Tumbuhkan Kepercayaan Diri Melalui BSA

21 Agustus 2020 11:14 WIB | dibaca 48

Dwi Yani Perempuan Difabel yang Berdaya

Namanya Dwi Yani berusia 40 tahun, seorang Istri dari Ikhsanudin dengan 2 anak. Berasal dari Desa Pakunden Kecamatan Ngluwar. Dwi Yani adalah seorang anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) Desa Pakunden Kecamatan Ngluwar. Dwi sapaan akrabnya sudah menjadi anggota BSA sejak awal dibentuk BSA di desanya. Setelah 2 tahun lebih menjadi anggota BSA bu Dwi merasa menjadi perempuan yang berbeda.

“Kalau bahasa pinternya saya sudah berdaya,” kata Dwi sambil menyunggingkan senyumnya.

Dwi menceritakan bagaimana sekarang dirinya nyaman bergaul bersama perempuan-perempuan lain di desanya, menjaga kesehatan dirinya dan keluarganya dan melakukan kegiatan ekonomi, bahkan dalam pemikiran dan hatinya tumbuh kesadaran bahwa dirinya harus bisa menggerakkan perempuan lain seperti dirinya untuk bisa menjalani kehidupan yang maju bersama masyarakat yang lainnya.

“Saya sudah tes IVA dan Sadarnis, alhamdulillah sehat. Saya pengen temen-temen juga bisa tes IVA kayak saya” ujar Dwi.

Dwi Yani adalah seorang difabel penyandang tuna daksa, kedua kakinya tidak sempurna sehingga mengharuskan Dwi menggunakan kursi roda dan membatasi geraknya. Dari apa yang ia ceritakan beban terbesar difabel bukanlah ketidakmampuannya namun pandangan dan sikap masyarakat yang menghancurkan kepercayaan diri dan pemikirannya untuk maju dan berkembang bersama masyarakat lainnya. Sebelumnya Dwi Yani hanyalah seorang istri yang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah mengurusi suaminya yang juga seorang difabel dan kedua anaknya. Tidak banyak bergaul membuat ia merasa kehidupannya sangat monoton dan tidak berkembang.

Hingga pada tahun 2016 ketika Dwi mendapat ajakan seorang kader untuk menjadi anggota BSA di desanya. Pada awalnya ia tidak tertarik dan enggan untuk menanggapi ajakan kader sebab Dwi minder dengan kondisinya dan takut dengan pandangan perempuan lain ketika melihatnya. Namun ajakan kader yang terus menerus dan memberikan perhatian lebih pada dirinya membuat Dwi tergerak untuk mencoba berangkat.

“Pikir saya kalo gak nyaman saya mau langsung pulang” ujarnya. Diluar dugaannya sambutan yang hangat dan sangat menyenangkan diarasakan Dwi hingga sampai saat ini ia masih menjadi anggota aktif di BSA. Karena keaktifannya di BSA, Dwi menjadi anggota yang aktif membersamai kader mengelola BSA. Sesekali Dwi juga diminta untuk berbagi kisah tentang kehidupannya kepada anggota BSA yang lain.

Selama menjadi anggota BSA, Dwi telah mengalami banyak perubahan dan kemajuan di kehidupannya. Melalui BSA Dwi belajar dan mengetahui banyak hal, salah satunya adalah untuk mendapatkan akses bagi kegiatan BSA. Atas arahan kader ia yang kemudian aktif di komunitas difabel Warsamundung kemudian juga berjuang bersama komunitasnya untuk mendapatkan akses pemberdayaan difabel. Selain itu Dwi juga aktif mengkampanyekan tes IVA dan Sadarnis kepada perempuan difabel lainnya. Menjadi perempuan yang aktif dan dinamis walau dengan keterbatasan mobilitas di atas kursi roda dengan motor roda 3-nya, kini Dwi tidak hanya menghabiskan waktunya di rumah saja tetapi aktif mencerdaskan dirinya dan memberdayakan perempuan difabel lainnya.

“Harapan saya akan ada kelompok BSA yang berisi perempuan-perempuan difabel lainnya di desa-desa yang lain. Agar semua perempuan difabel bisa menjadi perempuan cerdas dan berdaya,” tutup Dwi di akhir percakapan.

Penulis: Monica Subastia

Tim Lapangan MAMPU - 'AIsyiyah Kab. Magelang

Responden: Dwi Yani

Anggota BSA Pakunden, Magelang