Menuju Koperasi 'Aisyiyah yang Profesional

06 Februari 2018 16:27 WIB | dibaca 679

 

Salah satu ciri khas 'Aisyiyah adalah perempuan berkemajuan. Tentu ucapan ini bukan jargon pemanis belaka. Para pimpinan dan anggota di berbagai tingkatan mengagendakan langkah strategis untuk benar-benar mewujudkan dakwah perempuan yang berkemajuan. Salah satu fokus bidangh 'Aisyiyah adalah bidang ekonomi. Latifah Iskandar menyebutkan bahwa bidang ini merupakan suatu urgensi karena pada dasarnya prinsip dakwah 'Aisyiyah adalah pemberdayaan, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Hal ini penting supaya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak tertinggal, jauh dari kemiskinan, dan tidak ketergantungan pada produk impor," ujarnya.

Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh 'Aisyiyah terdiri dari berbagai usaha antara lain melalui kelompok BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga) yang terdiri dari kelompok BUEKA produksi, distribusi, dan pra koperasi. Latifah menjelaskan untuk menguatkan BUEKA, majelis Ekonomi dna ketenagakerjaan (MEK) membuat sekolah Wirausaha 'Aisyiyah (SWA), dan KUK@ (Klinik Konsultasi Usaha 'Aisyiyah).

Selain itu, 'Aisyiyah juga concern dalam pengembangan koperasi. Mursidah Rambe dari Divisi Koperasi MEK PP 'Aisyiyah menceritakan pengalamannya turun naik daerah Gunung Kidul untuk berdakwah. Namun, selama 10 tahun pula ia tidak melihat dampak signifikan. Mengapa? Mursidah menjelaskan bahwa sejatinya ada dua jenis dakwah yang bisa dilakukan, yakni dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Ia melakoni selama 10 tahun semata-mata dakwah bil lisan. Mneurutnya, dampak dakwah ini tidak terlalu kentara karena sifatnya yang sangat spiritual. Maka dari itu, 'Aisyiyah merambah pada dakwah bil hal yang merupakan gerakan konkret untuk menjawab persoalan-persoalan yang terajadi di masyarakat. "oleh karena itu kita melihat bahwa gerakan dakwah kita harus bergerak ke dakwah bil hal dengan pemberdayaan ekonomi yang jauh lebih konkret," uajrnya.

Salah satu langkahy konkret itu adalah dengan pendirian koperasi. Selain itu, menurut Mursida koperasi adalah sokoguru perekonomian yang paling cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang komunal. Mursida menambahkan, jika bicara Undang-Undang No. 33 dan UU nO. 25 TAHUN 1992, semangat koperasi sesuai dengan semangat bangsa INodnesia yang menghargai gotong royong, kebersamaan, kepedulian, tolong menolong, dan persaudaraan. Semua kebijakan yang ada dal;am koperasi ditentukan berdasarkan musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Rambe menilai penting untuk 'Aisyiyahy untuk terus menggelorakan, mensosialisasikan, dan menghidup-hidupi koperasi karena bentuk inilah yang paling tepat. Dalam koperasi tidak ada rasa egois atau keakuan uang tinggi karena prinsipnya "dari, oleh, dan untuk anggota", "kalau dia punya modal dan tabungan banyak tapi bukan berarti dia bisa menentukan arah koperasi. Beda halnya dengan PT, misalnya saya sebagai komisaris punya uang banyak maka saya penentu kebijakan PT tersebut, Koperasi penentunya selain pengurus yang diberi mandat oleh RAT keputusan tertinggi di Rapat  khir Tahunan. Sehingga demokratisasi, kebersamaan, keterbukaan, keikhlasan dan keridhoan muncul di sana. Prinsipnya musyawarah kekeluargaan begitu kental di koperasi," jelas Rambe.

Mursida melihat bahwa perkembangan perekonomian Indonesia saat ini terlalu materialistik dan kapitalistik cenderung egois. Misalnya, 76 persen kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 0,2 persen orang saja. Tentu saja iklim seperti ini merusak kesejahteraan masyarakat Indonesia kebanyakan. Meskipun sulit untuk dihilangkan, menurut Mursidah toh bukan hal mustahil untuk menghapuskan sistem kapitalisme yang merusak. Setidaknya, tambah Rame, kita harus melakukan sesuatu meskipun kecil daripada hanya pasrah menerima saja. "Kalau hanya mengalah dan pasrah dengan sistem kapitalis, kita hanya akan melihat kekayaan Indonesia dikuasai asing dan orang Indonesia cukup menjadi penonton, konsumen, dan jongos, " ungkapnya.

