Siti Umniyah

 

Terhitung sejak tahun 194, pasca peralihan jabatan Hoofdpenghulu dari Mohammad Khalil Kamaludiningrat ke Mohammad Kamaludiningrat atau Kyai Sangidu, gerakan Muhammadiyah mulai memasuki bangsal priyayi. Bangsal yang sebelumnya dianggap tabu dikunjungi warga awam. Kyai Sangidu adalah penghulu yang mengijinkan bangsal priyayi digunakan setelah beliau menjabat sebagai kepala penghulu. Sejak itu, bansal priyayi dipakai untuk penggemblengan kader muballigh Muhammadiyah. Di Bangsal ini pula berlangsung kegiatan belajar khusus anak-anak. Kegiatan inilah yang kelak disebut Bustanul Athfal yang dirintis salah satunya oleh putrid Kyai Sangidu, Siti Umniyah.

Siti Umniyah lahir di Kauman pada 1905. Ayahnya, Kyai Sangidu merupakan teman seperjuangan Kyai Ahmad Dahlan. Rumah Kyai Sangidu yang dikenal sebagai Pendopo Tabligh adalah tempat di mana Kyai Dahlan menetapkan Muhammadiyah sebagai nama organisasi gerakannya pada tahun 1911. Kyai Sangidu diangkat menjadi penghulu ke-12 pada 1914 dengan nama kehormatan Kanjeng Kyai Penghulu Mohammad Kamaludiningrat. Inilah awal Kyai Sangidu berperan aktif dalam membangun gerakan Muhammadiyah dalam Bangsal Priyayi.

Putrinya mendapat didikan langsung dari Kyai Dahlan. Kyai Dahlan pulalah yang mengajurkannya memakai kerudung yang saat itu berbahan kain songket khas Kauman. Siti Umniyah adalah murid Kyai Dahlan selain Siti Munjiyah yang dikaderkan di Sekolah Agama. Hasil didikan Kyai Dahlan dan istrinya pada Siti Umniyah bisa dilihat dari kiprahnya di Siswa Praja Wanita (SPW) yang belakangan berubah menjadi Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) pada 1931. SPW adalah kumpulan remaja putri oleh anak-anak perempuan di Kauman yang mulai dibangun pada tahun 1919. Kegiatan kumpulan ini termasuk berpidato, mengaji, berkumpul, berjama’ah sembahyang subuh, dan beberapa kegiatan lainnya. Pada 1924, Siti Umniyah bersama teman-temannya mendirikan Taman Kanak-Kanak, embrio TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal.

5 bulan memimpin, Siti Wasilah Hadjid mengundurkan diri sebagai pimpinan. Sejak itu, Siti Umniyah memimpin SPW. Markas SPW yang sebelumnya berada di rumah yang kelak jadi Musholla ‘Aisyiyah, berpindah ke belakang rumah Siti Umniyah setelah SPW dipimpinnya. Sekolah anak-anak yang didirikannya ikut berpindah jadi satu markas dengan SPW. Siti Umniyah memimpin SPW sekitar 10 tahun, tampuk kepemimpinan beralih pada Zoechrijah dari tahun 1929.

Siti Umniyah juga aktif mengajar di Madrasah Muallimat Muhammadiyah setamatnya dari Al-Qismul ‘Arqa. Dia termasuk guru periode awal. Profesinya ini dia geluti sampai tahun 1954. Mulai tahun 1940, Siti Umniyah membuka asrama di rumahnya. Kegiatan itu sempat berhenti ketika terjadi agresi militer II Belanda yang membuat Siti Umniyah mengungsi ke Banaran, Selatan Yogyakarta. Di Banaran, bersama putrid bungsunya Amzah, Umniyah bergabung dengan “Penerangan Mobil” yang bertugas mengobarkan semangat perjuangan melawan Belanda. Asramanya berlanjut setelah keadaan mulai tenang.

Semasa hidupnya, Siti Umniyah dikenal rajin bersilaturahmi, pandai berbahasa Arab, dan memiliki perhatian khusus pada pendidikan remaja. Sebagai pribadi yang gemar menulis dan bersenandung, suatu kali dia menuliskan lagu berbahasa Arab yang isinya menjelek-jelekan penjajah Belanda. Dia melawan penjajah dengan caranya sendiri. Lagu itu dikumandangkan anak-anak dalam kunjungan Ratu Wihelmina yang mengharuskan anak-anak menyambutnya di muka jalan. Siti Umniyah menjadi single parent dalam masa yang lama karna suaminya, Ahmad Wardi meninggal di usia muda.

Kiparhnya dalam SPW dan Pendirian Bustanuh Athfal diakui dalam secarik catatan berikut :
”Di dalam pimpinannya St. Oemnijah, SPW makin lama makin bertambah maju sehingga mempunyai tambahan gerakan, ialah tholabussa’adah, Tajmilul Achlaq, dan Dirasatul Banat, kemudian dapat mendirikan pula sekolahan Bustanul Athfal” (Taman Nasjiah, no.3 tahoen II, September 1940)

Halaman 8 dari 8