Warga Muhammadiyah Diharap Tidak Tersapu Tsunami Informasi

22 Maret 2019 16:05 WIB | dibaca 69

Memasuki tahun 2019, artinya di Indonesia memasuki tahun politik. Bersamaan dengan banyak informasi yang berseliweran di dunia maya, terutama media sosial. Banyaknya putaran arus informasi yang dapat kita sebut tsunami informasi tidak sesuai dengan kemampuan pengguna dalam mengolah informasi yang diterima. Mengolah informasi yang didapat dari media sosial membutuhkan pemahaman dari berbagai aspek, baik sosial, politik, agama, budaya, hukum, dan sebagainya.

Bagi Muhammadiyah sendiri tidak anti terhadap perkembangan teknologi informasi termasuk media sosial di dalamnya. Muhammadiyah tidak anti dan tidak melupakan keterkaitan agama dalam menggunakan media sosial. Itulah yang membedakan antara pengguna media secara umum dengan pengguna media sosial yang merupakan warga Muhammadiyah.

Keagamaan yang dikembangkan di Muhammadiyah adalah keagamaan yang berkemajuan. Agama Islam yang didakwahkan dan diamar ma’rufkan oleh Muhammadiyah itu Islam yang tidak anti modernitas, tidak anti kemoderenan. Termasuk kemudian dalam persoalan informasi, karena berkemajuan maka Muhammadiyah tidak anti kemajuan teknologi informasi, jadi ketika kita baca ada pesantren yang tidak membolehkan televisi, radio, atau HP tapi kalau Muhammadiyah itu sebagai perkembangan yang diterima.

Termasuk informasi sekarang ini yang ada di internet pun Muhammadiyah juga tidak anti terhadapnya. Namun, Muhammadiyah mengimbau agar internet digunakan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai karena berkembangnya teknologi sekarang, kita sampai mengalami tsunami informasi yang bisa menghancurkan kita. Tsunami ini jangan sampai menghancurkan kita karena kalau tsunami air itu kehancurannya paling jauh menghancurkan negara atau wilayah. Tapi kalau informasi tidak sekadar itu, bisa menghancurkan negara dari aspek sosial dan kehancuran sosial itu lebih parah daripada kehancuran negara,

Jika negara hancur akibat tsunami mungkin ada generasi baru, namun jika yang hancur adalah sistem sosialnya maka akan terjadi perpecahan dan masalah yang terjadi tidak akan selesai. Karena itu bagaimana supaya kita tidak tersapu tsunami informasi yang bisa menghancurkan negara dan sosial tadi, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid memberikan tuntunan bagaimana berinformasi dengan baik melalui fikih informasi. Mohon buku itu dibaca, diresapi, kemudian diamalkan supaya kita tidak mengalami tsunami informasi yang menghancurkan negara dan sosial kita.

Disarikan dari Sambutan Hamim Ilyas, Wakil Ketua Majelis Tarjid dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Forum Dialog dan Literasi Media di Hotel Cavinton, Yogyakarta.