Melihat hal ini, MEK tentui tidak berpangku tangan. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan koperasi. Mursida menjelaskan bahwa program kerja Divisi Koperasi 'Aisyiyah tahun 2015-2020 melakukan beberapa langkah strategis seperti pembuatan buku pedoman, diklat dan pelatihan pembuatan koperasi, melakukan kunjungan dan studi banding ke beberapa koperasi yang dikelola secara profesional, membuat program perubahan Anggaran Dasar, mendorong koperasi 'Aisyiyah yang sudah ada untuk berbadan hukum, hingga membuat koperasi sekunder tingkat nasional. Yang terpenting, menurutnya adalah sebagai lembaga dakwah, 'Aisyiyah perlu pelan-pelan untuk berbenah dna menjadikan koperasi 'Aisyiyah yang sudah ada untuk dijadikan koperasi syari'ah.

Salah satu penggiuat koperasi 'Aisyiyah adalah Suwartini. Ian merupakan Ketua Koperasi Mentari 'Aisyiyah yang berlokasi di Jepara, Jawa Tengah. Suwartini menceritaklan bahwa koperasi ini dibangun tahun 2008. Ide awalnya berasal dari kebutuhan untuk menghidupi Pangti Asuhan 'Aisyiyah di jepawa yang digawanginya bersama pengurus 'Aisyiyah lain. Lambat laun, koperasi yang didirikan oleh 20 anggita ini mulai berbadan hukum, bekerja sama dengan bank-bank syariah dan berbagai BMT di Jepara, dan sudah memberi bantuan bagi lebih dari 600 orang di Jepara bahkan Suwartini menjelaskan bahwa koperasi Mentari 'Aisyiyah Kalinyamatan Jepara ini bersama koperasi 'Aiysiyah di Klaten dan Kediri menjadi anggota Koperasi Sekunder PP 'Aisyiytah

Salah satu ciri khas 'Aisyiyah adalah perempuan berkemajuan. Tentu ucapan ini bukan jargon pemanis belaka. Para pimpinan dan anggota di berbagai tingkatan mengagendakan langkah strategis untuk benar-benar mewujudkan dakwah perempuan yang berkemajuan. Salah satu fokus bidangh 'Aisyiyah adalah bidang ekonomi. Latifah Iskandar menyebutkan bahwa bidang ini merupakan suatu urgensi karena pada dasarnya prinsip dakwah 'Aisyiyah adalah pemberdayaan, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Hal ini penting supaya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak tertinggal, jauh dari kemiskinan, dan tidak ketergantungan pada produk impor," ujarnya.

Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh 'Aisyiyah terdiri dari berbagai usaha antara lain melalui kelompok BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga) yang terdiri dari kelompok BUEKA produksi, distribusi, dan pra koperasi. Latifah menjelaskan untuk menguatkan BUEKA, majelis Ekonomi dna ketenagakerjaan (MEK) membuat sekolah Wirausaha 'Aisyiyah (SWA), dan KUK@ (Klinik Konsultasi Usaha 'Aisyiyah).

Selain itu, 'Aisyiyah juga concern dalam pengembangan koperasi. Mursidah Rambe dari Divisi Koperasi MEK PP 'Aisyiyah menceritakan pengalamannya turun naik daerah Gunung Kidul untuk berdakwah. Namun, selama 10 tahun pula ia tidak melihat dampak signifikan. Mengapa? Mursidah menjelaskan bahwa sejatinya ada dua jenis dakwah yang bisa dilakukan, yakni dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Ia melakoni selama 10 tahun semata-mata dakwah bil lisan. Mneurutnya, dampak dakwah ini tidak terlalu kentara karena sifatnya yang sangat spiritual. Maka dari itu, 'Aisyiyah merambah pada dakwah bil hal yang merupakan gerakan konkret untuk menjawab persoalan-persoalan yang terajadi di masyarakat. "oleh karena itu kita melihat bahwa gerakan dakwah kita harus bergerak ke dakwah bil hal dengan pemberdayaan ekonomi yang jauh lebih konkret," uajrnya.

Salah satu langkahy konkret itu adalah dengan pendirian koperasi. Selain itu, menurut Mursida koperasi adalah sokoguru perekonomian yang paling cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang komunal. Mursida menambahkan, jika bicara Undang-Undang No. 33 dan UU nO. 25 TAHUN 1992, semangat koperasi sesuai dengan semangat bangsa INodnesia yang menghargai gotong royong, kebersamaan, kepedulian, tolong menolong, dan persaudaraan. Semua kebijakan yang ada dal;am koperasi ditentukan berdasarkan musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Rambe menilai penting untuk 'Aisyiyahy untuk terus menggelorakan, mensosialisasikan, dan menghidup-hidupi koperasi karena bentuk inilah yang paling tepat. Dalam koperasi tidak ada rasa egois atau keakuan uang tinggi karena prinsipnya "dari, oleh, dan untuk anggota", "kalau dia punya modal dan tabungan banyak tapi bukan berarti dia bisa menentukan arah koperasi. Beda halnya dengan PT, misalnya saya sebagai komisaris punya uang banyak maka saya penentu kebijakan PT tersebut, Koperasi penentunya selain pengurus yang diberi mandat oleh RAT keputusan tertinggi di Rapat  khir Tahunan. Sehingga demokratisasi, kebersamaan, keterbukaan, keikhlasan dan keridhoan muncul di sana. Prinsipnya musyawarah kekeluargaan begitu kental di koperasi," jelas Rambe.

