Tingkatkan Kesadaran Tes IVA dan Pap Smear Melalui 'Aisyiyah

09 Maret 2017 11:33 WIB | dibaca 1097


Sejak bulan Mei 2014, Ibu Karminten merupakan salah seorang tenaga kesehatan di PUSKESMAS Brondong yang menjadi Motivator dari Program Maju Perempuan Untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU) ‘Aisyiyah di Dusun Puggur, Desa Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong. Sebagai motivator, beliau terus melakukan sosialisasi terkait bahaya dari CA Cerviks dan pentingnya melakukan deteksi dini Kanker Serviks dengan tes IVA dan Pap Smear, juga sosialisasi tentang ASI Eksklusif dan Layanan KB. Sebelum adanya program Maju Perempuan Untuk Penanggulangan Kemiskinan ‘Aisyiyah ini di Dusun Punggur, Desa Sedayu Lawas masih sangat minim terkait pengetahuan tentang kesehatan reproduksi khususnya mengenai deteksi dini Kanker Serviks dengan tes IVA dan Pap Smear.

Perubahan yang dianggap paling penting sejak beliau terlibat sebagai motivator yakni terus meningkatnya kesadaran masyarakat Kecamatan Brondong terhadap deteksi dini Kanker Serviks dengan melakukan tes IVA dan Pap Smear. Kesadaran masyarakat itu membuat ibu Karminten semakin bersemangat untuk terus melakukan sosialisasi yang tidak hanya pada daerah program saja, akan tetapi kepada seluruh ibu-ibu pengajian ‘Aisyiyah Cabang Brodong.


Ibu dari 3 orang anak ini, merupakan perempuan kelahiran tahun 1968 yang berdomisili di Desa Sidomukti, Kecamatan Brondong. Sebelumnya Ibu Karminten tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosialisasi tentang deteksi dini Kanker Serviks dengan tes IVA dan Pap Smear dalam masyarakat secara langsung seperti yang saat ini ia jalani dengan menjadi motivator Desa Sedayu Lawas . Pada masa awal kegiatan, pertemuan rutin dilakukan setiap 2 minggu sekali yang saat ini telah berjalan selama kurang lebih 9 bulan, beliau masih melakukan sosialisasi secara terus menerus dengan menampilkan gambar dari bahaya dan penyebab Ca Cerviks yang beliau sampaikan dengan menggunakan media-media lainnya seperti alat peraga, gambar-gambar, maupun lembar balik, untuk memudahkan beliau dalam penyampaian setiap materi kesehatan reproduksi, termasuk bahaya Kanker Serviks.

Diakui oleh Karminten, bahwa Tes IVA dan Pap Smear sebagai cara deteksi dini kanker serviks  sebelumnya masih dianggap tabu, dan sebagian besar dari masyarakat belum banyak mengetahui akan informasi tersebut. Selain itu para perempuan juga menganggap tes IVA atau Pap Smear itu sesuatu hal yang menakutkan serta memalukan karena harus alat kelamin mereka akan terlihat pada saat proses tes dilakukan.


Selama kurang lebih 2 kali pertemuan dalam sebulan, kegiatan komunitas Dusun Punggur terus berlangsung dan sosialisasi tentang tes IVA dan Pap Smear terus digencarkan dengan juga memberikan motivasi kepada para perempuan komunitas untuk berani melakukan tes IVA dan Pap Smear dengan berbagai cara pendekatan.

Hasilnya, pada saat mengadakan tes IVA untuk pertama kalinya, 25 orang perempuan sudah berani melakukan dan mau mengikuti tes IVA tersebut. “Hal ini merupakan salah satu prestasi menurut saya, karena mulai ada keberanian dan kesadaran terkait kesehatan reproduksi bagi perempuan, khususnya di Dusun Punggur ini, yang sebelumnya sangat susah untuk diajak tes IVA dan Pap Smear dan sebagian besar mereka merasa malu dan takut,” tutur Ibu Karminten di tengah-tengah cerita.


Tidak berhenti sampai di situ, Ibu Karminten bersama dengan ibu-ibu Motivator Brondong lainnya terus melakukan sosialisasi tentang deteksi dini kenker serviks dengan tes IVA dan Pap Smear melalui pengajian dan pertemuan rutin ‘Aisyiyah di Ranting dan Cabang Brondong. Hal tersebut terbukti cukup efektif. Contohnya adalah seorang guru SD bernama ibu Mariyatin. Ibu Mariyatin mendapatkan informasi dari teman-teman gurunya terkait sosialisasi kanker serviks yang dilakukan oleh Karminten. Maryatin kemudian dating dan menemui Karminten di BP Brondong , yaitu tempat menyelenggarakan tes IVA.

Mengetahui ketertarikan Mariyatin tersebut, Karminten kemudian memberikan penjelasan tentang semua yang menjadi penyebab kanker Serviks dan sambil menunjukkan gambar-gambar tentang kanker serviks, “Salah satu tipe kanker nomor satu yang paling banyak menyerang wanita Indonesia adalah kanker serviks Mbak, sebab kenapa hal itu terjadi, karena screening deteksi dini di Negara kita ini Mbak belum bagus, seperti di negara berkembang Mbak sudah bagus karena deteksi dininya kanker serviks sudah bagus. la nek kene Mbak ‘dibuka’ saja ora gelem, panjenengan lak moh-moh, ratau-ratau (kalo di sini Mbak, ‘dibuka’ saja tidak mau, seperti Mbak kan pasti bilang kalau tidak mau, belum pernah, red), saya kasih tahu Mbak kebanyakan tiba-tiba pasien yang datang ke petugas kesehatan itu rata-rata sudah stadium lanjut,” ujar Karminten sambil menjelaskan dengan menunjuk gambar-gambar tentang Kanker Serviks. Dari penjelasan itulah Mariyatin merasa sangat perlu dan penting untuk mencoba melakukan tes IVA atau Pap Smear meskipun beliau mau melakukan tes tersebut bersama dengan ibu-ibu lainnya yang mau tes IVA, supaya tidak terlalu takut dan mengurangi kecemasan. “la mau akeh seng tak jak konco-konco, tapi ora no seng gelem (tadi sudah saya ajak teman-teman, tapi gak ada yang mau)”, tutur Ibu dari 1 orang anak tersebut.


Karminten berharap ke depannya program Maju Perempuan Untuk Penanggulangan Kemiskinan ‘Aisyiyah ini terus bisa berjalan dengan gencar mensosialisasikan isu-isu kesehatan reproduksi, khususnya deteksi dini kanker leher rahim dengan melakukan tes IVA dan Pap Smear, sehingga kesadaran seluruh Masyarakat Brondong khususnya, terkait deteksi dini kanker serviks bisa meningkat, supaya tidak ada lagi pasien perempuan-perempuan yang sudah terdiagnosa kanker serviks stadium lanjut, baru datang ke petugas kesehatan. (Edited by: Suri)

 

Nama penulis: Jannah
Nama Responden : Karminten
Lokasi: Kabupaten Lamongan, Jawa Timur