Lentera Keluarga Di Masa Covid-19

09 Mei 2020 12:28 WIB | dibaca 397 | oleh: 'Aisyiyah (Majelis Tabligh PP 'Aisyiyah)

Segala puji dan rasa syukur dihaturkan kehadirat Allah swt., Allah yang telah menurunkan al-Qur`an dengan bahasa Arab yang terang. Shalawat teriring salam semoga senantiasa dilimpahkan kehadapan Nabi yang paling mulia dan Rasul yang paling baik, Nabi Muhammad saw., kepada segenap keluarganya, para sahabatnya dan semua kaum muslimin yang senantiasa melestarikan sunnahnya.

Alhamdulillah, kita masih mendapat kesempatan bertemu bulan Ramadan bulan yang penuh maghfirah, rahmah, dan barakah di tahun 1441 Hijriyah. Kita sambut bulan Ramadan dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan. Di mana-mana terpampang ucapan “Selamat menunaikan Ibbadah Ramadan”. Semoga kita semua dapat mengisi Ramadan ini dengan amaliyah yang penuh makna, meski di era darurat Covid-19.

Dengan adanya darurat Covid-19, Majelis Tarjih dan Tajdid telah memberikan “Tuntunan Ibadah di masa Darurat Covid-19”, salah satu di antaranya menunaikan ibadah puasa dengan segala amaliah utama, yang dilakukan di rumah. Salat tarawih yang biasa dilaksanakan secara berjamaah di masjid, cukup ditunaikan di rumah. Demikian juga tadarus Al-Qur`an yang biasa ditunaikan di masjid secara bersamaah dengan saling menyimak dan mengkaji al-Qur`an, juga dianjurkan ditunaikan di rumah.

Berangkat dari nilai-nilai dasar keimanan kita kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Rahman-Rahim, kita meyakini bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, yang di dalamnya ada makna, kemaslahatan, di balik peristiwa seperti Covid-19 ini. Apa maknanya, membuat kita berpikir positif, berhusnudzan, dan berusaha mewujudkan makna dibalik peristiwa. Salah satu wujud kemaslahatannya adalah adanya lentera keluarga. Di bulan Ramadan, semua stay at home, menikmati keberadaan dan kebersamaan di dalam rumah. Termasuk kebersamaan dalam salat tarawih berjamaah dan tadarus bersama, literasi al-Qur`an dalam keluarga. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw.

Ramadan diisi tadarus Al-Qur`an dengan bacaan tahsin dan literasi pemahaman Tafsir Al-Qur`an, tetap dilakukan di rumah. Hal ini sejalan dengan sabda Rasul saw.

 

نَوِّرُوْا مَنَازِلَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ (رواه البيهقى عن أنس)

Terangilah rumah-rumahmu dengan salat (sunah) dan membaca Al-Qur`an. (HR. Baihaqi dari Anas)

Hadis tersebut memang tidak secara spesifik terkait dengan amalan utama di bulan Ramadan. Namun, dengan kondisi darurat Covid-19 ini, hadis tersebut sangat tepat untuk di amalkan. Dalam hadits tersebut terdapat dua amalan utama yang menjadi tradisi atau kebiasaan masyarakat di bulan Ramadan.

Pertama, Salat, maksudnya salat sunnah. Karena dalam kondisi normal (tidak ada Covid-19), salat wajib disunnahkan ditunaikan di masjid. Maka untuk menerangi rumah agar secara spiritual tidak gelap, ditunaikan salat sunah di rumah. Salat tarawih adalah salah satu salat sunah, yaitu qiyam al-lail yang ditunaikan di bulan Ramadan. Nabi menunaikan salat tarawih berjamaah di masjid hanya hari pertama dan kedua di awal Ramadan. Hari ketiga tidak dilakukan di masjid, karena beliau menghawatirkan akan menjadi isyarat diwajibkannya salat tarwih secara berjamaah di masjid. Oleh karena itu, di era Covid-19 ini, salat tarawih tetap ditunaikan, meskipun kedudukan hukumnya sunah, tetapi merupakan amalan utama. Anjuran qiyam al-lail, dituntunkan Allah dalam Al-Qur`an yang dikuatkan Nabi dalam hadis-hadis beliau. Banyak hikmah yang dapat dimaknai dari ibadah qiyam al-lail, al, Allah akan menganngkat hamba yang qiyam al-lail dalam kedudukan yang terpuji (Q.S. al-Isra` [17] : 79).

Sebagai aktivis, muballigh yang memiliki tugas berat pelanjut risalah kenabian, juga dianjurkan menunaikan qiyam al-lail, karena dengan qiyam al-lail akan menguatkan jiwani dan dialog spiritual dengan Allah lebih berkesan, sebagai bekal menjalankan tugas dakwah dan jihad yang penuh tantangan (Q.S. al-Muzammil [73] : 1-6).

Kedua, qir’ah al-Qur’an (membaca al-Qur`an) di dalam rumah merupakan salah satu upaya mencerahkan keluarga. al-Qur`an sebagai lentera. Bacaan al-Qur`an dalam rumah, secara spiritual menjadi lentera yang akan menerangi hati dan pikiran setiap anggota dan menjadi panutan, petunjuk, dan pegangan. Dalam doa-doa kita, setiap selesai membaca al-Qur`an adalah mohon agar al-Qur`an menjadi panutan, cahaya, petunjuk, rahmah, dan pegangan (imaman, nuran, hudan, rahmah, hujjah).

Qira’ah, bukan membaca tanpa makna, maka anjuran hadis dimaksud sejatinya isyarat pentingnya literasi Al-Qur`an. Tadarus, juga bukan hanya membadca, tetapi mengkaji muatan dan pesan normatif ayat-ayat al-Qur`an. Di bulan Ramadan, selama satu bulan penuh, bersama-sama tadarus al-Qur`an dalam arti membaca sampai khatam, dan mendalami maknanya, yang kemudian diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan.

Semoga di era Covid-19 ini, Ramadan membawa hikmah mewujudkan lentera dalam keluarga.