Mursida melihat bahwa perkembangan perekonomian Indonesia saat ini terlalu materialistik dan kapitalistik cenderung egois. Misalnya, 76 persen kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 0,2 persen orang saja. Tentu saja iklim seperti ini merusak kesejahteraan masyarakat Indonesia kebanyakan. Meskipun sulit untuk dihilangkan, menurut Mursidah toh bukan hal mustahil untuk menghapuskan sistem kapitalisme yang merusak. Setidaknya, tambah Rame, kita harus melakukan sesuatu meskipun kecil daripada hanya pasrah menerima saja. "Kalau hanya mengalah dan pasrah dengan sistem kapitalis, kita hanya akan melihat kekayaan Indonesia dikuasai asing dan orang Indonesia cukup menjadi penonton, konsumen, dan jongos, " ungkapnya.

Melihat hal ini, MEK tentui tidak berpangku tangan. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan koperasi. Mursida menjelaskan bahwa program kerja Divisi Koperasi 'Aisyiyah tahun 2015-2020 melakukan beberapa langkah strategis seperti pembuatan buku pedoman, diklat dan pelatihan pembuatan koperasi, melakukan kunjungan dan studi banding ke beberapa koperasi yang dikelola secara profesional, membuat program perubahan Anggaran Dasar, mendorong koperasi 'Aisyiyah yang sudah ada untuk berbadan hukum, hingga membuat koperasi sekunder tingkat nasional. Yang terpenting, menurutnya adalah sebagai lembaga dakwah, 'Aisyiyah perlu pelan-pelan untuk berbenah dna menjadikan koperasi 'Aisyiyah yang sudah ada untuk dijadikan koperasi syari'ah.

Salah satu penggiuat koperasi 'Aisyiyah adalah Suwartini. Ian merupakan Ketua Koperasi Mentari 'Aisyiyah yang berlokasi di Jepara, Jawa Tengah. Suwartini menceritaklan bahwa koperasi ini dibangun tahun 2008. Ide awalnya berasal dari kebutuhan untuk menghidupi Pangti Asuhan 'Aisyiyah di jepawa yang digawanginya bersama pengurus 'Aisyiyah lain. Lambat laun, koperasi yang didirikan oleh 20 anggita ini mulai berbadan hukum, bekerja sama dengan bank-bank syariah dan berbagai BMT di Jepara, dan sudah memberi bantuan bagi lebih dari 600 orang di Jepara bahkan Suwartini menjelaskan bahwa koperasi Mentari 'Aisyiyah Kalinyamatan Jepara ini bersama koperasi 'Aiysiyah di Klaten dan Kediri menjadi anggota Koperasi Sekunder PP 'Aisyiytah

Salah satu ciri khas 'Aisyiyah adalah perempuan berkemajuan. Tentu ucapan ini bukan jargon pemanis belaka. Para pimpinan dan anggota di berbagai tingkatan mengagendakan langkah strategis untuk benar-benar mewujudkan dakwah perempuan yang berkemajuan. Salah satu fokus bidangh 'Aisyiyah adalah bidang ekonomi. Latifah Iskandar menyebutkan bahwa bidang ini merupakan suatu urgensi karena pada dasarnya prinsip dakwah 'Aisyiyah adalah pemberdayaan, termasuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. "Hal ini penting supaya kondisi ekonomi masyarakat Indonesia tidak tertinggal, jauh dari kemiskinan, dan tidak ketergantungan pada produk impor," ujarnya.

Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh 'Aisyiyah terdiri dari berbagai usaha antara lain melalui kelompok BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga) yang terdiri dari kelompok BUEKA produksi, distribusi, dan pra koperasi. Latifah menjelaskan untuk menguatkan BUEKA, majelis Ekonomi dna ketenagakerjaan (MEK) membuat sekolah Wirausaha 'Aisyiyah (SWA), dan KUK@ (Klinik Konsultasi Usaha 'Aisyiyah).

