Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Keluarga Sakinah

18 Februari 2017 11:26 WIB | dibaca 882 | oleh: Siti 'Aisyah (Ketua PP 'Aisyah - Dosen FAI UCY)

 
"Hai sekalian manusia bertakwalan kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dari padanya Allah telah menciptakan pasangannya dan daripada keduanya Allah memperkembangkan lelaki dan perempuan yang banyak...." (Q.S. an-Nisa' [4] : 1).
 
Dalam sebuah forum kajian ibu-ibu, seorang ustadzah menyampaikan kepada jama'ah. "Ibu-ibu, kita semua bersaudara sebagai ummat manusia, karena kita semua keturunan Nabi Adam dan ibu Hawa, sehingga al-Qur'an menyebutnya Bani Adam. Kemudian ia menanyakan: "Ibu-ibu, perempuan pertama (Hawa), dicipta dari apa ya? secara serentak jama'ah menjawab dengan mantap "Dari tulang rusuk Adam." Jawaban yang sama juga dilontarkan para mahasiswa dalam kuliah tentang penciptaan manusia. Pandangan tersebut, sejak lama sampai saat ini secara turun temurun, telah mengurat-mengakar kisah tentang Adam-Hawa, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. kisah itu berlanjut ketika Adam Hawa tinggal di sorga yang tergoda setan dan pertama kali memakan buah pohon larangan adalah Hawa. Ketika setan menggoda N. Adam as, berbagai upaya telah dilakukan, Adam tetap memegang teguh amanat Allah tidak mendekati pohon larangan dimaksud. Setan pun tidak putus asa, maka ia menggoda Hawa. Semula Hawa juga tidak percaya bujukan syetan yang mengatakan bahwa buah pohon itu akan membuat manusia kekal hidup di dunia (setan menyebutnya pohon khuldi). Lama klelamaan Hawa pun tergoda. Ia merayu suaminya untuk mencoba ajakan setan. Akhirnya Adampun mengikuti keinginan isterinya. Implikasi kisan ini, berkembang pandangan dlaam msyarakat bahwa penyebab Adam - Hawa diusir dari surga adalah Hawa, seorang perempuan, yang berusaha memengaruhi suaminya untuk menuruiti keinginannya menuruti bujukan setan. Maka perempuan dianggap sebagai sumber bencana, sumber  kesalahan. Bila dalam keluarga ada masalah dengan anak, maka sumbernya adalah ibunya yang tidak pandai dan terampil mendidik anaknya, atau ibu yang terlalu sibuk, sehingga anak kurang mendapat perhatian, dan pendidikan ibunya. Suami korupsi, karena isteri banyak tuntutan. Suami yang selingkuh, sumbernya isteri yang kuirang mampuy melayani dan memberi perhatian pada suami.
 
Bagaimana pandangan 'Aisyiyah tentang hal tersebut? Dalam bukuy Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, kesetaraan laki-laki dan perempuan merupakan hal yang asasi. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah kesetaraan dalam penciptaan (Q.S an-Nisa' [4] : 1). Ayat-ayat kisah dalam al-Qur'an tentang penciptaan manusia, menempatkan Adam dan Hawa sebagai aktor. Keduanya mendapat fasilitas surga (Q.S. a-Baqarah [2]: 35), diberi kebebasan hidup di surga, dengan satu larangan mendekati pohon larangan. Keduanya mendapatkan kualitas godaan uang sama dari syaitan (Q.S. al-A'raf [7] : 20), bersama-sama melanggar norma yang digariskan Allah dan sama-sama memakan buah pohon larangan, sehingga menerima akibat diturunkan ke bumi (Q.S. al-A'raf [7] : 22) dan bersama-sama memohon ampunan dan diampuni oleh Allah Swt. (Q.S. Al- A'raf [7]:23).
 
Tentang penciptaan manusia, dalam Fikih Perempuan Keputusan Munas Tarjih ke-27 tahun 2010 di Malang tentang Asal Penciptaan Perempuan. Al-Quran menerangkan bahwa perempuan dan laki-laki mempuanyai derajat yang sam. Tidak ada osyarat dalam al-Qur'an, bahwa perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah (Hawa) adalah suatu ciptaan yang mempunyai martabat lebih rendah dari laki-laki pertama (Adam). Hal ini ditegaskan Allah dalam al-Qur'an Surat an-Nisa' ayat 1 tersebut di atas/ Ayat tersebut menjelaskan bahwa "bahan" yang Allah sediakan untuk penciptaan laki-laki dan perempuan berasal dari bahan yang sama karena keduanya berasal dari jenis yang sama Tetapi mayoritas mufasir termasuk mufasir Kementerian Agama Republik Indonesia menjelaskan bahwa kata (min nafsin wahidah) adalah diri yang sama atau diri yang satu yaitu Adam. Sedangkan kalimat (wa khalaqa minha zawjaha) dari padanya Allah ciptakan pasangannya seringkali dimaknasi sebagai penciptaan Hawa berasal dari tulang rusuk Adam. Pemahaman ini antara lain didasarkan pada sabda Nabi Muhammad saw berikut:
Bersabda Rasulullah saw : "Saling pesan memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, jika engkau luruskan tulang rusuk itu (mungkin) engkau memecahkannya jika engkau biarkan maka ia terus bengkok maka saling berpesan (kebaikanlah) kepada perempuan" (H.R. Bukhari dan Muslim)
 
Pandangan bahwa perempuan sebagai makhluk yang diciptakan berbeda dengan laki-laki dipengaruhi oleh ajaran Yahudi, (dalam bentuk kisah-kisah Israiliyyat). Iniantara lain ditegaskann Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar "Seandainya tidak tercantum kisah Adam dan Hawa salam Kitab Perjanjian Lama, niscaya pendapat yang keliru itu tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang Muslim."
 
Yang dimaksud dengan tulang rusuk yang bengkok dalam hadis tersebut harus dipahami dalam pengertian majazi (kiasan(, dalam arti bahwa hadis tersebut bukan menjelaskan tentang penciptaan perempuan, tetapi memperingatkan kepada laki-laki agar menghadapi perempuan dengan bujaksana. Karena ada sifat, karakter dan kevenderungan mereka yang apabila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk bersikap tidak proporsional. Hadis tersebut mengingatkan bahwa karakter dan sifat bawaan perempuan tidak bisa dirubah tetapi bisa diendapkan dengan tawshiyah (nasehat yang bijak). Usaha yang tidak memperhatikan tawsiyah, misalnya memaksakan kehendak, bertindak kekerasan terhadap perempuan akan berakibat fatal, yang dikiaskan sebagaimana fatalnya meluruskan tulang rusuk yang bengkok. Jika hadits tersebut diartikan secara hakiki menjadi tidak sejalan dengan ajaran al-Qur'an.
 
Dari uraian tersebut, dapat dipahami, bahwa Islam menempatkan laki-laki dan perempuan setara dihadapan Allah. Sejak penciptaan, laki-laki dan perempuan dicipta dari dzat yangs ama, bersama-sama menjalankan fungsi ibadah khalifah untuk memakmurkan dunia, mensejahterakan dan memajukan umat manusia. Relasi yang dibangun adalah relasi saling emmuliakan, saling menghargai, saling mengingatkan, saling menjaga martabat kemanusiaan, saling menolong dalam kebaikan dan takwa.