Layanan Asuhan Paliatif di Puskesmas Minasatene, Menuju Pangkep Peduli Kespro

26 Agustus 2017 18:13 WIB | dibaca 190

 

Sebelum program Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU) ‘Aisyiyah masuk di Pangkep, program kesehatan reproduksi belum berjalan seperti sekarang ini. “Sudah ada tetapi kekurangan support yang dibutuhkan,” ujar bidan Hendrianisyam memulai cerita.

Hendrianisyam adalah bidan motivator yang bergabung dalam program MAMPU ‘Aisyiyah Pangkajene dan Kepulauan atau biasa disingkat Pangkep sejak 2014. Kader MAMPU ‘Aisyiyah mendampingi Perempuan Usia Subur (PUS) khususnya dari dhu’afa mustadh’afin untuk bisa bersilaturahmi, berbagi dan saling memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi, ASI, KB, JKN dan sebagainya. Tujuan dari program ini adalah peningkatan kualitas kesehatan reproduksi melalui penguatan kepemimpinan perempuan di komunitas dan pemberdayaan perempuan.

Kesadaran perempuan dan masyarakat atas isu kesehatan reproduksi yang minim masih ditemukan di beberapa daerah, salah satunya di Pangkep. “IVA Tes sudah ada lama tapi belum pernah dijadikan isu utama,” ujar Bidan Indri. Ia menambahkan, “kenapa tidak dilaksanakan? alasannya pertama tenaga kurang, kemudian alat, sarana prasarana juga belum lengkap”.

‘Aisyiyah dengan program MAMPU masuk di Pangkep dimana salah satu isunya yakni meningkatkan kesehatan reproduksi bagi perempuan. Kader ‘Aisyiyah giat melakukan sosialisasi kepada anggota dampingan di komunitas Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) juga melakukan advokasi ke dinas dan layanan kesehatan seperti Puskesmas untuk meningkatkan kebijakan serta layanan yang lebih berpihak kepada perempuan.

  

Salah satu cara yang dilakukan ‘Aisyiyah Pangkep untuk meningkatkan kesehatan reproduksi perempuan Pangkep adalah melaksanakan pelatihan tes IVA dan Pap Smear bagi tenaga kesehatan faskes tingkat I pada tahun 2015. Hal tersebut diakui Bidan Indri sangat membantu para bidan di pustu, poskesdes juga para bidan desa untuk memberikan pelayanan terkait kespro kepada para perempuan. Tidak hanya berhenti di situ, kemudian berbekal data lapangan tentang kasus kanker payudara dan kanker serviks, kader ‘Aisyiyah mengajukan usulan untuk menghadirkan layanan asuhan paliatif (paliatif care) di Puskesmas Minasate’ne.

“Pada saat itu ada tiga kasus kanker serviks dan tiga kasus kanker payudara dengan kondisi stadium lanjut,” ujar Bidan Indri. “Usulan dari kader disampaikan kepada saya sebagai bidan motivator kemudian saya lanjutkan kepada kepala puskesmas. Alhamdulillah kepala puskesmas memberikan sambutan positif dan mengundang ‘Aisyiyah untuk melakukan koordinasi mengenai usulan tersebut,” tambah Bidan Indri. Dari koordinasi tersebut pada akhir tahun 2016 terbentuklah layanan asuhan paliatif di Puskesmas Minasate’ne.

Tim yang terdiri dari Kepala Puskesmas, dr. umum, bidan, ahli gizi, promosi kesehatan, serta kader ‘Aisyiyah sejak tahun 2016 telah mulai bekerja dengan MOU yang disetujui kedua belah pihak. “Pasien yang kami damping saat ini ada dua orang,” ujar Bidan Indri. Banyak kendala yang dihadapi oleh tim yang adalah justru dari pasien sendiri. “Ada pasien yang baru melakukan dua atau tiga kali kemo kemudian berhenti karena merasakan sakit, kemudian juga karena tidak ada keluarga pasien yang bisa menjaga setelah selesai kemo,” ungkap Bidan Indri. Tetapi tim terus melakukan tindakan persuasif dengan melakukan kunjungan ke rumah pasien dan memberikan pengertian termasuk kepada keluarga pasien.  

Disampaikan oleh bidan Indri bahwa saat ini layanan paliatif care ini tidak hanya membawa manfaat bagi pasien tetapi juga bagi kinerja Puskesmas Minasate’ne karena saat ini sudah diajukan  sebagai inovasi layanan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep. “Alhamdulillah setelah kami buka layanan paliatif ini dan sosialisasi yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah, kesadaran masyarakat sudah semakin bertambah akan pentingnya kesehatan reproduksi,” ujar Bidan Indri.

Dijelaskan oleh Bidan Indri bahwa keinginan menjaga kesehatan mereka dari penyakit kanker serviks dan payudara membuat masyarakat datang sendiri atau mengajak keluarganya untuk melakukan tes IVA juga sadarnis ke Puskesmas. Bidan Indri menambahkan bahwa kepedulian atas kanker serviks juga bergaung di masyarakat Pangkep secara meluas yang dibuktikan dengan sering diadakannya Tes IVA dalam acara yang digelar oleh dinas pemerintahan. “Sekarang setiap hari ulang tahun dinas maka salah satu acaranya adalah pemeriksaan IVA tes, ulang tahun TNI, ulang tahun dinas kami tidak pernah ketinggalan dipanggil untuk melaksanakan iva tes. Sekarang sudah seperti menjadi kebiasaan,” ungkap Bidan Indri.

Harapan ke depan, Bidan Indri menginginkan agar layanan asuhan paliatif ini bisa direplikasi oleh puskesmas lain di Pangkep sehingga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat Pangkep yang lebih luas. “Ini kan paliatif care hanya satu percontohan saja di Keluarahan Biraeng, harapan saya kalau bisa paliatif care ini bisa diadakan 1 kecamatan atau satu wilayah wilayah Puskesmas Minasate’ne juga bisa ke puskesmas lain,” ujar Indri. “Harapan terbesar saya semoga dengan itu masyarakat atau ibu-ibu bisa menyadari atau merubah pola pikirnya bahwa kita itu perlu dan sangat penting untuk tahu tentang kesehatan reproduksi karena kalau mereka tidak tahu otomatis mereka tidak akan memeriksakan kesehatannya.” (Suri)