Siti Munjiyah

 

Sejak K.H. Ahmad Dahlan dan Siti Walidah merintis forum cursus yang melahirkan perkumpulan Sapa Tresna pada 1914, anak didik yang disekolahkan di sekolah netral dan madrasah mulai terjun dan berkiprah dalam gerakan. Satu diantaranya menjadi tokoh nasional dan terlibat langsung dalam Kongres Perempuan pertama di Indonesia yang diadakan di Yogyakarta pada 1928. Dia adalah Siti Munjiyah. Kakak kandung Siti Bariyah. Siti Munjiyah hadir dalam kongres perempuan mewakili HB Moehammadijah bagian ‘Aisyiyah.

Siti Munjiyah lahir pada tahun 1896. Berbeda dengan Siti Bariyah, Siti Munjiyah menempuh pendidikan di Madrasah Diniyah. Beliau sejak awal direncanakan menjadi kader di Muhammadiyah dan diharapkan membawa nama ‘Aisyiyah dalam kiprahnya di masyarakat. Harapan ini menjadi kenyataan dengan kemampuan orasi yang dimiliki oleh Siti Munjiyah. Kemampuan orasinya dinilai memiliki kesamaan dengan Haji Fachrodin yang tidak lain kakak kandungnya sendiri. Dengan kemampuan orasinya yang luar biasa, Siti Munjiyah kerap mengisi forum-forum baik di internal organisasi atau khalayak umum. Pada 20 November 1921, K.H. Ahmad Dahlan mengajak Haji Fachrodin dan Siti Munjiyah untuk menghadiri undangan dari Sarekat Islam (SI) cabang Kediri, Jawa Timur. Dalam forum tersebut, Siti Munjiyah mendapat kesempatan untuk berorasi. Beliau menyampaikan mengenai makna jilbab yang dikenakannya saat itu. Beliau dengan tegas menyampaikan jilbab ala haji perempuan yang dikenakannya tidak membuatnya malu karna itu adalah perintah agama Islam.

Selain menyampaikan makna jilbab, Siti Munjiyah berhasil memukau dan menerangkan kedudukan perempuan dalam Islam. Siti Munjiyah menerangkan, Islam tidak hanya diperuntukkan kaum lelaki. Bukan hanya lelaki yang harus menjalankan tapi perempuan juga harus menjalankannya dan memajukannya. Berikut ungkapan dari Siti Munjiyah yang menegaskan kesetaraan antara lelaki dan perempuan dalam Islam.

“Perempuan dan lelaki Islam itu masing-masing berhak berkemajuan dan berkesempurnaan, dan bahwasannya yang dikata kemajuan dan kesempurnaan ialah menurut hak batas-batasnya sendiri-sendiri.” (dikutip dari naskah pidato Siti Munjiyah dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22-25 Desember 1928, Yogyakarta).

Ungkapan itu disampaikan dalam orasinya di kongres perempuan yang posisinya kala itu menjabat sebagai wakil ketua. Orasinya ketika itu mengangkat tema “Derajat Perempuan”. Dari keterlibatannya di kongres perempuan dan pengalamannya mengisi di banyak forum, Siti Munjiyah menjadi pengurus yang paling biasa diundang dalam forum lintas agama. Dalam pidatonya, beliau tidak pernah menyinggung dan menjelek-jelekkan agama lain. Namanya cukup dikenal di banyak organisasi perempuan seperti Wanita Taman Siswa, Wanita Utama, Jong Java, dan sebagainya. Di ‘Aisyiyah, beliau menjabat ketua pada 1932 setelah kepemimpinan Siti Walidah. Kemudian pada kongres Muhammadiyah berikutnya, Siti Munjiyah kembali terpilih sebagai ketua dari 1933-1936. Beliau meninggal pada 1955. Setelah berjuang memimpin ‘Aisyiyah.

Halaman 3 dari 8