Wartawan Harus Perhatikan Kesehatan Fisik dan Mental

23 Maret 2019 11:24 WIB | dibaca 62

Banyak pekerja yang seringkali tidak memperhatikan posisi dan postur tubuhnya saat bekerja. Padahal abnormal position atau posisi tidak normal menyebabkan abnormal movement atau pergerakan tidak normal. Pergerakan tidak normal dapt menimbulkan penyakit, cidera, hingga kematian. Menurut Ali Imron, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta ada fenoma yang kurang pas yang terjadi di masyarakat. Menurutnya, masyarakat kurang memperhatikan gerak fisik yang dilakukannya. Padahal screening fisik menjadi  hal yang penting.

Screening fisik tersebut di antaranya body compotitionbody posture dan aspek gerak. Screening fisik menjadi hal yang cukup penting bagi seorang pekerja. Ia dapat mengetahui bahkan membetulkan penyakit yang dirasakan karena posisi atau postur tubuh yang abnormal. Seseorang bisa mengalami pusing bukan karena kepalanya tetapi bisa karena postur leher yang abnormal. Postur leher yang abnormal tersebut dapat dikoreksi dan dibetulkan tanpa perlu mengonsumsi obat-obatan.

Pekerjaan dan timbulnya penyakit memiliki relasi yang kuat. Hal ini termasuk dialami oleh para wartawan. Wartawan memiliki tugas yang cukup berat. Tugas-tugas yang dilakukan wartawan membutuhkan kondisi tubuh yang prima. Misalnya saja saat wartawan terjun ke lapangan untuk meliput berita, mendapatkan dokumentasi suatu peristiwa, dan sebagainya. Wartawan lebih mementingkan berita yang akan didapatkan daripada posisi atau postur tubuh tidak normal saat melakukannya. Apalagi hal tersebut dilakukan selama bertahun-tahun.

Meskipun memiliki keistimewaan, sebagai wartawan tentu memiliki risiko dalam pekerjaannya. Jam kerja yang tidak jelas dan tidak tentu, cidera fisik hingga kematian, stress akibat deadline dan tuntutan pekerjaan, sampai banyak musuh. Risiko-risiko tersebut yang kerapkali diabaikan wartawan. Apabila seorang wartawan akan lebih baik mencegah datangnya penyakit akibat posisi atau postur tubuh yang tidak normal saat bekerja. Lima langkah pencegahan di antaranya pencegahan primer, health promotion, primer specific protection, pencegahan sekuncer early diagnosis dan promp treatment, disability limitation psychotherapy rehabilitation.

Dengan melakukan pencegahan di atas, wartawan akan memiliki ketenangan dalam bekerja. Ketenangan sendiri sangat dipengaruhi oleh kebugaran fisik sehingga fisik menjadi penting. Ali Imron meminta, apapun pekerjaan yang dilakukan mohon tetap memperhatikan posisi dan postur fisik.

Tidak kalah penting, Ali Imron menyarankan kepada awak media untuk rutin melalukan exercise. Exercise yang rutin dilakukan bisa mengurangi inflamasi/peradangan. Exercise dapat dilakukan dengan streching dan strightening. streching dilakukan untuk mengembalikkan body awareness. Straightening dilkukan untuk menghasilkan zat anti inflamasi.

Disarikan dari Materi Darurat Fisik Awak Media oleh Ali Imron