-19 yang menjadi musuh terbesar saat ini, yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kebersihan dan phisical distancing (menjaga jarak fisik) adalah bagian yang  bisa dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaranvirus.

Himbauan pemerintah untuk WFH (work from home) menjadikan masyarakat menahan diri untuk beraktivitas di luar. Bekerja, belajar dan beribadah dilakukan di rumah. Kondisi ini menjadikan roda ekonomi hampir terhenti. Dampak ekonomi sangat terasa, karena sumber ekonomi jauh berkurang, sementara keluarga harus tetap diberi makan.Dampak akibat wabah Covid-19 sangat terasa bagi sebagian besar masyarakat, terutama yang bekerja di sektor informal.

Selain ekonomi, aspek lain juga terdampak. Aspik psikologis, sosial, bahkan juga spiritual. Ramadhan yang biasanya sungguh meriah dengan berbagai aktivitas keagamaan, baik di masjid maupun di pusat-pusat kajian, untuk Ramadhan kali ini semua harus kembali ke rumah. Tidak ada buka puasa bersama di masjid. Tarawihpun dilaksanakan di rumah. Hubungan sosial tidak lagi bertatap muka, melainkan diganti dengan media sosial. Tantangan keluarga menjadi semakin berat. Secara ekonomi terjadi banyak goncangan, khususnya untuk pekerja informal terutama pekerja harian. harus bisa mengelola anggaran dana sebaik-baiknya .

 

Apa itu Ketahanan keluarga?

Kondisi darurat seperti saat ini sangat diperlukan kemampuan membangun ketahanan keluarga. Ini yang akan membantu daya tahan keluarga dalam menghadapi tantangan. Ketahanan keluarga merupakan kondisi dinamis suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan secara fisik, psikis, mental dan spiritual guna hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya sehingga tercipta keluarga yang harmonis sejahtera lahir  dan batin. Ada beberapa Komponen terkait ketahanan keluarga,  yakni sebagai berikut.

Pertama, ketahanan psikologis, yakni kemampuan keluarga untuk mengelola emosinya sehingga menghasilkan konsep diri yang positif, dan kepuasan terhadap pemenuhan kebutuhan dan pencapaian tugas perkembangan keluarga. Kemampuan mengelola emosi dan konsep diri yang baik menjadi kunci dalam menghadapi masalah-masalah keluarga yang bersifat non fisik.

Kedua, ketahanan Ekonomi, yakni terkait dengan kemampuan ekonomi keluarga. Ketahanan ekonomi adalah kemampuan anggota keluarga dalam memperoleh sumber daya ekonomi dari luar sistem keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan (perumahan), pendidikan dan Kesehatan.

Ketiga, ketahanan sosial, yakni kemampuan keluarga untuk membangun interaksi sosial sebagai bagian dari anggota masyarakat. Ketahanan sosial mencakup kemampuan untuk memelihara ikatan dan komitmen, komunikasi efektif, penerimaan peran, penetapan tujuan serta dorongan untuk maju yang akan menjadi kekuatan, serta memiliki hubungan sosial yang positif.

Keempat, ketahanan spiritual, merupakan kekuatan keluarga dalam menerapkan nilai agama, dan menjadikan agama sebagai benteng, tumpuan dan sandaran dalam menghadapi berbagai persoalan. Ketahanan spiritual mencakup pemahaman nilai-nilai agama yang mendasar, kemampuan untuk mengarahkan diri sesuai dengan nilai yang dipahami, dan meyakini bahwa semua peristiwa yang terjadi tidak lepas dari kehendak dan kekuasaan yang maha kuasa.

 

Bagaimanamembangun ketahanan keluarga?

Menjadi kewajiban keluarga untuk menjaga dan menyelamatkan anggota keluarganya terlebih dahulu dari segala resiko dan gangguan. Sebagaimana firman Allah dalam QS At-Tahrim (66) ayat 6.

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

 

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Di saat situasi darurat corona saat ini sangat diperlukan ketahanan keluarga. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangun ketahanan keluar. Pertama, Membangun ketahanan psikologis. Situasi yang ada saat ini rentan menjadikan seseorang mengalami tekanan batin, jika tidak mampu mengelola emosi diri.  dibutuhkan kesadaran diri untuk meningkatkan kematangan kepribadian. memelihara, mengembangkan, dan menguatkan konsep diri, sikap, dan perilaku positif. Menyadari bahwa kesulitan yang dihadapi saat ini dirasakan setiap anggota keluarga. Siap beradaptasi dengan berbagai perubahan ketika pandemi Covid-19 terjadi. Mensyukuri sekecil apapun nikmat yang diterima.Hubungan keluarga yang harmonis menjadi landasan yang kuat dalam membangun ketahanan psikologis.

Kedua, Membangun ketahanan ekonomi. Kondisi ekonomi yang semakin sulit mendorong masyarakat untuk menggali, mengelola dan memanfaatkan sekecil apapun sumber daya yang ada. Kebutuhan hidup memang beragam. Minimal memenuhi kebutuhan dasar yang perlu diupayakan, seperti kebutuhan pangan. Menghadapai wabah yang belum tahu sampai kapan berakhir menjadi tantangan tersendiri. Membangun ketahanan pangan di tingkat keluarga menjadi tugas pertama. Penghematan harus dilakukan. Pengelolaan keuangan perlu lebih hati-hati, dengan memprioritaskan kebutuhan pokok terlebih dahulu. Beberapa hal sederhana juga bisa dilakukan, seperti menanam tanaman hortikultura di sekitar rumah. Menanam sayuran, buah-buahan atau ubi-ubian yang bisa dipanen dalam waktu singkat di sekitar rumah, perlu digerakkan. Setiap keluarga bisa memanfaatkan lahan atau halaman sekitar rumah sehingga lebih mudah untuk pemeliharaan. Atau menggunakan pola hidroponik sehingga tidak membutuhkan lahan yang luas. Perlu dibuat gerakan keluarga menanam tanaman hortikultura, minimal sebanyak jumlah anggota dalam keluarga.

Ketiga, Membangun ketahanan sosial. Keluarga perlu membangun kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial sebagai bagian dari anggota masyarakat.Konsep pentingnya kebersamaan sosial perlu dikuatkan. Misalnya dengan membangun jiwa gotong royong, saling membantu dan saling menguatkan dalam menghadapi situasi genting pandemi covid-19. Bila seseorang memiliki kepedulian kepada masyarakat di sekitarnya, maka saat ia mengahapi kesulitan orang lainpun akan ringan memberikan bantuan dan dukungan. Membantu orang lain tidak menunggu berlebih, namun menunda kebutuhan sekunder untuk berbagi akan memberikan kehidupan yang lebih bermakna.

Keempat, Membangun ketahanan spiritual. Keluarga muslim harus berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan nilai agama, dan menjadikan agama sebagai muara dalam menghadapi berbagai persoalan. Pandemi covid-19 yang menganjurkan semua ada di rumah dapat diambil sebagai kesempatan untuk sholat berjamaah dan ibadah bersama keluarga sepanjang waktu. Anggota keluarga dapat diarahkan untuk memahami nilai dan ajaran dasar agama. Selain itu juga perlu mengarahkan segala sikap dan perilaku agar sesuai dengan syariat agama. Faktor utama yang menyebabkan lemahnya ketahanan keluarga muslim adalah kurangnya pemahaman Islam yang diterapkan dalam keluarga.

Semoga keluarga muslim semuanya mampu menghadapi masa sulit saat ini dengan memperkuat ketahanan diri dan ketahanan keluarga. Semoga Allah memberikan bimbingan dan kekuatan untuk kita semuanya.