Tingkatkan Produktifitas Lansia

29 Desember 2016 15:31 WIB | dibaca 714 | oleh: Suharma Asti Mulasari (Anggota Majelis Dikti Pimpinan Pusat 'Aisyiyah)

Manusia di lanjut usia (lansia) seringkali dianggap sebagai beban bagi suatu negara karena yang harus ditanggung oleh usia produktif (15060) pada suatu negara. Semakin rendah angka rasio ketergantungan suatu negara, maka negara tersebut makin berpeluang mendapatkan bonus demografi. Bonus demografi terjadi saat ketika jumlah penduduk dengan usia mudanya semakin mengecil dan penduduk usia lanjutnya (lansia) belum membesar. Indonesia disebut sedang menikmati bonus demografi, setelah itu, menurut teori seterlah mencapai bonus demoghrafi, jumlah penduduk lansianya akan membesar. Kondisi ini akan merugikan Indonesia, akan tetapi jka (penduduk) lansia bisa dipertahankan tetap produktif, itu akan jadi "bonus demografi kedua" dengan meningkatnya jumlah lansia.

cara-cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktifitas lansia adalah dengan: Pertama. meningkatkan kandungan gizi pada asupan makanan untuk seluruh masyarakat sejak dari janin. kekurangan gizi pada ibu hamil dan akan meningkatkan risiko penyakit denegeratif saat tua. Kedua. Menciptakan lingkungan sehat dan aman selama masa produktif sehingga usia harapan hidup terus meningkat. Lingkungan sehat dan aman meminimalisasi paparan penyakit, kesakitan, dan kecacatan. Ketiga. Adanya ketersediaan layanan, fasilitas, dan asuransi kesehatan. Jaminan tersebut akan membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya saat sakit, sehingga tidak ada masyarakat yang meninggal atau disabilitas karena masalah akses dan pembiayaan kesehatan. Keempat. Dukungan penuh pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam menjalankan program-program. 

Apabila cara-cara tersebut tidak segera dilakukan, dikhawatirkan Indonesia tiba saatnya akan memiliki lansia dengan banyak penyakit. mengingat kemampuan imunitas tubuh lansia akan berkurang sehingga mereka lebih mudah terserang penyakit. Masalah lansia tidak hanya terbatas pada fisik, namun juga psikologis. Sehingga agar mereka dapat menikmati masa tua dengan bahagia, keluarganya harus paham apa kebutuhanutama para warga usia lanjut ini. Lansia yang tidak mampu mengurus dirinya akan membebani ekonomi keluarga dan bangsa. Akibatnya bagi negara adalah sulitnya menjamin kehidupan lansia yang berkualitas dan produktif. Langkah-langkah strategis yang telah dilakukan dan dikonsepkan sebagai contoh adalah posyandu lansia, daycare lansia dan konsep kota layak lansia. 

Posyandu Lansia untuk Meningkatkan Kesehatan Fisik Lansia

Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut disuatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Kegiatan ini merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan khususnya pada penduduk usia lanjut. Posyandu lansia dapat meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat. Posyandu lansia ini memberikan kontribusi secara psikologis terhadap lansia yaitu media komunikasi antara orang lanjut. Sasaran program posyandu lansia ada dua, yaitu sasaran langsung dan tidak langsung. Sasaran langsung meliputi kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas). Sasaran tidak langsung meliputi keluarga  yang memiliki anggota keluarga lanjut usia dan masyarakat luas termasuk organisasi pemerhati.

Pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia dapat berbeda tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten/kota. Jenis pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada usia lanjut di posyandu lansia adalah sebagai berikut: a) Pemeriksaan aktivitas sehari-hari, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya, b). Pemeriksaan status kesehatan mental. Pemeriksaan status kesehatan mental, menggunakan pedoman metode dua menit, c). Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik Indeks Masa Tunuh (IMT), d). Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit, e). Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus), f). Pemeriksaan adanya zat putih teur (protein) dalam air seni sebagaideteksi awal adanya penyakit ginjal, g) Pemeriksaan hemoglobin, h) Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7. i) Penuluhan Kesehatan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang dialami lansia, j) Kegiatan tambahan seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia dan kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran.

Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di Posandu Lansia, dibutuhkan sarana prasarana penunjang, yaitu: tempat kegiatan, meja dan kursi, alat tulis, buku pencatatan kegiatan, timbangan dewasa, meteran pengukur tinggi badan, stetoskop, tensi meter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer, Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia. Beberapa kemungkinan kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu antara lain: a)Pengetahuan kesehatan yang rendah akan mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang. b) Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau akan menghambat lansia untuk mengikuti Posyandu lansia. c) Kurangnya dukungan  keluarga lansia untuk datang ke Posyandu menghambat lansia untuk datang ke Posyandu lansia.

Cara yang dapat dilaksanakan untuk mendukung keberhasilan program Posyandu Lansia  diantaranya adalah dengan memberikan penyuluhan baik kepada lansia ataupun pada masyarakat umum memiliki keluarga lansia. Pendekatan terhadap pemuka masyarakat untuk membantu memberikan dorongan kepada masyarakat dalam mensukseskan program posyandu lansia.

Day care Lansia Meningkatkan Kualitas Fisik dan Psikologis Para Lansia

Lansia perlu bersosialisasi dan berkumpul bersama dengan sesama lansia. Stres karena merasa sendiri dan kesepian selama di rumah jika tidak ada anak cucunya sering dialami oleh para lansia. Daycare lansia atau tempat penitipan lansia dapat menjadikan lansia menjadi lebih sehat. Mereka juga bisa melakukan berbagai aktifitas untuk melatih konsentrasi, kemandirian, dan bahkan melakukan hal-hal produktif.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di daycare lansia diantaranya adalah sosialisasi antar lansia, pendidikan lansia (penyuluhan dan program pendidikan lainnya), rekreasi di dalam (membuat kerajinan, merajut, karaoke dan sebagainya) atau di luar ruangan (kunjungan ke lokasi rekreasi misal museum), olah raga (senam lansia) atau kegiatan dengan fisioterapi (pijat).Fokus utama dari day care lansia ini sebenarnya adalah pada memperhatikan perkembangan emosional dari lansia.

Lansia memiliki kebutuhan untuk didengarkan, bertukar cerita dengan sesamanya sehingga lansia menjadi lebih bahagia dan berarti. Lansia dapat terhindar dari stres yang terpendam, terhindar dari ledakan emosi dan bersikap kekanak-kanakan, tidak cepat pikun, hingga terhindar dari ancaman stroke.