Islam dan Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan

14 September 2017 17:40 WIB | dibaca 203 | oleh: Suri Putri Utami (CKM PP 'Aisyiyah)

 

Allah membekali manusia dengan akal budi dan wahyu. Melalui tuntunan wahyu dan pengetahuannya, manusia mengemban amanah Allah untuk berbuat baik dan adil kepada kaum perempuan. Dengan cara itu perempuan dimampukan untuk menjalankan reproduksinya dengan aman dan nyaman.

Sampai saat ini upaya untuk mengatasi buruknya kesehatan reproduksi perempuan terus dilakukan oleh banyak pihak. Berbagai kebijakan internasional yang mengikat telah kita miliki seperti Konvensi PBB tentang larangan praktek diskriminasi (Cedaw), konferensi ICPD (Kependudukan dan Pembangunan) di Kairo yang menegaskan perlunya pemenuhan hak reproduksi perempuan, Undang-undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36/2009 yang memasukkan pasal khusus tentang kesehatan dan hak reproduksi, dan sejumlah kebijakan lainnya baik nasional maupun internasional.

Sementara dari tataran agama, kita juga memperoleh penegasan yang sangat kuat sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 14 tentang kewajiban untuk melindungi perempuan dalam menjalankan reproduksinya yang dalam bahasa Al Qur’an disebut wahnan ‘alâ wahnin (berat yang bertambah-tambah). Sebagaimana dirumuskan dalam UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 71 ayat (1), kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial yang bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan. Sementara pengertian kesehatan reproduksi bagi perempuan adalah suatu keadaan di mana organ-organ reproduksi, baik organ primer maupun sekunder sehat dan berfungsi.

Sehat reproduksi bagi perempuan artinya mereka tidak mengalami sakit, tidak terkena penyakit, tidak cacat, dan reproduksinya dapat berfungsi dengan baik. Melampaui sehat fisik, sehat reprduksi bagi perempuan juga melingkupi kesehatannya secara mental terhindar dari perasaan takut, cemas, tertekan, stress dll yang mengganggu kondisi organ dan sistem reproduksinya. Sehat secara sosial adalah perempuan dapat mengambil keputusan terkait dengan alat maupun fungsi reproduksinya. Perempuan terhindar dari diskriminasi yang disebabkan adanya mitos dan prasangka sosial terhadap dirinya akibat peran dan fungsi reproduksinya. Perempuan dimampukan beradaptasi secara sosial dalam keadaan apapun yang terkait dengan fungsi reproduksinya. Mereka juga dapat melakukan sosialisasi secara baik dalam keluarga dan mewujudkan relasi yang setara antara suami isteri, serta diakui, diterima keberadaannya dan dapat menjalankan peran-peran sosialnya dalam masyarakat.

Cakupan kesehatan reproduksi meliputi saat sebelum hamil, hamil, melahirkan, dan sesudah melahirkan; pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi, dan kesehatan seksual; dan kesehatan sistem reproduksi. Dilihat dari siklusnya kesehatan reproduksi meliputi:
a. Kesehatan reproduksi pada masa kehamilan
b. Kesehatan reproduksi masa kelahiran, memberikan asi
c. Kesehatan reproduksi masa remaja (haidl )
d. Kesehatan reproduksi masa pernikahan usia subur
e. Kesehatan reproduksi masa menopause


HAK-HAK KESEHATAN REPRODUKSI

1. Dalam UU no 36 tahun 2009, disebutkan beberapa hak kesehatan reproduksi yaitu ” Bahwa setiap orang berhak ” :
a. menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman, serta bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan yang sah.
b. menentukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi, paksaan, dan/atau kekerasan yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia sesuai dengan norma agama.
c. menentukan sendiri kapan dan berapa sering ingin bereproduksi sehat secara medis serta tidak bertentangan dengan norma agama.
d. memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Secara rinci, di samping hak-hak yuridis tersebut di atas, hak-hak reproduksi perempuan antara lain :
a. Kesetaraan gender dalam kehidupan sosial seharihari, pekerjaan, mengungkapkan pendapat, menerima informasi dan pelayanan kesehatan
b. Hak untuk hidup
c. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan Kespro
d. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk
e. Remaja berhak mendapat informasi Kespro Remaja
f. Hak mendapatkan layanan dan perlindungan kesehatan
g. Memperoleh informasi mengenai pencegahan penularan IMS, HIV & AIDS
h. Mendapat pelayanan Kespro yang terbaik
i. Hak untuk menentukan apakah mau hamil atau tidak dan kapan akan hamil
j. Memperoleh pelayanan kontrasepsi yang aman, efektif, terjangkau, dapat diterima, & sesuai dengan keinginan
k. Hubungan suami-istri yang saling menghargai


3. Islam memberikan kewajiban kepada para suami untuk memberikan hak-hak reproduksi kepada isterinya, seperti diisyaratkan dalam ayat-ayat al-Qur’an yang telah disebutkan pada uraian sebelumnya.

Sumber : Booklet Kesehatan Reproduksi Menuju Keluarga Sakinah, Pimpinan Pusat 'Aisyiyah