Belajar dari Pemenang I Lomba Keluarga Sakinah Teladan Nasional

28 September 2016 14:01 WIB | dibaca 2145

Pasangan Drs. H. Mohammad Syakir,SU. - Hj. Machsunah, SE. yang telah menikah 47 tahun yang lalu mendaoat Juara I Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Nasional dalam seleksi yang diselenggarakan tanggal 15 - 19 Agustus 2016 di Jakarta, yang diikuti oleh 33 Propinsi. Tulisan berikut adalah hasil wawancara reporter Suara 'Aisyiyah dengan keluarga beliau, mari simak! 

Kompak Melangkah dalam Dakwah

Kesamaan lanhkah dalam membawa misi dakwah membuat mereka tidak sulit mewujudkan keluarga sakinah. Falsafah hidupnya menganut lebah, di mana mereka tinggal harus mampu membuat sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungannya. Sudah menjadi komitmen berdua bahwa di setiap ulang tahun pernikahan harus ditandai dengan hal yang monumental (tidak selalu bangunan fisik) baik yang bersifat sosial keagamaan maupun organisasi seperti rintisan pengajian, kegiatan sosial, amal usaha, dan amal sosial lainnya. Selain itu juga bersifat pribadi seperti jenis bidang usaha wiraswasta. Walaupun M. Syakir menjadi dosen sebuah perguruan tinggi ternama di Yogyakarta, tetapi tidak segan berusaha bersama istri karena sangat tahu bahwa hasil usaha itu untuk kesejahteraan bersama.

Keluarga Berfungsi sebagai Sarana Kaderisasi

Keluarga M. Syakir & Machsunah dikaruniai lima anak yang saat ini keempatnya sudah menikah. Upaya mengantarkan kelima anaknya sampai ke jenjang pendidikan tinggi dan memiliki pendidikan agama yang cukup, serta memiliki kesadaran berjuang li I'la-I kalimatillah tidaklah bisa dilalui secara instan, tetapi melalui proses panjang. Kiatnya adalah seperti berikut: pertama, pembiasaan ; kedua, keteladanan; ketiga, pelibatan; keempat, pendelegasian. keempat hal itu dilakukan sejak anak-anaknya masih kecil. Mereka dibiasakan membantu tugas-tugas organisasi di tingkat ranting yang sarat akan kegiatan. Jika ada acara di luar kota seperti pelatihan, ank-anak diajak berkunjung ke lokasi kegiatan. Anak-anak juga dimotivasi aktif di organisasi AMM seprti NA, IPM, dan PM. saat ini disyukurinya bahwa masing-masing telah menjadi kader 'Aisyiyah/Muhammadiyah.

M. Syakir dan Machsunak percaya bahwa keluarga itu merupakan madrasah bagi anak-anaknya, dan sebagi sarana pengkaderan. Ayat yang paling mereka sukai dalam hal kaderisasi ini adalah surat As-Shof ayat yang menggambarkan dialog antara Isa dan para kadernya. "Jadilah kalian penolong agama Allah!", saat Isa bertanya : "Siapa penolong agama Allah?" para kader itu menjawab "Kami.. penolong agama Allah". Dialog demikianlah yang didambakan pasangan itu. 

Ekonomi sebagai Penyangga Tegaknya Bangunan Keluarga Sakinah

Mengingat ekonomi merupakan salah satu pilar tegaknya rumah tangga, maka sejak awal pernikahan keduanya membuka bermacam-macam dengan modal yang mampu diciptakan sendiri, walaupun bentuk usahanya tidaklah besar. Hal yang ditanamkan kepada anak-anaknya adalah bahwa orang Islam itu harus kaya sehingga mampu menjadi yadul 'ulya (tangan di atas), dan mampu membiayai dakwah Islam. Selain itu mereka berkeyakinan bahwa orang hidup itu yang menggaji adalah dirinya sendiri.

