Implementasi Al-Asyirah menuju terwujudnya keluarga sakinah

04 Desember 2017 12:05 WIB | dibaca 755 | oleh: Dra. Hj. Siti ‘Aisyah, M.Ag (Dosen FAI UCY )

         Disuatu desa, ada sebuah keluarga yatim piatu, terdiri dari lima anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Ayah dan ibunya telah lama wafat. Ketika orang tuanya wafat, mereka meniggalkan sawah cukup luas. Anak-anak yatim itu masih kecil-kecil, membutuhkan asuhan dan biaya pendidikan. Salah seorang pakde dan budenya mengelola harta warisan itu, di gunakan untuk biaya hidup dan sekolah keponakannya yang dalam keadaan yatim piatu. Alhamdulillah , sekolah anak-anak yatim piatu itu sukses, semua sampai menyelesaikan perguruan tinggi dengan biaya warisan orang tua dan asuhan pakde dan budenya. Setelah semua selesai tanah warisan itu diserahkan kepada anak-anak sebagai ahli warisnya.

        Sepenggal kisah hidup yatim piatu itu menggambarkan model pengelolaan keluarga luas dalam bahasa al-Qur’an disebut al-‘asyirah. Dalam buku tuntunan menuju keluarga sakinah telah di ulas bahwa bentuk keluarga pada asalnya terdiri dari keluarga kecil (Nuclear family) dan keluarga luas (Extended family). Dalam perkembangan lebih lanjut, anatara nuclear dan extended family terdapat bentuk keluarga semi extended family.

Keluarga kecil (Nuclear Family)

     l-maraghi menafsirkan al-ahl sebagai keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan khadam (pembantu) laki-laki dan perempuan. Dalam pandangannya untuk menghindarkan diri dan keluarga dari siksa neraka, dilakukan melalui pendidikan dengan memberikan nasehat dan pengajaran. Dengan demikian, orang tua memiliki tanggungjawab mendidik anak-anak dan para pembantuagar senantiasa mampu menunaikan perintah allah dan menjauhi larangan-Nya. Untuk itu, berbagai macam ilmu ketrampilan dan pengalaman hidup perlu dididikan mualai dari keluarga, berlanjut dalam pendidikan sekolah, keaktifan dalam kegiatan kemasyarakatan dan organisasi.

Keluarga luas (Extended Family)

      Keluarga luas terdiri dari anggota keluarga kecil di tambah kerabat baik dekat maupun jauh. Struktur keluarga sakinah menganut pola keluarga luas, yang disamping mempunyai tanggungjawab terhadap kesejahteraan anggota keluarga inti yaitu ayah, ibu, anak, juga mempunyai tanggungjawab terhadap kesejahtreaan anggota kerabat dekat dari kedua pihak pasangan suami isteri. Isyarat dalam al-Qur’an dapat dipahami pada adanya konsep mahram dan ahli waris dalam keluarga. Implementasi rasa tanggungjawab terhadap anggota keluarga luas bersifat ekonomis, pendidikan, atau psikologis

     Dalam kasus yang dikutip diatas, karena anak yatim itu memiliki harta warisan, maka tanggungjawab pengasuh dalam keluarga al-‘asyirah lebih bersifat edukatif, psikologis dan social. Kepentingan ekonomi sifatnya mengelolah harta warisan untuk kepentingan hidup dan pendidikannya. Bila anak yatim lemah secara ekonomi maka tanggung jawab keluarga luas mencakupi semua aspek yang di butuhkan. Jika bila mana anggota dalam al-‘asyirah tidak mampu melakukannya maka tanggungjawab berpindah ke masyarakat. Dalam hal ini Aisyiyah telah melakukannya melalui santunan anak yatim dan duafa, baik melalui panti asuhan, santuanan keluarga maupun asuhan keluarga. Sebagai bangai banguan yang berbentuk semi extended family keluarga sakinah akan menjadi lembaga keluarga yang mampu memecahkan berbagai penyakit keluaraga, baik yang bersifat materiil maupun immaterial, yaitu kemiskinan, kebodohan, keretakan keluarga, dan lain sebagainya.

 

sumber : Suara Aisyiyah th. ke-94 edisi ke 9