Ta'awun ‘Aisyiyah Membangun Bangsa

22 Juni 2020 12:21 WIB | dibaca 31 | oleh: Benni Setiawan (Anggota MPK PP Muhammadiyah)

Kiprah nyata‘ Aisyiyah dalam membangun bangsa telah terpatri sejak lama. ‘Aisyiyah telah menjadi bagian penting dalam tradisi pencerahan untuk bangsa. Salah satu kiprah yang mungkin jarang mendapat perhatian adalah usaha nyata ‘Aisyiyah memerangi Tubercolosis (TBC).

TBC masih menjadi masalah bagi bangsa Indonesia. Data menunjukkan tahun 2019 penderita TBC mencapai 845.000 orang. Sebagai penyakit menulis, angka itu cukup tinggi dan berbaya. Artinya, jika TBC tidak segera ditangani maka lingkungan sekitar dapat tertular. Data menunjukkan angka kematian akibat TBC adalah 67.000 kasus per tahun (Kompas, 30 Januari 2020). Itu artinya ada 5.583 kematian setiap bulan. Angka yang cukup tinggi.

Tingginya angka penderita dan kematian karena TBC membuat ‘Aisyiyah tergerak. ‘Aisyiyah bergerak berdasarkan nilai kemanusiaan. Menyelamatkan manusia dari segela penyakit. Sebuah spirit yang dulu dijadikan pihakan oleh Kiai Dahlan dalam membangun Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Spirit itu ditangkap oleh ‘Aisyiyah dengan gerakan bersama tanpa memandang sekat suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Inilah dakwah melintas batas yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah. Dakwah ‘Aisyiyah meneguhkan kemanusiaan dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Program menuntaskan TBC merupakan kerja jangka panjang ‘Aisyiyah. Kerja ini melibatkan ribuan kader. Kerja ribuan kader ini tentu tak lepas dari jejaring yang telah terbangun seabad lebih oleh ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah. Kader dan staff program TB ‘Aisyiyah ini merupakan aset Persyarikatan yang bekerja ikhlas. Artinya, program memberantas TBC yang dilakukan secara berkesinambungan, tidak hanya dalam bentuk ceramah, namun pendampingan secara kontinu tentu cukup berisiko bagi kader di bawah. Mereka mungkin dapat tertular. Namun karena spirit ikhlas dan ingin menyelamatkan orang lain, kader terus bergerak dari rumah ke rumah untuk memberi penyuluhan kepada mereka yang sakit dan rentang terkena TBC.

Gerakan penyuluhan dari rumah ke rumah ini pun akhirnya mendapat apresiasi dari museum record Indonesia (MURI). Pengakuan itu menjadi bukti bahwa gerakan ini tidak sekadar proyek, namun sebuah tindakan nyata mewujudkan hidup baik bagi semua.

Produktif

Apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah dalam program penanggulangan TBC imi menjadi bukti bahwa organisasi otonom khusus Muhammadiyah ini telah mempraktikan gerakan ilmu. Gerakan ilmu berarti ‘Aisyiyah turut serta dalam proses pencerdasan dan pencerahan bangsa. Sebagaimana tema Milad tahun ini, ‘Aisyiyah berkomitmen menjadi gerakan pencerahan untuk semua.

Program penanggulangan TBC oleh ‘Aisyiyah dilakukan dalam proses pemaknaan pencerahan dalam bidang kesehatan. ‘Aisyiyah mendorong hidup sehat agar umat dapat tercerahkan. Saat seseorang sehat, maka semua hal dapat dilakukan. Saat sehat pun seseorang dapat semakin produktif. Kesehatan menjadi modal utama bagi masyarakat untuk dapat bertahan hidup dan mewujudkan peradaban yang baik (baldatun thoyibatun wa rabbun ghofur).

Kesehatan keluarga pun menjadi mantra bagi terwujudnya kesejahteraan. ‘Aisyiyah sebagai kekuatan penyangga Republik dengan demikian secara nyata ingin mewujudkan cita-cita negara. 

Ta’awun

Bergerak bersama mewujudkan cita negara menjadi penanda ‘Aisyiyah sebagai gerakan amal. Gerakan amal sebagai perwujudan surat al-Ashr telah menjadi laku ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah. Gerakan amal sholeh inilah yang menjadi pembeda ‘Aisyiyah/Muhammadiyah dengan gerakan lain.

Program penanggulangan TBC ‘Aisyiyah didasarkan pada teologi yang jelas, bukan sekadar menghabiskan dana proyek. Teologi itulah yang menumbuhkan spirit pengabdian dan ringan membantu (ta’awun) orang lain. Teologi pun yang menjadikan kader bergerak, walaupun mungkin jika dihitung dengan uang/gaji tidak sebanding. Namun, karena spirit taawun itulah Allah menolong setiap gerak langkah kader (Q.S. Muhammad, 47: 7).

 

Evaluasi

Terakhir, program penanggulangan TBC ‘Aisyiyah merupakan perwujudkan gerakan perubahan. Gerakan perubahan itu dimaknai sebagai surat al-Insyirah (94: 7-8), yaitu setelah satu urusan, maka umat Islam untuk diminta segera beralih ke urusan yang lain.

Ayat di atas mendorong seseorang untuk selalu melakukan kebajikan dan terus melakukan kerja kemanusiaan itu. Persoalan kemanusian di Indonesia masih cukup banyak dan perlu sentuhan ‘Aisyiyah/Muhammadiyah.

Program penanggulangan TBC yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah perlu pencermatan/evaluasi. Evaluasi program menjadi hal penting, agar lembaga mempunyai sistem kerja baru. Melalui evaluasi kita dapat melihat apa yang kurang dan apa yang mungkin lebih. Apa yang kurang dapat diperbaiki pada program selanjutnya. Dan apa yang lebih dapat menjadi semacam best practices. Best practices itu menjadi sebuah sumbangan nyata ‘Aisyiyah dalam kiprah membangun bangsa dan negara.