Membangun Jiwa Berkemajuan dalam Keluarga

05 Juli 2019 12:58 WIB | dibaca 509 | oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo (Ketua PP 'Aisyiyah)

Berkemajuan (progressiveness) adalah sikap hidup untuk maju, berfikir, bersemangat, dan berperilaku untuk maju, untuk menjadi lebih baik. Seseorang yang memiliki sikap hidup berkemajuan akan memiliki sifat dinamis, ingin selalu berkembang, terbuka terhadap tantangan-tantangan baru, dan terdorong untuk selalu kreatif dan produktif dalam menghasilkan karya sesuai dengan minat atau bidangnya.

Islam yang berkemajuan merupakan visi gerakan dakwah ‘Aisyiyah, sebagaimana juga visi gerakan dakwah Muhammadiyah, yang tampaknya sudah menjadi spirit dakwah semenjak ia didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, dan digelorakan kembali pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-47 di Makassar pada tahun 2015. Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang dakwah, dengan visi Islam Berkemajuan itu, ‘Aisyiyah bermaksud mengajak masyarakat untuk bersikap berkemajuan dalam semua aspek hidupnya. Dalam “Pokok-pokok Pikiran ‘Aisyiyah Abad Kedua” disebutkan bahwa visi Islam berkemajuan merupakan jalan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan manusia di bawah naungan ketauhidan yang murni, sehingga terhindar dari keterbelakangan, ketertindasan, ketidakadilan, dan kejumudan. Selanjutnya, visi Islam berkemajuan akan mampu menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi umat manusia.

Membentuk dan mengembangkan jiwa berkemajuan, khususnya jiwa Islam Berkemajuan, memang dapat dilakukan pada setiap tingkat usia, baik pada usia anak, remaja, dewasa, bahkan pada usia lanjut. Meskipun demikian, hal itu akan lebih efektif bila dilaksanakan semenjak usia dini secara berkelanjutan melalui keluarga yang telah memiliki visi Islam berkemajuan, yang notabene adalah keluarga dari warga Muhammadiyah/’Aisyiyah.

Dalam bahasa organisasi, hal tersebut dapat disebut sebagai proses kaderisasi menjadi aktivis (muballigh/ah) Muhammadiyah/’Aisyiyah via keluarga. Ada tiga hal utama yang perlu mendapat perhatian dalam proses kaderisasi secara berkesinambungan semenjak usia anak-anak sampai dewasa, dan terakhir menerapkan strategi yang tepat dalam proses kaderisasi itu.

Karakteristik Jiwa Islam Berkemajuan

Ada empat karakter sebagai tanda dari pribadi yang memiliki jiwa islam berkemajuan yaitu, pertama, memahami dan menghayati visi Islam berkemajuan yang sudah menjadi visi Muhammadiyah/’Aisyiyah. Hal ini merupakan pengejawantahan dari firman Allah dalam al-Qur’an surah al-Imran (30 ayat 110.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." [QS. Al-Imran (3): 110]

Dalam Muhammadiyah/’Aisyiyah, jabaran dan wujud dari visi Islam berkemajuan telah dijabarkan dalam berbagai programnya.

Kedua, berjiwa berkemajuan. Memiliki jiwa berkemajuan bukanlah sifat bawaan melainkan produk dari proses pembentukan atau pendidikan, terutama oleh kedua orang tua dalam keluarga yang menerapkan pendekatan demokratis dalam mendidik anak-anaknya.

Ketiga, berjiwa profetik. Jiwa profetik atau jiwa kenabian adalah jiwa yang meniru sifat-sifat kenabian yang dalam Kuntowijoyo (2007) disebut sebagai pengejawantahan QS. Al-Imran (3) ayat 110. Pemilikan jiwa profetik harus dibentuk dan dikembangkan dari daya spiritualitas dan daya sosial yang merupakan potensi bawaan. Pembentukan dan pengembangan jiwa profetik akan lebih baik bila telah dimulai sejak usia dini dalam keluarga.

Keempat, berjiwa organisatoris. Senang berorganisasi bisa dibentuk dan dikembangkan dari daya sosial yang bersifat bawaan itu. Tiga unsur dalam berorganisasi adalah tentang kemampuan memimpin dan dipimpin, kemampuan mengatur dan diatur, serta kemauan berbagi dalam suatu lingkungan sosial. Jiwa organisatoris sebaiknya juga dibentuk dan dikembangkan sejak usia dini dalam keluarga dan dapat dikembangkan di lingkungan pendidikan dan di Muhammadiyah/’Aisyiyah.

Strategi pengembangan Jiwa Islam Berkemajuan

Untuk menjadi bagian dari sifat seseorang, pengembangan jiwa Islam berkemajuan perlu dilakukan secara berkesinambungan semenjak usia dini sampai dewasa. Namun, bukan tidak mungkin pengembangannya dapat terjadi mulai usia remaha atau saat dewasa.

Ada tiga macam strategi pengembangan jiwa berkemajuan, pertama, proses pemahaman dan penyadarn tentang makna dan sifat-sifat jiwa Islam berkemajuan sesuai dengan tingkat daya pikir masing-masing pihak yang dibentuk. Untuk usia dini, dapat dijhabarkan melalui melatih daya berketuhanan (spiritualitas). Untuk usia remaja, perlu proses pemahaman juga penyadaran tentang nilai pentingnya memiliki sifat Islam berkemajuan.

Kedua, modelling  yang merupakan proses penyerapan dan peniruan terhadap sikap dan perilaku model atau figure yang ekspresi jiwa Islam berkemajuannya dapat teramati secara intensif

Ketiga, penugasan, yaitu memberi kesempatan anak untuk melaksanakan tugas atau kegiatan yang mengandung nilai-nilai Islam berkemajuan. Biasakan anak untuk saling tolong-menolong dengan sesamanya.pada anak usia remaja mulai dilibatkan dalam kegiatan organisasi atau kemasyarakatan yang dilakukan oleh orang tuanya atau kegiatan-kegiatan yang disediakan oleh sekolahnya maupun di Muhammadiyah/’Aisyiyah.

Penerapan ketiga strategi di atas diharapkan dapat membentuk jiwa Islam berkemajuan khususnya bagi keluarga Muhammadiyah/’Aisyiyah.

Disarikan dari Suara 'Aisyiyah Edisi 7, Juli 2019

Sumber gambar: google.com