Selain itu, 'Aisyiyah juga concern dalam pengembangan koperasi. Mursidah Rambe dari Divisi Koperasi MEK PP 'Aisyiyah menceritakan pengalamannya turun naik daerah Gunung Kidul untuk berdakwah. Namun, selama 10 tahun pula ia tidak melihat dampak signifikan. Mengapa? Mursidah menjelaskan bahwa sejatinya ada dua jenis dakwah yang bisa dilakukan, yakni dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Ia melakoni selama 10 tahun semata-mata dakwah bil lisan. Mneurutnya, dampak dakwah ini tidak terlalu kentara karena sifatnya yang sangat spiritual. Maka dari itu, 'Aisyiyah merambah pada dakwah bil hal yang merupakan gerakan konkret untuk menjawab persoalan-persoalan yang terajadi di masyarakat. "oleh karena itu kita melihat bahwa gerakan dakwah kita harus bergerak ke dakwah bil hal dengan pemberdayaan ekonomi yang jauh lebih konkret," uajrnya.

Salah satu langkahy konkret itu adalah dengan pendirian koperasi. Selain itu, menurut Mursida koperasi adalah sokoguru perekonomian yang paling cocok dengan karakter masyarakat Indonesia yang komunal. Mursida menambahkan, jika bicara Undang-Undang No. 33 dan UU nO. 25 TAHUN 1992, semangat koperasi sesuai dengan semangat bangsa INodnesia yang menghargai gotong royong, kebersamaan, kepedulian, tolong menolong, dan persaudaraan. Semua kebijakan yang ada dal;am koperasi ditentukan berdasarkan musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Rambe menilai penting untuk 'Aisyiyahy untuk terus menggelorakan, mensosialisasikan, dan menghidup-hidupi koperasi karena bentuk inilah yang paling tepat. Dalam koperasi tidak ada rasa egois atau keakuan uang tinggi karena prinsipnya "dari, oleh, dan untuk anggota", "kalau dia punya modal dan tabungan banyak tapi bukan berarti dia bisa menentukan arah koperasi. Beda halnya dengan PT, misalnya saya sebagai komisaris punya uang banyak maka saya penentu kebijakan PT tersebut, Koperasi penentunya selain pengurus yang diberi mandat oleh RAT keputusan tertinggi di Rapat  khir Tahunan. Sehingga demokratisasi, kebersamaan, keterbukaan, keikhlasan dan keridhoan muncul di sana. Prinsipnya musyawarah kekeluargaan begitu kental di koperasi," jelas Rambe.

Mursida melihat bahwa perkembangan perekonomian Indonesia saat ini terlalu materialistik dan kapitalistik cenderung egois. Misalnya, 76 persen kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh 0,2 persen orang saja. Tentu saja iklim seperti ini merusak kesejahteraan masyarakat Indonesia kebanyakan. Meskipun sulit untuk dihilangkan, menurut Mursidah toh bukan hal mustahil untuk menghapuskan sistem kapitalisme yang merusak. Setidaknya, tambah Rame, kita harus melakukan sesuatu meskipun kecil daripada hanya pasrah menerima saja. "Kalau hanya mengalah dan pasrah dengan sistem kapitalis, kita hanya akan melihat kekayaan Indonesia dikuasai asing dan orang Indonesia cukup menjadi penonton, konsumen, dan jongos, " ungkapnya.

Melihat hal ini, MEK tentui tidak berpangku tangan. Salah satu caranya adalah dengan mendirikan koperasi. Mursida menjelaskan bahwa program kerja Divisi Koperasi 'Aisyiyah tahun 2015-2020 melakukan beberapa langkah strategis seperti pembuatan buku pedoman, diklat dan pelatihan pembuatan koperasi, melakukan kunjungan dan studi banding ke beberapa koperasi yang dikelola secara profesional, membuat program perubahan Anggaran Dasar, mendorong koperasi 'Aisyiyah yang sudah ada untuk berbadan hukum, hingga membuat koperasi sekunder tingkat nasional. Yang terpenting, menurutnya adalah sebagai lembaga dakwah, 'Aisyiyah perlu pelan-pelan untuk berbenah dna menjadikan koperasi 'Aisyiyah yang sudah ada untuk dijadikan koperasi syari'ah.

Salah satu penggiuat koperasi 'Aisyiyah adalah Suwartini. Ian merupakan Ketua Koperasi Mentari 'Aisyiyah yang berlokasi di Jepara, Jawa Tengah. Suwartini menceritaklan bahwa koperasi ini dibangun tahun 2008. Ide awalnya berasal dari kebutuhan untuk menghidupi Pangti Asuhan 'Aisyiyah di jepawa yang digawanginya bersama pengurus 'Aisyiyah lain. Lambat laun, koperasi yang didirikan oleh 20 anggita ini mulai berbadan hukum, bekerja sama dengan bank-bank syariah dan berbagai BMT di Jepara, dan sudah memberi bantuan bagi lebih dari 600 orang di Jepara bahkan Suwartini menjelaskan bahwa koperasi Mentari 'Aisyiyah Kalinyamatan Jepara ini bersama koperasi 'Aiysiyah di Klaten dan Kediri menjadi anggota Koperasi Sekunder PP 'Aisyiytah