Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah Menuju Keluarga Sakinah

28 Desember 2016 12:29 WIB | dibaca 599 | oleh: Siti 'Aisyah (Ketua PP 'Aisyiyah dan Dose tetap FAI UCY)

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (Q.S. an-Nisa' [4] : 124)

 

Suwarga nunut neraka katut

idiom dalam bahasa jawa itu sangat kental dalam kehidupan masyarakat pada saat 'Aisyiyah berdiri satu abad yang lalu. Kondisi perempuan sangat terpinggirkan. Perempuan tidak perlu belajar agama, tidak perlu mengerti isi al-Qur'an, bisa membaca dan menghafal surat-surat pendek sudah cukup. Peran perempuan dianggap remeh karena cukup mengikuti kedudukan dan peran suami. Masuk surga karena amal baik suami, dan bila suami masuk neraka karena kesalahan dan dosanya, isteri juga ikut masuk di neraka. Kondisi perempuan yang terpinggirkan, sangat tergantung pada suami dan kaum pria mewarnai seluruh kehidupan keluarga dan masyarakat. Ketergantungan perempuan pada kaum laki-laki, menjadi sumber permasalahan keluarga dan problem kemasyarakatan. Berbagai macam problem seperti kekerasan terhadap isteri, poligami, nikah siri, talak di luar sidang, penelantaran suami terhadap isteri, dan pembatasan peran isteri dalam keluarga, tanpa mendapat kesempatan beraktifitas di luar rumah, sementara isteri tidak berdaya menolak kondisi tersebut, sumber utamanya karena ketergantungan isteri terhadap suami, dan relasi yang timpang dalam keluarga, karena faham agama yang memberikan posisi sentral dan adi kuasa suami dan kaum laki-laki.

Menyadari problem keluarga dan kemsyarakatan dimaksud, 'Aisyiyah melalui Buku Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, menempatkan kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam keluarga menjadi hal yang asasi. Salah satu prinsip kesetaraan yang diangkat dalam buku tersebutadalah perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai hamba Allah, keduanya memiliki kedudukan setara dan memiliki fungsi ibadah. laki-laki dan perempuan memiliki kemandirian dan kesempatan yang sama untuk beriman dan beramal saleh. Yang membedakankedudukankeduanya di hadapan Allah hanyalah kualitas iman, taqwa, pengabdian kepada Allah, dan amal salehnya. Ayat tersebut di atas (Q. S. an-Nisa' [4] : 124 ) menjawab idiom tersebut, dengan menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan beriman dan beramal saleh akan masuk surga karena iman dan amalnya sendiri, tanpa dikurangi sedikitpun balasan kebaikannya. Ayat-ayat lain yang menegaskan hal tersebut diantaranya adz-Dzariyyat (51): 56, al-Hujurat (49) : 13, an-Nahl (16): 97, an-Nisa' (4):124, al-Ahzab (33) : 35.

Ayat-ayat tersebut sangat jelas dan tegas, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kemandirian dalam beribadah dan Allah akan emmberikan balasan karena iman, amal shalih, ibadah dan ketakwaannya sendiri, bukan karena ikut atau terbawa orang lain, meski itu suami, orangtuanya, atau anaknya. Dalam Muhammadiyah ibadah dirumuskan dalam Masailul-Khams (Masalah yang Lima) yaitu "Bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan yang khusus. Yang umum ialah segala amalan yang diizinkan Allah. Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-cara yang tertentu". Dalam pengertian umum, maka semua aktifitas hidup kita dimaknai ibadah, sepanjang aktifitas itu baik dalam pandangan Islam, diniatkan karena Allah, dan tujuan akhirnya hanya memohon keridhaan Allah Swt. Ibadah dalam arti khusus sudah diatur tata cara dan ketentuan khususnya, mencakup thaharah, shalat, zakat, shiyam, haji, berdoa, berdzikir, dan membaca Al-Qur'an.

