Perubahan Warga Kerandon: Bermula dari BSA

04 November 2016 14:25 WIB | dibaca 1162

 

Sejak adanya program MAMPU ‘Aisyiyah, ibu Desi mengalami perubahan positif. Perubahan paling penting yang dirasakannya adalah dapat menggerakkan ibu-ibu yang ada di desanya agar mau melakukan tes IVA juga peningkatan kesadaran tentang pentingnya pendidikan dini untuk anak.

Ibu Desi merupakan kader MAMPU-‘Aisyiyah. Suaminya adalah Sekretaris Desa yang kebetulan saat program MAMPU-‘Aisyiyah hadir di desa, sedang menjabat sebagai pejabat sementara menggantikan kepala desa yang sudah habis masa jabatannya. Sudah dua tahun ini ibu Desi menjadi kader Aisyiyah-MAMPU, dan perempuan 36 tahun ini terus menggerakan masyarakat di desanya untuk mengikuti kegiatan di BSA (Balai Sakinah ‘Aisyiyah) dampingan Aisyiyah-MAMPU.

BSA merupakan kelompok perempuan, tempat Perempuan Usia Subur yang menjadi anggota BSA berkegiatan, mendapatkan berbagai informasi terkait kesehatan reproduksi, khususnya 5 isu kespro program MAMPU-‘Aisyiyah. Di BSA pula, anggota BSA dapat berbagi masalah dan penyelesaian antar sesama. Salah satu tujuan dari kegiatan BSA adalah agar anggota BSA dapat memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi untuk memenuhi hak-hak dasar perempuan juga peningkatan kepemimpinan perempuan di desa.

Sebagai isteri dari kepala desa (PLT) saat itu, Ibu Desi merasa mempunyai kewajiban untuk bisa memberdayakan masyarakat dengan berbagai program yang positif. Dari situ, kemudian ibu Desi makin yakin menjalankan program ini meskipun pada awalnya ia ragu.

Ibu Desi merasa begitu pentingnya informasi kesehatan reproduksi bagi perempuan di desanya. Ia pun tertantang untuk dapat menggerakkan ibu-ibu yang ada di desanya guna mengikuti kegiatan BSA ‘Aisyiyah-MAMPU. Seiring berjalannya kegiatan BSA di desanya, masyarakat yang semula tidak banyak mengetahui tentang kesehatan reproduksi, saat ini telah terdapat perubahan sedikit demi sedikit. Perubahan yang paling dirasakan menurut ibu Desi adalah pengetahuan masyarakat tentang tujuan dan manfaat dari pemeriksaan IVA.

Ibu Desi bercerita, sebelum adanya program MAMPU-‘Aisyiyah di desanya, ia pernah diminta pihak Puskesmas untuk menggerakkan ibu-ibu mengikuti tes IVA dan nanti akan dibawa dengan ambulans dari desa ke tempat pemeriksaan. Namun, “Saat itu, saya sendiri tidak tahu apa itu IVA, jadi tidak ada warga desa yang mau mengikuti tes IVA,” ungkap Desi. Berbeda dengan program MAMPU-‘Aisyiyah, yang diawali dengan sosialisasi di BSA dan pendekatan pada anggota BSA, sehingga saat diadakan tes IVA lebih dari 100 warga mengikuti pemeriksaan tersebut. Saat ini, ibu-ibu di desanya sudah 90% yang mau mengikuti tes IVA dibandingkan sebelumnya. Pengetahuan masyarakat juga meningkat mengenai pentingnya KB serta beragam pilihan alat kontrasepsi.

Setelah menjadi kader, Desi merasa lebih memiliki kemampuan untuk berbicara dan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Ia merasa lebih dikenal oleh masyarakat desanya. Selain menggerakkan masyarakat terkait isu kesehatan reproduksi, Desi juga menumbuhkan kesadaran para warga tentang pentingnya pendidikan anak usia dini. Kini ia mendirikan PAUD di desanya, karena PAUD yang telah ada sebelumnya, berjarak cukup jauh jika ditempuh dari desanya.

Ke depan, Desi berharap kegiatan di BSA akan terus meningkat dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Penulis
Nama: Ai Mariam
Hubungan dengan program:
Pendamping Lapangan pogram

Responden
Nama: Desi
Hubungan dengan program : Kader
Jenis kelamin : perempuan
Usia : 36 tahun

Lokasi Cerita
Provinsi                  : Jawa Barat
Kabupaten/Kota     : Cirebon
Kecamatan             : Talun
Kelurahan/Desa     : Kerandon