Pendidikan Menjadi Prioritas

"Ilmu itu tak  terbatas. Semakin kita belajar, kita akan semakin tahu bahwa banyak hal yang kita belum tahu." Juga firman Allah tentang ilmu "....Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu." Dan ungkapan bahwa "orang berilmu itu bagaikan bintang penunjuk arah di tengah kegelapan."

Hal tersebutlah yang menyulut semangat mencari ilmu dalam keluarga itu. kelima anaknya, semua sukses diantarakan kependidikan yang tinggi. Sedangkan Machsunah lulus S1 (STIE) di usia 65 tahun, penantiannya selama 46 tahun akhirnya terwujud. saatini ia dalam proses penulisan tesis di Pasca Sarjana FE UII jurusan Ekonomi dan Keuangan Islam. Baginya belajar tidak ada batas usia, senyampang Allah masih mengaruniakan kemampuan. Menurutnya, membentuk keluarga sakinah itu harus dimulai sejak memilih, dan menentukan pasangan hidup.

Peran Kemasyarakatan

Dalam kehidupan bermasyarakat keduanya bertutur bahwa seorang muslim harus inklusif agar bisa membuktikan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin. Menangkap pesan dari surat Ali Imran 110, pasangan M. Syakir  Machsunah  selalu berbaur  dalam masyarakat  sehingga M. Syakir sempat menjadi ketua  RT, RW 22 Condongcatur sekaligus sebagai ketua Ranting Muhammadiyah dan Majelis Tabligh, Tarjih dan Tajdid PCM Depok, yang jejaknya diikuti juga oleh Machsunah yang ikut aktif diberbagai kegiatan kemasyarakatan dan organisasi juga. Berperan dalam masyarakat yang majemuk tidaklah ringan. Sebagai pembawa misi dakwah langkahnya harus selalu berebut simpati masyarakat dengan tokoh kelompok maupun tokoh kelompok maupun tokoh agama lain.

Manajemen dalam Keluarga

Mengelola rumah tangga, berwiraswasta, dan berorganisasi, serta berdakwah merupakan tugas yang tidak terelakkan. Agar semua tugas bisa dilaksanakan dengan seimbang perlu manajemen waktu yang baik, serta pembagian tugas pekerjaan rumah tangga secara serta pembagian tugas pekerjaan rumah tangga secara proporsional. Selain manajemen waktu, diterapkan pula manajemen konflik. Dalam keluarga terdapat suatu waktu yang disepakati untuk "Kultum Keluarga" yang fungsinya selain penambahan ilmu juga untuk saling "tawashaubil haqqi wa tawashou bil-ashabri" sehingga ganjalan bisa cair, dan masalah bisa diatasi bersama, dan ketidaksepahaman tidak berbuah konflik.

manajemen keuanganpun menjadi hal yang penting agar pengeluaran dapat terkendali antara lain dengan membuat perencanaan keungan setiap bulan. Dalam perencanaan keuangan ini hal yang tidak boleh dilupakan adalah penyisihan untuk ZIS, juga santunan untuk keluarga.

Rumah Menjadi Baitul 'Ilmi

Di usia senjanya, setelah pensiun M. Syakir memakmurkan rumahnya menjadi Baitul 'Ilmi. Rumahnya sering digunakan untuk rapat-rapat. Pada hari-hari tertentu untuk memberi pelajaran mambaca al-Qur'an bagi pemula, kajian al-Qur'an tematik, dan bahasa arab, serta pelajaran computer untuk bapak-bapak. Sedangkan Machsunah selain membina 25 kelompok pengajian, dirumahnya mrngajar kursus ketrampilan dua kali seminggu untuk remaja dan ibu muda, pelajaran komputer untuk ibu-ibu lansia.

Semangat berbagi ilmu keduanya tak lekang oleh waktu, tak lapuk karena usia. Saat keduanya berada di Tokyo pun rumah tinggalnya sementarapun dijadikan sebagai "baitul 'ilmi".

Disadur dari Suara 'Aisyiyah edisi September halaman 20 - 21 (Keluarga Sakinah)