Terkait dengan ibadah khusus, bagi perempuan ada beberapa hal spesifik bagi perempuan ada beberapa hal spesifik bagi perempuan, karena terkait dengan fitrah perempuan yaitu haidh, hamil, melahirkan, dan memberikan ASI (Air Susu Ibu), bukan karena perbedaan seksnya, antara laki-laki dan perempuan dalam beribadah. Misalnya, ketika perempuan haidh atau nifas, tidak diwajibkan menunaikan ibadah haji. Aktifitas lain, seperti membaca al-Qur'an, berdzikir, berdo'a, memotong kuku, memotong rambut boleh dilakukan ketika perempuan haidh atau nifas, tidak dibenarkan. Hal-hal lain dalam hubungan suami-isteri selain hubungan seks, seperti bercumbu dibolehkan, sebagai ekspresi mawaddah suami-isteri (Q.S. al-Baqarah [2] ; 222). Shiyam Ramadhan yang ditinggalkan bagi perempuan haidh wajib membayar qadha di hari lain. Bagi perempuan yang sedang hamil atau memberikan ASI, bila tidak kuat melaksanakannya, boleh tidak berpuasa. kepadanya diwajibkan membayar fidyah dengan memberi makan kepada orang miskin, satu hari satu mud (0,5 liter) (Q.S. al-Baqarah [2] : 184, HR. lima Ahli Hadis dari Anas bin Malik, HR al-Bazzar dari Ibnu Abbas, dan HR Abu Dawud dari Ibnu Abbas).

Shalat jama'ah di masjid bagi perempuan, sangat baik dilakukan, baik itu dilakukan di masjid bersama jama'ah laki-laki atau di mushalla khusus perempuan. Shalat yang dilakukan di mushalla perempuan, maka yang bertindak sebagai imam juga perempuan. Mushalla perempuan'Aisyiyah pertama kali didirikan  Nyai Dahlan di Kauman pada tahun 1922. Mushalla 'Aisyiyah yang pertama itu digunakan untuk shalat jama'ah para perempuan muslimah, belajar membaca al-Qu'an, dzikir, dan do'a, termasuk do'a shalat dengan fasih, meluruskan akidah, tuntunan akhlak karimah dan mu'amalah dunyawiyyah. Hal ini dilakukan untuk memaknai komprehensif hadis Rasulullah, bahwa shalat perempuan bukan lebih baik di rumah atau di kamar yang tersembunyi, tetapi merealisasikan Sunnah Rsulullah saw, ketika melihat para perempuan pergi ke masjid, beliau melarang para sahabat menghalangi para perempuan shalat berjama'ah di masjid (HR. Bukhari dan Muslim). Nabipun memerintahkan para sahabat mengizinkan isterinya yang meminta izin pergi ke masjid di malam hari (HR. Bukhari dari Ibnu Umar). Para isteri Rasul dan para sahabat pada masa Rasul juga menunaikan shalat di masjid. Selama 94 tahun mushalla 'Aisyiyah di Kauman tetap digunakan untuk shalat jama'ah dan kegiatan-kegiatan 'Aisyiyah Ranting Kauman, untuk memajukan kaum perempuan melalui kegiatan ibadah khusus dan ibadah umum. Sekarang mushalla 'Aisyiyah berkembang di seluruh Indonesia. Ada yang dikembangkan menjadi mushalla sehat dengan memenuhi persyaratan kebersihan dan kesehatan, juga dilengkapi dengan pemanfaatan lingkungan mushalla dengan tanaman sayuran organik dan ditata dengan apik dan indah.

Demikianlah, kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam menunaikan ibadah secara tegas telah digariskan dan diamalkan oleh umat Islam sejak masa Rasulullah saw. Dalam Keluarga Sakinah, maka ibadah khusus sebagai pilar spiritual yang menjadi salah satu dari lima pilar terwujudnya Keluarga Sakinah. Sedangkan ibadah umum, diwujudkan dalam 4 pilar lainnya, yaitu pilar Pendidikan, kesehatan dan linkungan hidup, ekonomi, serta pilar sosial, hukum dan politik.