Ajakan Tes IVA Dari Gerobak Sayur Keliling

14 Februari 2015 13:31 WIB | dibaca 1313

Reni (jaket hitam) saat menjajakan sayur

 

Sejak mengikuti kegiatan Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) yang diinisiasi program ‘Aisyiyah-MAMPU, ibu Reni mengalami perubahan positif dalam kehidupannya. Perubahan yang dianggapnya paling penting adalah keberaniannya menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada para pelanggan sayurannya

 

Ibu Reni merupakan pedagang sayur di Desa Kauman, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi. Perempuan kelahiran 22 Februari 1989 ini telah memiliki satu orang anak yang sedang duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Nglencong. Sejak bulan April 2014, Ibu Reni mulai bergabung dalam kegiatan BSA yang diadakan di Masjid Jami’ dekat rumahnya oleh ‘Aisyiyah-MAMPU.

 

Balai Sakinah ‘Aisyiyah merupakan komunitas yang dikelola oleh motivator-kader ‘Aisyiyah-MAMPU di tingkat desa sebagai wadah bagi para perempuan usia subur khususnya dhu’afa mustadh’afin (miskin-termiskinkan) untuk bersilaturrahmi, berbagi, berkegiatan serta mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi, khususnya terkait isu ASI, KB, pencegahan kanker serviks, dan Jaminan Kesehatan Nasional. Tujuan dari program ini adalah peningkatan kualitas kesehatan reproduksi perempuan antara lain melalui penguatan kepemimpinan local leader perempuan dan pemberdayaan perempuan di komunitas sehingga terjadi perubahan perilaku.

 

Keputusan Ibu Reni untuk mengikuti kegiatan BSA berbuah manis. Semula ia belum pernah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi. Perempuan bernama lengkap Wahdatul Aini ini baru mendengarnya saat ikut sekolah kesehatan. Ia memang memiliki sebutan tersendiri untuk kegiatan BSA yang diikutinya, yaitu ‘Sekolah Kesehatan.

 

Pie amprehe ngerti trus kulo nyelonong kiambak (bagaimana caranya supaya saya tahu -tentang kesehatan- sehingga saya nyelonong sendiri ikut kegiatan BSA),” ungkap Reni menceritakan bagaimana ia dapat bergabung dalam kegiatan Sekolah Kesehatan BSA. Menurut Reni, dari sekolah kesehatan itu ia menjadi tahu bahwa ternyata sebagai perempuan lebih memiliki risiko pada gangguan kesehatan reproduksi, seperti kanker payudara maupun kanker serviks, “makanya ada tes IVA saya harus ikut, pap smear saya juga harus ikut,” ujar perempuan berusia 26 tahun ini menunjukkan keseriusan dalam menjaga kesehatan reproduksinya.

 

Jarwoko, suaminya pun turut mendukung keikutsertaannya mengikuti sekolah kesehatan. Suaminya itu pernah pula menanyakan apa itu pap smear. Sebagai peserta KB suntik, Reni juga beruntung karena suaminya ikut mengingatkannya saat tiba waktunya suntik per bulan, bahkan kadang suaminya yang berprofesi sebagai peternak ayam dan sopir ini juga ikut mengantar Reni ke tenaga kesehatan untuk suntik KB.

 

Begitu pentingnya informasi kesehatan reproduksi bagi perempuan, sehingga Reni yang sehari-hari bekerja dari jam 1 pagi untuk kulakan sayur lalu dijualnya dengan cara berkeliling ini ingin ikut membagi pengetahuan yang didapatnya dari sekolah kesehatan, mulai dari ibu-ibu pelanggan yang sehari-hari ia temui, teman-teman di pasar saat ia kulakan, juga keluarganya. Namun terkait informasi deteksi dini kanker serviks, Reni baru berani mengajak jika ia sudah merasakan sendiri tes IVA. Reni masih ingat bagaimana rasanya ketika melakukan tes IVA di Polindes, “Saat periksa seperti diberi anyep-anyep (cairan yang rasanya dingin), pemeriksaannya sebentar tidak sampai 3 menit sudah selesai.”

 

Reni lebih percaya diri mengajak langganannya ikut tes IVA, “Alhamdulilah mereka percaya dengan informasi saya walaupun saya bukan petugas kesehatan, karena saya mengajak mereka setelah saya melakukan. Reni kemudian memperagakan cara ia mengajak langganannya mengikuti tes IVA, “Eh wong ayok melok  IVA, aku ki sekolah kesehatan nang masjid Jami’ ben ngerti kesehatane awake dewe, ga usah pakai crystal sing penting awake e dewe ndank IVA/Papsmear, ben ngerti kesehatan reproduksine ndue penyakit opo gag” (eh ayo ikut tes IVA, aku ikut sekolah kesehatan di Masjid Jami’ supaya tahu kesehatan badan sendiri, tidak usah pakai crystal yang penting kita segera IVA/pap smear, supaya tahu punya penyakit atau tidak. Reni mengatakan, bahwa kebanyakan ibu di lingkungannya banyak yang memakai crystal berharga mahal untuk menjaga kesehatannya. Mereka yang tertarik dengan ajakan Reni langsung bertanya di mana dapat periksa IVA, dan ketika sudah melakukan tes IVA IVA bertanya kembali kapan jangka waktu untuk periksa IVA lagi.

 

Perubahan lain yang Reni rasakan sejak mengikuti sekolah kesehatan adalah keberaniannya untuk berkonsultasi dengan bidan yang notabene merupakan salah satu pelanggan setianya. Ia mengaku kadang mengalami keputihan banyak dan terkadang tidak, “karena saya sudah mengikuti sekolah jadi saya berani konsultasi ke bidan,” beber Reni. Meski sudah mengenal lama sang bidan apalagi rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal Reni, tetapi sepengakuan Reni, ia baru berani berkonsultasi setelah ikut kegiatan BSA.

 

Ke depan Reni berharap agar kegiatan BSA dapat berjalan terus, apalagi di sekolah kesehatan itu ia juga mendapatkan ketrampilan cara membuat steak, pupuk dan jenis ketrampilan lain.