From Zero to Hero : Pendamping Pasien Kanker Desa Sampiran

11 Agustus 2018 11:33 WIB | dibaca 180

“Ibu punten, mau sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi wanita. Kalau keputihan terus menerus dan berwarna kecoklatan dan berbau busuk, kalau berhubungan seksual dengan suami mengeluarkan darah  barangkali kanker.”  ujar Nani saat membujuk warga untuk mau peduli kespro. Walaupun pada awalnya sosialisasi yang dilakukan Nani tidak ditanggapi oleh warga namun berkat kegigihan, niat baik dan kunjungan rutin ke warga kini usahanya bisa berbuah manis.
- Sri Nani-
(Kader Desa Sampiran, Cirebon, Jawa Tengah )
 

Sejak mengikuti kegiatan Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) dari MAMPU ‘Aisyiyah, Sri Nani perempuan berusia 45 tahun merasakan dirinya bisa bermanfaat bagi warga sekitarnya. Berkat pelatihan dan informasi yang didapatnya Nani yang sebelumnya tidak memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan sekarang sudah berani berbagi informasi  terutama tentang kesehatan reproduksi.

Masyarakat di tempat Nani tinggal yakni Desa Sampiran biasa terbuka jika terjadi sesuatu yang menyangkut masalah kesehatan mereka, hanya saja dahulu sangat jarang ada sosialisasi kesehatan. Khusus untuk kesehatan reproduksi, masyarakat biasanya hanya mengeluhkan saat sudah terasa sakit dan baru peduli. Menyadari hal tersebut Nani kemudian berinisiatif untuk berkeliling kampung melakukan sosialisasi.

“Ibu punten, mau sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi wanita. Kalau keputihan terus menerus dan berwarna kecoklatan dan berbau busuk, kalau berhubungan seksual dengan suami mengeluarkan darah  barangkali kanker.”  kata Ibu Nani saat berkeliling melakukan sosialisasi. Dari sana kemudian Ibu Nani menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan IVA atau Papsmear. Ibu Nani juga menganjurkan Sadari untuk memeriksa payudara sendiri dengan cara meraba kalau kita mau mandi apakah ada benjolan di payudara, ibu – ibu ataupun remaja putri.

Pertama - tama sosialisasi yang dilakukan Ibu Nani tidak di tanggapi oleh warga namun berkat kegigihan dan niat baik ibu Nani dan kunjungan intens ke warga maka terbuka juga pintu hati masyarakat akhirnya di tanggapi dengan  baik oleh  Ibu – Ibu Pasangan Usia Subur.

Perbedaan yang dirasakan Ibu Nani sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan BSA dimana sebelumnya info yang diperoleh Ibu Nani masalah kesehatan reproduksi belum lengkap dan jelas karena hanya sekilas saja dan tidak tahu jika berbahaya. Namun sekarang setelah ada BSA, info yang diperoleh Ibu Nani tentang kesehatan reproduksi sudah lengkap dan jelas. Kesan yang diperoleh Ibu Nani adalah sekarang Ibu Nani memiliki lebih banyak teman dan saudara. Ibu Nani juga merasa senang karena masyarakat sering datang dan bertanya kepadanya dan itu semua membuat Ibu Nani semakin bersemangat saat di BSA dan menjadi kader ‘Aiyiyah.

Sebelum bergabung dengan BSA, Ibu Nani juga belum pernah mendengar tentang Tes  IVA dan Papsmear. Setelah Ibu Nani mengerti segera memeriksakan diri karena ingin mengetahui apakah kesehatan reproduksi sehat atau tidak. Ibu Nani juga mensosialisasikan masalah kanker serviks kepada tetangga dan keluarganya untuk segera periksa akan diri dengan Tes IVA atau papsmear. Baik tetangga dan keluarga Ibu Nani percaya dan tidak meremehkan meskipun Ibu Nani bukan orang kesehatan. Jika memang menolak biasanya mereka menolak dengan halus.

Sampai saat ini sudah 3 tahun Nani berkeliling kampung untuk bercerita kepada ibu-ibu tentang kespro, sadarnis dan tes IVA dan tidak jarang, ada ibu-ibu yang datang kerumah Nani untuk bertanya atau konsultasi tentang penyakit yang sedang di deritanya. “Ibu punten, mau sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi wanita. Kalau keputihan terus menerus dan berwarna kecoklatan dan berbau busuk, kalau berhubungan seksual dengan suami mengeluarkan darah barangkali kanker,” ujar Nani saat membujuk warga untuk mau peduli kespro. Walaupun pada awalnya sosialisasi yang dilakukan Nani tidak ditanggapi oleh warga namun berkat kegigihan, niat baik dan kunjungan rutin ke warga kini usahanya bisa berbuah manis.

Nani bersyukur saat ini jika ada keluhan kesehatan masyarakat segera berkonsultasi entah kepada dirinya, kader lain atau pun ke bidan di puskesmas. “Bahkan ada yang setelah sosialisasi dan memeriksakan diri menjadi tahu bahwa dia memiliki kista yang beratnya mencapai ½ kg,” ujar Nani. Tak hanya itu, berkat kegigihan Nani berkeliling kampung ada 6 warga lain yang juga diketahui positif kanker payudara. Nani pun tidak tinggal diam melihat penyakit yang diderita warga tersebut, ia turut mendampingi dalam upaya pengobatan mulai dari meminta rujukan di puskesmas sehingga proses pengobatan juga tindakan operasi di rumah sakit.

Nani merasa senang karena dirinya bisa bermanfaat bagi lingkungan, PUS yang sering datang dan bertanya kepadanya. Ia berharap selalu sehat dan terus memiliki pengetahuan yang semakin bertambah. “Alhamdulillah terima kasih kepada ibu-ibu hebat dari tim MAMPU ‘Aisyiyah Kabupaten Cirebon yang selalu ada mendampingi kami jika ada permasalahan di lapangan.” Ini semua membuat Nani semakin bersemangat saat di BSA dan menjadi kader ‘Aiyiyah.