'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » Keluarga Sakinah » Kepemimpinan Perempuan
Kepemimpinan Perempuan
05 Januari 2017 16:02 WIB | dibaca 441
oleh: Evi Sofia Inayati

Sejatinya, dalam pandangan Muhammadiyah kepemimpinan perempuan di ranah publik telah terumuskan dan bahkan telah terimplementasikan sejak kelahiran 'Aisyiyah tahun 1917. The founding father, KH. Ahmad Dahlan beserta Nyai Walidah sangat memahami bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi. Mereka berdua memiliki kesempatan dan wewenang sama menjalankan fungsi dalam mengelola, memakmurkan dunia dan memimpin sesuai dengan potensi, kempetensi, fungsi dan perannya sebagaimana disebutkan dalam al-Quran.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pemimpin bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mebcegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmah oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [Q.S. at-Taubah (9): 71].

KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah sadar bahwa peran perempuan sangatlah penting bersama kaum laki-laki untuk melakukan usaha pemajuan kehidupan masyarakat. Oleh karenanya, sebelum 'Aisyiyah lahir, KH. Ahmad Dahlan mendidik dan mempersiapkan sedemikian rupa para perempuan muda untuk menjadi pelopor dan penggerak kepemimpinan perempuan muslim. Jika ikhtiar KH. Ahmad Dahlan dalam mempersiapkan para calon perempuan pemimpin diterapkan dalam keluarga, sebenarnya keluarga dapat menumbuhkembangkan sedini mungkin potensi kepemimpinan anak-anak baik yang laki-laki maupun perempuan. Hal ini mengingat bahwa keluarga memiliki fungsi kaderisasi untuk menyiapkan anak-anak dan anggota keluarga lainnya sehingga tumbuh menjadi generasi muslim yang dapat menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan dakwah di kemudian hari. Orang tua perlu memberikan keteladanan dengan menunjukkan aktivitas kepemimpinannya dalam keluarga maupun dalam masyarakat. keluarga dapat menanamkan rasa saling menghormati, mengargai, dan mendukung ide, inisiatif, kreativitas, dikap kepedulian serta keaktifan dalam masyarakat yang dilakukan oleh orang tua maupun anak-anak. Bahkan, keluarga perlu saling memotivasi untuk berorganisasi. Interaksi dan pergumulan dengan berbagai persoalan masyarakat melalui aktivitas berorganisasi akan menumbuhsuburkan sensitivitas dan kepemimpinan.

Kepemimpinan perempuan dalam ranah publik dapat diimplementasikan pada berbagai lingkungan, baik di lingkungan tempat tinggal, organisasi, maupun lingkungan kerja, dengan menjabat atau tanpa harus manjabat struktur tertentu. Sebagai contoh, di lingkungan tempat tinggal, perempuan dapat menjabat sebagai ketua RT, RW, Lurah, atau Camat. Namun, jika tidak menduduki jabatan tertentu, perempuan dapat mengemukakan ide untuk kemajuan lingkungannya atau mengajak untuk menginisiasi aktivitas yang menyentuh kepentingan masyarakat. Demikian pula dalam organisasi - salam hal ini ber'Aisyiyah, kepemimpinan dapat ditunjukkan dengan sejauh mana pimpinan maupun anggotanya melalui peran dan tugas masing-masing mampu menjadikan gerakan 'Aisyiyah memberikan manfaat seluas-luasnya dan berkelanjutan pada masyarakat. Selain itu, kepemimpinan pada kelembagaan 'Aisyiyah dapat ditunjukkan dengan sejauhmana para perempuan pemimpin ini mampu merawar dan menguatkan organisasi secara manajerial sehingga dapat menjadi kekuatan sipil yang semakin banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan kehidupan masyarakat. Demikian pula, perempuan dapat menunjukkankepemimpinannya di ranah politik, penegakkan hukum dan lain-lain. 

Shared Post:
Keluarga Sakinah Terbaru