AJAKAN PEDULI KESPRO DARI WARUNG BU SUPARTINI

10 Juni 2017 21:10 WIB | dibaca 280

 

Sejak mengikuti kegiatandiBalai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) , sayadahulunya hanya berdagang dan menjadi kader posyandu sekarang memiliki kegiatan yang bermanfaat bagi diri saya dan warga di sekitar.

Saya, Supartini seorang perempuan berusia 46 tahun yang tinggal di Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Cirebon. Sehari-hari saya mencari nafkah dengan membuka warung sayur di rumah.

Saat ini saya aktif sebagai seorang kader posyandu juga kader BSA. Sebelum ada Program MAMPU ‘Aisyiyah, sayahanya mendapatkan ilmu tentang kesehatan dari buku dan ibu bidan saat di posyandu.Namun sekarang setelah menjadi kader BSA saya bisa mendapatkan ilmu yang sangat banyak tentang kesehatan dimana sebagai kader sayadilatih dan diberi ilmu kesehatan reproduksi yang dapat disampaikan ke warga di sekitar.

Kesan yang dirasakan setelah masuk kader program MAMPU‘Aisyiyahsaya sangat senang apalagi di rumahsaya jugadigunakan untuk pertemuan Pasangan Usia Subur (PUS) BSA. Begitu antusiasnya warga, kadang disaat tidak ada pertemuan pun tetap saja ada warga yang datang ke rumah untuk menceritakan keluhannya atau meminta saran.



Suami saya (Pak Syarif) juga sangat mendukung apa yang saya dilakukan. Bapakseringmembantu jika ada warga yang ingin menghadiri pertemuanBSAdan tidak ada kendaraan. Bapak yang merupakan aparat di desa juga selalu siap jika ada warganya yang minta tolong untuk diantarkan ke puskesmas karena beliau ingin warganya tetap sehat.

“Bu, ayo nanti pada datang ke rumah saya. Nanti diberi tahu masalah kesehatan, ada bidannya juga bu” kata sayasembari melayani pembeli di warung kecil depan rumah. Warga yang diberi tahu pun datang ke pertemuan BSA yang bertempat di rumah saya.Semakin kesini semakin banyak warga yang datang saat pertemuan. Warga juga sudah biasa menceritakan keluhannya dan meminta solusi pada narasumber yang datang saat pertemuan BSA.

Pada pemeriksaan IVA di Desa Sampiran, PUS dari Blok Sijopak ada 13 orang yang diperiksa dan hasilnya semua negatif. Saat mengajak PUS ada juga kendala yang dihadapi, dimana ada salah seorang PUS yang mempengaruhi warga lainnya agar tidak mengikuti Tes IVA. Warga tersebut juga mengajak untuk tidak ikut BSA karena nanti akan dipaksa untuk periksa IVA.

“Dipaksa kayak gimana kan saya sendiri hanya menawarkan tidak memaksa kalau mau ya silahkan kalau tidak ya tidak apa-apa. Kalau ingin tahu tanya kepada yang sudah periksa jangan ke yang belum periksa” jelas saya pada saat itu. Sayamerasa wajar ada warga yang melakukan demikian karena sebelumnya ada yang luka sebab memiliki masalah ketika Tes IVA sehingga membuat warga lainnya merasa takut.Akan tetapi saya cukup sedih karena kemudian beberapa PUS membatalkan tidak jadi Tes IVA padahalsuami saya sudah datang menjemput.

Awalnya saya belum mengetahui sama sekali masalah kanker serviks apalagi Tes IVA dan Papsmear sehingga saat sayadiminta untuk mengajak orang untuk Tes IVA yang diadakan oleh Puskesmas warga menolak karena sayajuga belum bisa menjelaskan Tes IVA itu apa. Namun setelah ada BSA dimana narasumber menjelaskan tentang Tes IVA warga jadi ingin memeriksakan dirinya dengan Tes IVA.Warga lebih peduli tentang kesehatan reproduksinya. Jika terdapat keluhan, warga tidak segan datang ke rumah untuk bercerita. Bahkan warga yang jarang ke posyandu jadi sering datang ke rumah. Kegiatan BSA yang dimulai jam 10.00 tapi dari jam 08.00 sudah ada yang datang.

Saya pribadi sudah menjalani Tes IVA saat ada Pelatihan IVA bagi tenaga kesehatan di Akbid Muhammadiyah Cirebon. Saya ingin memeriksakan diri karena dulu sempat keguguran dan belum dikuret. Sebelum Tes IVA saya merasa takut karena melihat alat yang digunakan namun ternyata tidak apa-apa. Setelah Tes IVA dan hasilnya negatif, saya menginfokan kepada warga dan menjelaskan jika Tes IVA tidak sakit dan tidak menyebabkan berdarah. Alasan saya mengajak warga untuk Tes IVA agar semua sehat. Saya mengajak warga untuk peduli pada kesehatan reproduksi ditambah lagi di daerah kami dulu juga ada yang terkena kanker serviks dan meninggal di usia 40 tahun padahal anaknya yang paling kecil baru kelas 2 SD.

“Bu, ada Tes IVA gratis kalau harus bayar kan mahal. Kalau ada keputihan nanti bisa jadi jamur kalau terus seperti itu bisa jadi kanker kan bahaya apalagi sudah stadium lanjut.” kata sayasaat mengajak warga untuk Tes IVA.

Alhamdulillah warga percaya karena sayapeduli kepada tetangganya sehingga tidak ada yang sinis terhadapnya sekalipun sayabukan petugas kesehatan. PUS yang sudah menjalani Tes IVA juga menceritakan kepada warga lainnya bahwa Tes IVA tidak sakit dan setelahnya jadi bersih. PUS yang terdapat bintik-bintik saat Tes IVA juga memeriksakan kembali di puskesmas dan sekarang sudah bersih. Warga khususnya PUS semakin hari semakin penasaran tentang kesehatan reproduksi sehingga sering bertanya kapan diadakan pertemuan BSA.

Harapan sayakedepannya semua masyarakat sehat jika terdapat keluhan dibicarakan agar dapat diperiksakan sekalipun sayaataupun suamiharus mengantar ke puskesmas. Saya berterimakasih atas program MAMPU ‘Aisyiyah yang sudah memberikan saya banyak pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sehingga saya bisa semakin lebih berguna untuk warga sekitar.

Nama Pencerita                       :    Supartini
Hubungan dengan Program    :    Kader BSA QT
Usia                                         :    46  tahun
Lokasi                                     :     Blok Sijopak Desa Sampiran Kec. Talun