Empati Jadi Aksi - Tentang Suami yang Memilih Menggunakan Alkon

10 Maret 2017 10:07 WIB | dibaca 538

 

Keterlibatan Ibu Herawati dalam program Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU) ‘Aisyiyah menghasilkan perubahan penting dalam kehidupannya setelah 10 tahun lebih menjadi akseptor KB. Perubahan yang dianggapnya paling penting adalah keputusan suaminya untuk menjadi akseptor sehingga Ibu Herawati tidak perlu lagi menjadi akseptor KB.

Ibu Herawati merupakan pekerja sosial di Kab. Cianjur. Sebelum mengikuti program, ia merupakan pengelola Panti Asuhan ‘Aisyiyah di Cianjur. Sejak bulan Juli 2014, ia bergabung sebagai tim manajemen program Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan ‘Aisyiyah Cianjur. Program ‘Aisyiyah MAMPU merupakan program penguatan kepemimpinan perempuan untuk penanggulangan kemiskinan yang dikelola ‘Aisyiyah dengan tema “Penguatan Kepemimpinan Perempuan untuk Peningkatan Kualitas Kesehatan Reproduksi Perempuan melalui Model Layanan Kesehatan Reproduksi yang Terjangkau dengan Pendekatan Hak-hak Perempuan.” Terdapat 5 isu kesehatan reproduksi, ASI, pencegahan kanker serviks, JKN, sunat perempuan, dan keluarga berencana sebagaimana terkait dalam cerita perubahan yang dialami Ibu Herawati.

Sepuluh (10) tahun bukan waktu yang sebentar bagi seorang perempuan untuk menggunakan alat kontrasepsi hormonal. Sudah dua kali Herawati beralih jenis alat kontrasepsi , pil dan suntik per 3 bulan. Tak lama ia menggunakan alat kontrasepsi pil, karena kesibukan Hera sehingga sering bepergian membuatnya terkadang tidak membawa pil KB yang seharusnya ia minum tiap hari. Dari pil, ibu dua anak yang melahirkan dengan cara cesar ini beralih ke alat kontrasepsi suntik. Meski telah beralih suntik, Hera masih saja terkendala dengan keteraturan waktu untuk melakukan suntik KB, dan terkadang mengalami pusing. Semula Hera memang hanya mengetahui dua jenis alat kontrasepsi saja, yaitu pil dan suntik.

Sampai kemudian Herawati bergabung sebagai tim manajemen program sehingga ia mendapatkan informasi tentang beragam jenis alat kontrasepsi selain pil dan suntik. Selain itu, sebagai tim manajemen, ia sering berkunjung ke lokasi program dan bertemu dengan para motivator-kader maupun anggota BSA yang dikelola oleh ‘Aisyiyah.

Meski sibuk, tapi tak jarang Wawan, suami Hera yang juga berprofesi sebagai pekerja sosial, ikut menemani Hera melakukan kunjungan lapangan untuk bertemu motivator maupun kader. Dari situ, Wawan mendapat cerita tentang banyaknya keluhan para ibu pengguna alat kontrasepsi hormonal, seperti tidak mengalami menstruasi dalam jangka waktu cukup lama, atau justru mengalami menstruasi terus menerus sehingga badannya terasa lemas karena banyaknya darah menstruasi yang keluar. Belum lagi keluhan pusing, mual, maupun keluhan lainnya yang harus dialami perempuan karena menggunakan alat kontrasepsi.

Di saat yang sama, Hera yang semula berniat menggunakan alkon jangka panjang, seperti IUD, sedang mengalami perbaikan hormon karena dipicu penggunaan alkon suntik yang tidak teratur. Saar ini, Hera juga belum mengalami menstruasi. Menurut dokter, perbaikan hormon tersebut dapat berlangsung dalam jangka pendek maupun bisa saja berlangsung lama. Dalam situasi tersebut, baik Hera maupun Wawan, suaminya, yang turut serta ketika Hera berkonsultasi ke dokter kemudian saling berkomunikasi tentang penggunaan alkon, dan Wawan memutuskan untuk menggunakan alkon kondom.

Problem para ibu pengguna alat kontrasepsi yang juga dialami istrinya itu menggugah kesadaran Wawan tentang banyaknya risiko yang harus ditanggung oleh para ibu untuk mencegah kehamilan. Begitu juga dengan Herawati, istrinya, yang tidak kalah lama menggunakan alat kontrasepsi dengan beragam dampak penggunaan. Empati terhadap perempuan membuat Wawan memutuskan untuk mengambil alih penggunaan alat kontrasepsi. Sejak itu Herawati merasa lega karena akhirnya ia dapat beristirahat setelah satu dekade lebih menggunakan alkon hormonal yang memerlukan keteraturan.

Ke depan ia berharap, semakin banyak perempuan yang dapat mengomunikasikan keluhannya menggunakan alkon kepada suaminya. Dengan begitu, semakin banyak pula suami yang memiliki kesadaran untuk memakai alat kontrasepsi, sehingga perempuan tidak harus menanggung risiko penggunaan alkon yang tidak mengenakkan tubuhnya.

Nama penulis: Hajar
nama responden : Herawati
Lokasi: Kabupaten Cianjur, Jawa Barat